Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
322. Apa salahku selama ini?


__ADS_3

"Amin. Nanti Mami sampaikan. Kamu hati-hati di sana, ya?"


"Iya. Mami dan Papi juga, ya?"


"Iya." Nissa pun memutuskan panggilan, lalu menaruh benda pipih itu ke dalam tas dan langsung dia jinjing.


"Juna kenapa, Yang?" tanya Tian seraya turun dari mobil bersama Nissa.


"Nggak kenapa-kenapa, dia cuma bilang kalau dia sayang sama kamu," jawab Nissa.


"Aku juga sayang sama dia."


"Pak, sekarang Bapak ke sekolahnya Juna." Nissa berbicara kepada sopirnya yang berdiri di pintu mobil, habis membukakan pintu. "Jemput dia pulang dan antarkan ke rumah Pak Dono. Tapi sebelum itu, belikan makan siang dulu untuk dia dan kedua temannya, ya?"


"Baik, Bu." Sopir itu mengangguk. Kemudian masuk kembali ke dalam mobil.


Setelah kepergiannya, Tian dan Nissa melangkah bersama-sama menuju pintu utama rumah panti itu. Kebetulan pintunya terbuka lebar dan terdengar suara berisik anak-anak.


"Assalamualaikum," ucap Tian dan Nissa berbarengan.


"Walaikum salam," sahut wanita berhijab yang duduk di ruang tamu. Dia adalah Wiwik. Perlahan dia pun berdiri kemudian melangkah menghampiri Tian dan Nissa lalu memperhatikannya. "Wah ada tamu, silahkan masuk Pak, Bu," ucapnya sambil tersenyum.


Tian dan Nissa mengangguk. Mereka pun sama-sama melangkah masuk dan duduk di sofa panjang.


"Anak-anak, sini!" pinta Wiwik seraya menggerakkan tangannya kepada 5 anak panti laki-laki yang tengah bermain mobil-mobilan. Usia mereka rata-rata sebaya Juna. "Salim dulu sama Om dan Tante."


Kelima bocah itu menoleh, lalu berdiri dan mendekat ke arah Tian dan Nissa. Mereka menyalami punggung tangannya bergantian.


"Sebentar, ini buat kalian jajan." Tian mengambil dompet pada kantong celananya. Kemudian memberikan 5 lembar 50 ribuan ke tangan mereka masing-masing.


"Terima kasih, Om. Semoga rezeki Om lancar." Salah satu dari mereka mewakili.


"Amin, Om juga minta kalian do'akan supaya jasad anak Om yang bernama Tina cepat ketemu, ya?"


"Nama Om siapa?" tanya anak laki-laki yang lain.

__ADS_1


"Tian Siregar."


"Nanti habis sholat kami akan do'akan," balasnya."


"Terima kasih." Tian mengusap satu persatu puncak rambut beberapa bocah itu, kemudian tersenyum.


"Kalian sekarang ke ruang makan. Pasti Bu Nurul sudah selesai masak," ujar Wiwik.


"Iya, Bu." Mereka semua menjawab secara bersamaan, kemudian berlari menuju ruangan sebelah.


"Jadi benar, Mama Nurul kerja di sini, Bu?" tanya Tian menatap Wiwik.


"Bapak kenal Bu Nurul?" Wiwik berbalik tanya.


"Kalau benar orang yang sama, dia mantan Mama mertuaku. Kebetulan ... kedatangan kami, ingin bertemu dia, Bu, kalau boleh."


"Tentu boleh. Saya kira Bapak dan Ibu mau adopsi anak." Wiwik tersenyum lalu berdiri.


"Alhamdulillah, kami sudah punya anak, Bu." Nissa yang menjawab.


"Ah bukan, maksudnya anak kami memang sudah lahir." Nissa tersenyum canggung. "Kami punya dua, satunya 7 tahun dan satunya masih bayi tapi sudah meninggal."


"Innalilahi. Kasihan sekali, semoga segera diberi momongan selanjutnya ya, Pak, Bu. Sebentar ... saya akan panggilkan Bu Nurul." Wiwik pun melangkah pergi.


"Amin, Bu," jawab Tian dan Nissa bersama. Perlahan tangan Tina menyentuh perut rata istrinya.


"Semoga cepat jadi hasil bercinta kita, Yang. Perempuan bernama Melati," ucap Tian.


"Amin. Semoga saja kecebongmu cepat jadi, Yang." Nissa mendekat, lalu secara tiba-tiba mengecup bibir sang suami.


Wajah Tian langsung merona. Kecupan bibir yang terasa hangat walau sebentar membuat hatinya terasa tenang untuk saat ini. Nissa memang paling pintar dalam segala hal untuk menyenangkan hati Tian.


"Tian, kamu ke sini?" tanya Nurul yang baru saja datang bersama Wiwik.


Akan tetapi setelah wanita itu duduk di sofa single, Wiwik memutuskan untuk masuk lagi ke rumah sebelah. Sebab menurutnya tidak sopan jika dia ikut gabung.

__ADS_1


"Iya, Ma." Tian bangkit sedikit untuk mendekat ke arah Nurul lalu mencium punggung tangannya. Setelah itu dia duduk seperti semula. "Kenalkan, dia Nissa istriku, Ma." Tian menatap ke arah Nissa, wanita itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Nurul untuk mengajaknya berkenalan. Akan tetapi sama sekali Nurul tak menanggapi. Wajahnya juga tampak masam.


"Mama sudah tahu dia, kok," jawabnya dengan ketus. Entah apa sebabnya Nurul terlihat tidak suka dengan Nissa, padahal disini Nissa bahkan baru pertama kali bertemu dengannya.


Jadilah Tian yang meraih tangan sang istri, lalu menciumnya dan merangkul bahu.


"Kamu ada perlu apa mau ketemu Mama?" tanya Nurul.


Tian perlahan membuang napasnya dengan kasar. "Jujur ... aku sangat kecewa sama Mama dan Fira. Kenapa kalian begitu tega menipuku," lirihnya dengan sendu.


"Menipu apa maksudnya?" Nurul mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa Mama memberitahu makam kosong? Ke mana jasad anakku dimakamkan? Ke mana Tina, Ma?!" cecar Tian. Emosinya kembali naik ke ubun-ubun.


"Makam kosong? Apa sih maksudnya? Mama nggak ngerti."


"Kemarin lusa, aku datang ke makamnya Tina. Tapi ternyata ... tanah makam Tina adalah tanah milik orang lain. Terus tadi pagi ... aku membongkar makam itu, berniat ingin memindahkannya di makam dekat Kakak dan orang tuaku. Tapi setelah digali, ternyata makam itu adalah makam kosong. Apa, apa maksud Mama dan Fira melakukan hal ini kepadaku?! Kenapa kalian menipuku!" berang Tian yang sudah tersulut emosi. Matanya merah begitu pun wajahnya.


"Kalian tega sekali, saat Fira keguguran aku bahkan nggak dikasih tahu. Sampai sekarang kalian terus membohongiku! Apa salahku selama ini sama Mama dan Fira?! Kenapa kalian begitu jahat kepadaku? Kepada anakku yang nggak berdosa. Kenapa, Ma!!!" geram Tian. Dia meremmas dadanya yang terasa sakit. Buliran air mata itu kembali mengalir membasahi pipinya.


Nissa langsung mengusap air mata Tian, lalu mengelus dadanya.


"Mama nggak tahu tentang makam Tina yang kosong, Ti. Mama nggak tahu apa-apa," jawab Nurul.


"Mama bohong!" teriak Tian tak percaya.


Padahal, Nurul memang benar-benar jujur, dia tak tahu menahu soal itu. Bahkan saat Fira hendak melahirkan saja dia tidak mengetahuinya.


"Mama bersumpah, Ti. Yang tahu tentang bayimu hanya Fira dan dukun beranaknya, karena saat Fira melahirkan ... dia nggak memberitahu Mama," jelas Nurul. "Dan setahu Mama, Fira itu nggak keguguran. Dia melahirkan seperti biasa diusia kandungan 9 bulan. Hanya saja dia bilang ... kalau Tina itu pas lahir sudah nggak bernapas."


"Tapi Fira mengatakan kalau dia keguguran diusia 7 bulan, Ma," sahut Tian. Dia merasa bingung, yang benar siapa.


"Mama menemani Fira selama hamil, tapi memang Fira nggak pernah mau Mama ajak untuk periksa kandungan. Tapi Mama yakin, dia pas melahirkan usianya sudah 9 bulan, Ti. Karena Mama sempat menghitung terakhir kali dia periksa kandungan," jelas Nurul.


"Mending kita ke rumah dukun beranaknya saja, Yang. Dia pasti tahu," usul Nissa. Sejak tadi dia diam saja, tapi mencerna semua apa yang mereka bahas.

__ADS_1


...Enaknya si Fira suruh pulang ke Jakarta 😒 lagi apa, ya, dia kira-kira 🤔...


__ADS_2