
"Aku—”
"Selamat siang Nona," sapa Polisi Hartono yang menyela ucapan Citra. "Apa Nona yang bernama Citra?" tanyanya yang mana dianggukan oleh Citra. "Silahkan duduk."
Salah satu polisi mengambil kursi yang berada diujung, lalu menaruhnya di tengah-tengah antara Gugun dan Steven.
Melihat Citra melangkah menuju kursi tersebut, Steven dengan cepat menarik lengannya hingga membuat bokong gadis itu terjatuh dalam pangkuannya.
Steven merasa tak ikhlas melihat istrinya duduk di samping Gugun meskipun berjarak. Juga ada perasaan takut, takut jika nantinya Citra akan lebih memilih bersama Gugun dan kembali meninggalkannya.
Tidak! Steven tidak mau hal itu terulang. Bahkan sangking takutnya, tubuhnya kini bergetar.
Citra membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang suaminya lakukan. Dia pun berusaha untuk bangun sebab merasa malu, tetapi salah satu lengan Steven melingkar pada perut. Seolah menahannya.
"Apa yang Bapak lakukan? Biarkan Nona Citra duduk!" tegas Polisi Hartono sembari menatap kursi kosong. Dia terlihat tak menyukai dengan apa yang pria tampan itu lakukan.
"Ini Citra sedang duduk. Biarkan dia duduk di pangkuanku!" tegas Steven.
"Tapi tidak pantas untuk dilihat, Pak."
"Aku nggak peduli, aku takut kehilangannya!" Steven menggeleng cepat. Jantungnya langsung berdebar kencang dan kepalanya mendadak terasa sakit.
"Aku nggak pergi ke mana-mana Om." Citra menyentuh lengan Steven dengan lembut seraya menoleh ke arahnya. Dia mengulas senyum.
Tangan dan senyuman itu terasa begitu hangat. Lantas, dia pun mengangkat bokongnya. Lengan Steven perlahan-lahan sudah tak lagi menghalangi, tetapi dia terus menoleh pada saat istrinya duduk di sampingnya.
'Aku nggak mau kehilangan Citra lagi. Aku mau dia selalu bersamaku. Aku sangat mencintainya. Baru semalam aku melepas rindu dan menyusu, masa aku disapih lagi. Itu menyakitkan,' batin Steven dengan mata yang berkaca-kaca.
"Baik, boleh saya tahu alasannya kenapa Nona pergi bersama Pak Gugun untuk meninggalkan Pak Steven?" tanya Polisi Hartono sambil menatap Citra.
"Maaf, Pak. Tapi itu masalah pribadi. Aku nggak bisa menceritakannya." Citra menggeleng cepat. Jika diceritakan, yang ada dia mengingat rasa sakit itu.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Bukan maksud saya ingin ikut campur masalah rumah tangga Anda," kata Polisi Hartono sambil tersenyum tipis. "Tapi disini Pak Steven telah melaporkan Pak Gugun atas tuduhan membawa kabur Anda. Apa benar itu? Apa selama ini Anda dibawa kabur oleh Pak Gugun?"
Citra menggeleng cepat. "Aku nggak dibawa kabur sama Om Gugun, Pak."
"Jadi Anda memang sengaja pergi meninggalkannya dan meminta bantuan Pak Gugun?" tebak Polisi Hartono.
"Kalau pergi meninggalkan mungkin iya, tapi kalau meminta bantuan Om Gugun untuk meninggalkan Om Ganteng itu nggak, Pak." Citra menggeleng cepat. "Om Gugun yang memberiku saran dan aku mengikuti saran darinya."
Air mata Steven perlahan lolos membasahi pipi. Rasanya amat sedih mendengar apa yang Citra katakan. Tetapi dengan cepat dia pun menyekanya.
"Saya tidak akan bertanya tentang alasan Anda pergi meninggalkan Pak Steven, karena saya tahu itu konflik rumah tangga. Tapi apa hubungan Anda dengan Pak Gugun?"
"Dia asisten Ayahku."
Polisi Hartono terdiam beberapa saat sambil manggut-manggut, lalu berkata, "Sepertinya masalah ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Tidak perlu sampai ada yang masuk ke dalam penjara."
Mata Citra langsung mendelik kala mendengar kata 'penjara' dia tampak kaget. "Memang siapa yang mau dipenjarakan, Pak?"
Citra menoleh ke arah Steven dan seketika matanya kembali terbelalak. Lagi-lagi dia terlihat terkejut. Tetapi kali ini, rasa kagetnya lantaran melihat wajah Steven merah dan basah. Apa lagi di daerah pipi.
"Kok Om nangis? Kenapa?" Citra menjulurkan tangannya, lalu perlahan menyeka air mata Steven. Keningnya tampak mengerenyit, dia heran pada Steven yang menangis tanpa sebab.
"Kamu nggak akan meninggalkan aku lagi, kan?" tanya Steven. Wajahnya begitu sendu.
"Nona, apa Nona mau kembali lagi dengan Pak Steven?" tanya Gugun. Citra langsung menoleh ke sebelah kiri, di mana pria itu berada.
"Beri aku kesempatan sekali lagi, Citra ...." Steven mengenggam tangan Citra dengan erat. "Habis dari sini kita akan temui Fira. Aku akan mengatakan padanya kalau aku sangat mencintaimu. Aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu dan menjaga hatiku," pinta Steven memohon.
"Nona jangan mudah percaya begitu saja kepada Pak Steven. Dia itu tukang bohong. Seorang pria yang pernah menyakiti perempuan sekali ... akan berulang kali menyakitinya lagi," kata Gugun. Tatapan keduanya bertemu, dan dia begitu serius menatap bola mata Citra yang terlihat bergerak-gerak.
Ada kebimbangan di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku nggak akan menyakitimu lagi. Dan mulai sekarang aku nggak akan berbohong tentang hal apa pun padamu," ujar Steven yang masih berusaha untuk meyakinkan. Dia sampai sudah sesenggukan. Polisi yang berada di sampingnya memberikan secarik tissue, tetapi Steven sama sekali tak menerimanya. "Tolong percaya padaku sekali saja, beri aku kesempatan sekali saja, Cit."
"Jangan Nona!" Gugun menggeleng cepat. Sama halnya seperti Steven, dia juga berusaha meyakinkan Citra supaya gadis itu tak memilih untuk kembali bersama Steven. "Nanti Nona menyesal!"
Citra menoleh ke arah Steven, pria itu masih terus menangis. Dia pun terdiam beberapa saat, lalu menoleh lagi ke arah Gugun.
"Eeemmm aku .... aku mau memberikan Om Ganteng satu kali kesempatan, Om."
Meskipun memang masih ada dititik kebimbangan, tetapi nyatanya Citra sangat nyaman berada di dekat Steven. Memberikan kesempatan sekali yang dia yakini itu adalah kesempatan terakhir, mungkin tak ada salahnya. Citra juga mau melihat sebanyak apa Steven mencintainya.
"Iyes!!" seru Steven dengan penuh kebahagiaan. Sangking senangnya dia sampai terjungkal dari kursi. Cepat-cepat kedua polisi yang berdiri itu membangunkannya.
"Nona yakin?" tanya Gugun. Jawaban itu terdengar begitu mengecewakan dan jujur—di dalam dadanya terasa sesak.
Citra mengangguk. "Iya. Aku mau lihat Om Ganteng membuktikan cintanya padaku."
"Tapi saya nggak mau melihat Nona kembali disakiti."
"Berhenti menghasut Citra, Gun!" teriak Steven marah. Dia begitu muak mendengar apa yang Gugun katakan. Jelas memang, pria itu seolah menghasut Citra supaya tidak mau kembali bersamanya. Juga seakan-akan menjadi pria yang paling baik. "Hargai keputusan Citra! Biarkan aku dan Citra hidup bahagia tanpa campur tangan darimu!" tegas Steven.
Gugun membuang napasnya dengan berat. "Baiklah. Kalau memang Nona menginginkan untuk kembali ... saya hargai itu." Gugun tersenyum manis menatap Citra. "Tapi kalau sewaktu-waktu Pak Steven menyakiti Nona lagi ... saya akan selalu ada untuk Nona," tambahnya seraya menyentuh dada.
"Ayok sekarang kita pulang saja!" seru Steven. Dia pun lantas menarik tangan Citra hingga membuat gadis itu berdiri. Perutnya terasa mual dan ingin muntah, mendengar Gugun mengoceh. "Cepat buka borgolnya! Aku mau bulan madu dengan Citra!" titah Steven sembari menatap polisi di sampingnya.
"Baik, saya akan membukanya. Tapi Bapak dan Pak Gugun tidak boleh berantem lagi," jawabnya lalu membukakan kunci borgol.
Saat sudah terlepas, Steven langsung berdiri dan merangkul pinggang Citra. Steven menatap mata Gugun dengan tajam.
"Mulai sekarang ... jangan pernah kau ganggu rumah tanggaku lagi! Urus saja kehidupanmu sendiri!" tukas Steven dengan penuh penekanan. "Kali ini kau lolos, Gun. Tapi kalau kau berulah lagi dan mencoba-coba merebut Citra dariku ... aku akan mencukur kumismu! Rambutmu dan juga bulumu! Setelah itu baru aku membunuhmu!" ancamnya sambil melotot. Setelah itu, Steven pun langsung menarik tubuh Citra, lalu menghentakkan kakinya untuk pergi dari sana bersama-sama.
...Noh, denger Om Gugun. Udah takut belum sama ancaman Om Steven? 🤨...
__ADS_1