
"Tapi, Pak, saya ...." Ucapan Nurul menggantung tatkala panggilan itu diputuskan oleh seberang sana. 'Bersembunyi di mana si Fira kira-kira? Kok bisa-bisanya dia kabur? Ah kamu ini, Fir, sudah salah tapi nggak mau bertanggung jawab. Pak Angga jadi makin kesal padamu,' batinnya seraya menyentuh kening. Mendadak kepalanya terasa berdenyut sakit.
Bukan Nurul tak peduli kepada Fira, hanya saja sepertinya dia sudah lelah dengan kelakuan anaknya selama ini.
Dia pun lantas melangkah ke arah jalan raya. Tetapi dia memilih untuk memesan ojek online. Sebab selain lebih murah daripada taksi, akan cepat sampai juga menurutnya.
'Sekarang aku harus ambil pakaianku dan pakaian Fira di rumah. Lalu mencari kontrakan. Eh, tapi bagaimana dengan kontrakan milik Bu Sindi? Apa aku juga sudah nggak bisa narik iuran sewa? Kalau begini mah berarti aku musti cari kerja dong. Tapi di mana kira-kira?' batinnya.
***
Di rumah Tian.
Satu keluarga itu tengah menyantap nasi goreng buatan Nissa di ruang makan. Juna begitu lahapnya makan sebab selain masakan dari Maminya, makan pun dia disuapi oleh Bahagia sekali hidupnya sekarang, memiliki orang tua lengkap.
"Papi hari ini kerja?" tanya Juna dengan mulut yang penuh. Dia memperhatikan Tian yang memakai stelan jas berwarna abu muda garis-garis. Wangi, tampan dan begitu rapih.
"Iya," jawab Tian dengan anggukan kecil. "Berangkat sekolah kamu bisa Papi anterin, tapi maaf, Jun ... kalau pulangnya Papi sepertinya nggak bisa jemput. Soalnya banyak kerjaan di kantor." Tian kembali menyuapi Juna. Setelah itu menyuapi mulutnya sendiri.
"Nggak apa-apa. Tapi Papi harus janji, ya, sesibuk apa pun Papi ... jangan sampai lupa sama Mami dan Juna," pinta Juna seraya mengenggam tangan Tian.
"Itu pasti Sayang, kamu nggak usah khawatir." Tian mengelus rambut kepala Juna.
"Oh ya, kalau misalkan kamu punya adik ... kamu mau, kan?"
"Memangnya Papi sudah kencingin Mami? Kok Juna nggak tahu?"
Tian menggeleng. "Belum kok. Ini Papi nanya dulu sama kamu, mau nggaknya."
"Mau aja, nggak apa-apa. Tapi Juna maunya adik cewek, ya, Pi."
"Kenapa memangnya?" Nissa yang bertanya. Dia juga masih mengunyah nasi goreng.
Semenjak menikah dengan Tian, rasanya Juna lebih banyak mengobrol dengan pria itu ketimbang dirinya. Tetapi Nissa merasa senang, sebab Juna sekarang lebih ceria daripada dulu.
"Ya karena pengen saja. Kalau cowok 'kan Juna sudah punya si Johan, Jordan sama si Upin Ipin. Kalau cewek cuma Jihan doang, udah gitu dia anaknya suka ngupil dan—"
__ADS_1
"Upin Ipin itu anaknya siapa?" sela Tian memotong ucapan anaknya. "Memang ada, sepupu kamu namanya Upin Ipin?"
"Itu si kembar, kan namanya Upin Ipin."
"Anaknya Om Steven itu Vano sama Varo, Jun. Bukan Upin Ipin," kata Nissa.
"Jelek ah, bagusan Upin Ipin. Lebih cocok juga karena mereka lucu." Seketika Juna terbayangkan wajah lucu si kembar. Rasanya dia juga ingin menjilati kedua pipinya. "Ah, Juna jadi pengen main deh, ke rumah Opa. Nyicip pipi si kembar yang manis. Pulang sekolah Juna ke sana ya, Mi, Pi."
"Boleh, nanti pulang sekolah Mami yang jemput kamu terus kita ke rumah Opa, ya?"
"Iya." Juna mengangguk.
"Oh ya, Jun. Papi rencananya sebelum ke kantor mau jenguk Papi Abi. Kamu mau ikut nggak?" tawar Tian.
Sengaja dia hanya mengajak Juna, sebab dia berpikir jika Nissa tak akan mau menjenguk mantan suaminya.
Selain itu Tian juga tak mau kalau nantinya cemburu saat melihat interaksi di antara keduanya. Bisa saja Nissa masih menyimpan benih-benih cinta kepada pria itu, mengingat dia juga sadar diri jika Abi jauh lebih tampan darinya.
"Nggak ah." Juna menggeleng, kemudian menenggak segelas susu putih hangat.
"Kamu pergi saja ikut. Kata dokter kemarin bukannya dia kritis?" ujar Nissa.
Sebab tak ada mantan orang tua di dunia ini.
Hanya saja baru sekarang, dan Nissa juga merasa heran. Bisa-bisanya Abi datang ingin mengajak Juna jalan-jalan sampai berantem dengan segala.
Aneh, sebab menurutnya itu tak seperti biasanya. Kemarin-kemarin dia kemana saja? Sampai dulu Juna sempat dirawat di rumah sakit karena demam tinggi tetapi dia yang sudah dihubungi malah tidak mau datang dengan alasan sibuk.
Begitu miris sekali, Nissa juga melihat dengan jelas kalau Juna sampai menangis terisak waktu itu.
"Nggak mau, nggak penting." Juna menggeleng cepat, kemudian menatap Tian. "Papi juga ngapain jenguk segala? Papi Abi 'kan di sana ada istrinya. Mending Papi langsung ke kantor saja, daripada buang-buang waktu," saran Juna.
"Papi datang mau minta maaf. Ya sudah kalau kamu nggak mau ikut. Papi nggak maksa, biar Papi pergi sendirian."
"Papi perginya ajak Opa saja. Biar nanti Opa bantuin Papi."
__ADS_1
"Bantuin gimana?" Kening Tian mengerenyit. Tak paham dengan apa yang bocah itu katakan.
"Ya bantuin, kali aja Papi Abi berniat ingin mencekik Papi lagi."
"Nggak mungkinlah, Jun. Papimu 'kan lagi sakit. Lagian Papi datang juga karena ingin berdamai. Papi kepikiran terus dari semalam, takut dia kenapa-kenapa." Tian yakin, jika Abi sampai kehilangan nyawa pasti dia akan terseret ke penjara. Keluarga atau istrinya tak akan terima.
"Ah Papi lebay. Orang dia baik-baik saja kok." Juna mengerucutkan bibirnya. Moodnya seketika buruk kala membasah tentang pria itu.
***
Sementara itu di ruang rawat VVIP nomor 90 pada Rumah Sakit Harapan, Abi baru saja dipindahkan sebab kondisinya sudah membaik meskipun masih dibantu ventilator oksigen.
Perlahan kedua mata itu terbuka. Memiringkan kepalanya ke arah kanan pada saat Aulia baru saja berdiri dan melangkah menghampirinya.
"Kamu sudah sadar, Mas?" tanya Aulia kemudian menarik kursi kecil di dekat ranjang dan duduk di sana. Mata Abi beralih menatap pada sekeliling ruangan itu, lalu terhenti di pintu.
"Di mana Arjuna?"
"Di rumahnya lah, masa si sini," jawab Aulia malas.
"Siapa yang membawaku ke rumah sakit?"
"Sopirnya mantan istrimu."
"Juna nggak ikut?"
"Nggak." Aulia menggelengkan kepalanya. "Cuma Ibu Kepala Sekolahnya saja. Tapi kemarin Juna juga ada di rumah sakit, kayaknya sih mengantar Papi barunya yang mau diperiksa ke Dokter."
"Dia mengantar Papi barunya ke rumah sakit tapi nggak menjengukku? Tega sekali dia," geram Abi dengan dada yang sontak terasa panas. Seketika dia pun mengingat perkataan Juna yang mengucapkan kalau dia sudah menjadi mantan Papinya. Sakit sekali rasanya hati ini.
"Iya, dia 'kan memang anak kurang ajar. Nggak sopan juga seperti kurang didikan. Mangkanya Mas, sudah deh nggak usah berniat membawa Juna ke rumah. Apalagi tinggal bersama kita, aku nggak suka padanya," cicit Aulia dengan wajah merengut.
"Aku juga nggak mau sebenarnya, membawa dan mengajak dia untuk tinggal bersama kita. Tapi ini 'kan gara-gara kamu juga," gerutu Abi dengan tatapan sinis.
"Kok gara-gara aku?"
__ADS_1
"Ya iyalah, coba kamu ...."
...Bersambung 🤣...