
"Jadi maksudmu, kamu mau Nissa menunggumu jadi duda dan sukses begitu?" Bukannya menjawab, Angga justru melontarkan pertanyaan baru.
"Iya." Tian mengangguk.
"Memang, kamu yakin, Nissa atau Juna mau menerima dan menunggumu?"
"Aku belum tahu, tapi aku akan berusaha sebisaku, Pak. Membuat mereka mau menerima dan menungguku. Dan restu dari Bapak tentunya sangat berarti." Tian menatap dalam Angga. Tatapan itu penuh arti dan memohon.
"Maaf, Tian. Tapi aku tidak merestuimu." Sesingkat itu jawaban Angga, namun mampu menyayat hati.
"Kenapa, Pak?" tanya Tian dengan dada yang sontak sesak. Tadi dia sempat merasa kalau Angga membawanya terbang, tapi secara tiba-tiba dia jatuhkan begitu saja. "Apa setelah aku jujur, Bapak belum percaya padaku? Manusia itu bukankah tempatnya salah, kan, Pak? Dan aku akan berusaha untuk berubah menjadi orang yang lebih baik lagi ke depannya. Aku juga akan membahagiakan Nissa dan Juna."
"Aku merasa kamu dan Nissa nggak cocok."
"Nggak cocok?" lirih Tian. Hatinya bak teriris, sakit sekali rasanya.
"Iya, aku juga sebenarnya sudah mendapatkan calon untuk Nissa."
"Apa calon itu yang bernama Rama?" Tian mengusap pelupuk matanya, supaya air mata yang menggenang di sana tidak berhasil jatuh. Sedih sekali, tetapi dia tak mau menangis di depan Angga. Takut dibilang cengeng.
"Iya. Dia anak temanku. Tapi kamu tahu dari mana?"
"Juna yang memberitahuku. Tapi kata dia, burungnya—"
"Angga!" seru seseorang yang baru saja datang, sehingga ucapan Tian mengantung di udara.
Angga menoleh, dan ternyata dia adalah Mbah Yahya. "Kamu sudah datang lebih cepat ternyata. Ayok duduk," pintanya seraya menatap kursi kosong yang berada di sampingnya. Pria berjenggot putih itu lantas duduk, lalu menatap Tian.
"Dia siapa, Ga?" tanya Mbah Yahya.
"Aku—"
"Dia Tian," sela Angga. "Dia teman SMAnya Nissa."
"Oh. Mau apa?"
"Sebentar ...." Angga menjeda obrolannya dulu dengan Mbah Yahya, sebab dia belum selesai mengobrol dengan Tian. Sekarang sorotan matanya menatap ke arah pria itu. "Aku minta padamu, mulai sekarang jauhi Nissa dan Juna. Aku nggak mau kalian dekat. Kalau bisa, kamu pindah rumah saja ke luar kota," sarannya.
__ADS_1
Tian terbelalak. "Apa sampai segitunya, Pak?"
"Ya."
"Kalau memang Bapak memintaku untuk menjauhi Nissa dan Juna, aku akan melakukannya. Tapi kalau untuk pindah rumah, aku nggak bisa." Tian menggeleng.
"Kenapa? Juna dan Nissa sudah tahu rumahmu. Aku nggak mau mereka berkunjung lagi ke sana."
"Mereka nggak akan berkunjung ke rumahku kalau Bapak melarangnya." Tian perlahan berdiri, lalu memanggil pelayan untuk membayar kopinya dan kopi milik Angga. "Sekali lagi aku minta maaf, kalau aku punya salah. Aku akan berusaha menuruti permintaan Bapak kalau memang itu yang terbaik untuk Nissa dan Juna." Merogoh saku jasnya, kemudian memberikan sebuah amplop coklat di atas meja ke arah Angga. "Aku titip ini untuk Nissa, itu adalah nominal uang yang Nissa berikan kepada pihak rumah sakit dan aku mengembalikannya. Selamat pagi Pak Angga, kalau begitu aku permisi."
Tian tersenyum kepada Angga, lalu beralih sebentar ke arah Mbah Yahya. Setelah itu dia pun melangkah pergi dari sana. Membawa semua rasa kecewa dan sedih yang berkecamuk di dalam dada.
'Lagi-lagi ditolak. Apa mungkin Nissa memang bukan jodohku ya, Allah? Tapi tolong jodohkan lah,' batin Tian sedih.
"Memangnya ada hubungan apa dia sama Nissa, Ga?" tanya Mbah Yahya.
Angga langsung menoleh ke arahnya. Lalu menyesap kembali kopinya. "Nggak ada hubungan apa-apa. Dia hanya teman SMAnya Nissa. Tapi Juna sempat mau dia jadi Papi barunya."
"Lho, kok begitu? Katanya Rama yang akan jadi menantumu, Ga," ujar Mbah Yahya dengan sendu.
"Itu dia alasan aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin bertanya tentang Rama."
"Maaf sebelumnya, Ya. Bukan maksudku untuk menyinggung. Tapi aku hanya penasaran dengan apa yang Juna katakan kemarin. Dia bilang, kalau ...." Angga menghentikan ucapannya terlebih dahulu untuk mengamati sekitar. Dia tak mau jika obrolannya di dengar orang lain, sebab ini begitu sensitif. Perlahan Angga mendekat, lalu berbisik, "Kalau burungnya Rama nggak bisa berdiri, dan Juna tahu itu dari guru TKnya."
Mbah Yahya sontak terbelalak. Ternyata benar dugaan dia sebelumnya. Ini mengenai burungnya Rama.
"Ah kamu ini, ada ada saja," ujar Mbah Yahya sambil terkekeh. Dia berniat tak akan jujur. Selain karena malu, dia juga yakin—jika burung Rama akan berdiri dengan sendirinya kalau sudah melihat Nissa telanjang. Dan itu berarti mereka memang harus menikah. "Nggak mungkinlah burung Rama nggak berdiri. Dia pria normal, Ga," tambahnya.
"Syukurlah kalau begitu." Angga bernapas lega. "Tapi, kenapa gurunya Juna berkata seperti itu? Dan apa dia mengenal Rama?"
"Dia itu temannya Tari, almarhumah menantuku. Gisel memang suka bergosip tapi apa yang dia katakan nggak benar, Ga."
"Oh begitu. Jahat juga, ya, mulutnya. Apa dia nggak punya anak cowok? Kok tega banget memfitnah orang."
"Dia kayaknya belum punya anak. Masih muda juga, mungkin seumuran dengan Citra."
"Kamu berarti mengenalnya juga?"
__ADS_1
"Aku nggak mengenalnya, Rama juga iya. Cuma kemarin ... aku sempat mendatangi apartemennya. Aku tegur dia supaya nggak menyebarkan gosip lagi."
"Itu bagus. Memang harus ditegur supaya dia nggak bertingkah lagi, Ya," kata Angga.
"Iya."
***
Di rumah Angga.
"Jun! Juna! Buka pintunya, Sayang. Ayok makan, ini sudah siang!" pekik Nissa seraya mengetuk dan menurunkan handle pintu.
Sejak pagi saat Juna berlari dari ruang makan, bocah itu masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu. Nissa kalah cepat untuk menyusul, hingga sampai pukul 12 siang bocah itu belum juga membukakan pintu.
Dia merasa khawatir, ditambah tak ada sahutan dari dalam sana.
"Masih belum dibuka juga, Nis?" tanya Sindi dengan kaki yang melangkah menghampiri. Dia juga ikut serta membujuk Juna untuk membuka pintu, dan sempat meminta Bibi untuk mencari kunci serep di gudang penyimpanan.
"Iya, Ma. Nggak dibuka-buka," jawab Nissa dengan wajah frustasi. Dahinya berkeringat dan dia sejak tadi menarik turunkan gagang pintu.
"Bibi lagi mencari kuncinya di gudang, Nis. Kalau nggak ada kita dobrak saja."
"Siapa yang mendobraknya nanti? Papa dan Steven 'kan nggak ada, Ma."
"Ada Bejo dan Dono. Mama akan menyuruh mereka."
"Permisi, Bu." Bibi pembantu baru saja menghampiri dengan wajah yang terpenuhi keringat. "Coba pakai ini, siapa tahu cocok." Menyerahkan sebuah kunci. Sudah bolak balik dia mencari kunci kamar itu, dan sayangnya belum ada yang cocok.
Nissa mengambilnya, lalu memasukkan kunci itu ke dalam lubang. Namun sayangnya, tidak cocok.
"Nggak cocok," kata Nissa gusar.
"Bibi suruh Bejo dan Dono saja untuk mendobrak pintu," titah Sindi.
"Baik, Bu." Bibi pembantu mengangguk, lalu melangkah pergi dari sana.
Sindi segera mengambil ponselnya di dalam kantong celana, lalu menghubungi Angga.
__ADS_1
"Juna! Buka pintunya!" teriak Nissa.
...Maaf baru update, dan kayaknya hari ini cuma sebab 😢 Authornya lagi nggak enak badan soalnya....