
Dika berada disalah satu minimarket yang letaknya tak jauh dari apartemen. Dia sekarang tengah mencari-cari kond*m yang tipis tapi anti bocor, selain itu tentu dengan merk yang berkualitas.
"Yang mana, ya, kira-kira? Ah cek google saja dulu. Takut salah." Dika langsung merogoh kantong celananya, lalu mengambil ponsel dan mencarinya.
"Wah parah kamu, Dik!" Terdengar suara seseorang yang baru saja datang mengejutkan Dika. Hampir saja ponsel yang berada dalam genggaman terjatuh.
"Ah Pak Gugun! Ngagetin aja!" seru Dika dengan keterkejutannya. Seseorang yang berbicara tadi ternyata Gugun. Dilihat tangan pria berkumis tipis itu memegang mie instan, yang memang kebetulan rak tempat k*ndom dan mie berdampingan.
"Maaf. Tapi ngapain kamu beli k*ndom segala? Bukannya kamu belum nikah, ya? Oh ... apa jangan-jangan ...." Gugun menunjuk wajah Dika dengan tatapan curiga.
"Bukan buat saya, Pak," sergah Dika dengan cepat. "Tapi buat Pak Steven. Ah saya sampai lupa kalau disuruh buru-buru. Saya duluan ya, Pak." Dika bergegas menuju kasir, tapi sebelum itu dia mengambil satu kotak k*ndom dengan asal. Entah merk apa yang dia ambil, tapi ada gambar resleting yang terbuka pada kemasannya.
"50 ribu, Pak," ujar penjaga kasir sambil tersenyum malu-malu. Dia seorang gadis cantik berambut pendek. "Sebelum ngapel ke pacar musti beli begituan dulu ya, Pak, biar enak," tambahnya sambil terkekeh.
"Apaan sih, Mbak, orang aku jomblo!" ketus Dika. Cepat-cepat dia memberikan uang nominal pas, lalu mengambil benda itu kemudian berlalu pergi.
"Ini struk belanjaan ...." Gadis itu menggantung ucapannya sebab Dika sudah pergi.
"Ah Pak Steven nih tega. Masa perjaka ting-ting kayak aku suruh beli k*ndom, malu lah!" gerutu Dika yang kini mengemudikan mobilnya dengan penuh kecepatan. Menuju apartemen Steven.
*
*
*
Sesuai apa yang diperintahkan Steven, dalam waktu 20 menit Dika sudah sampai di depan apartemennya. Bahkan sekarang tengah berdiri sambil memencet bel.
Ting, tong!
__ADS_1
Ceklek~
Tak menunggu waktu yang lama, pintu itu pun dibuka dan Steven lah yang membukanya. Wajah pria itu tampak berkeringat dan basah, napasnya terdengar memburu.
"Mana?" Tangan Steven menadah ke arah Dika. Sejak tadi dia menunggu sambil melakukan pemanasan dan sekarang sudah tak sabar.
"Ini, Pak." Dika merogoh kantong celananya, lalu memberikan ke tangan Steven.
"Yang paling tipis dan anti bocor sesuai keinginanku, kan?" tanya Steven.
"Iya, Pak." Dika tidak tahu, tapi cari aman lebih baik mengiyakan.
"Uangnya aku ganti besok. Terima kasih," ucapnya kemudian masuk lagi ke dalam. Kemudian mengunci pintu.
Ceklek~
Steven menuju kamarnya, dia langsung menutup pintu rapat dan menguncinya. Setelah itu cepat-cepat melepaskan satu persatu pakaian di tubuhnya.
"Ada k*ndomnya, A?" tanya Citra seraya duduk.
"Ada dong. Masa nggak ada." Steven duduk di atas kasur, lalu membuka kotak kecil di tangannya. Isinya ada 5, Steven mengambil salah satu kemasan plastik itu kemudian membukanya. "Aku baru pertama kali pakai begini, nggak yakin bakal enak kayak biasa, Cit." Tak perlu membaca aturan pakai sepertinya Steven sudah paham, sebab hanya dipakai untuk membungkus si Elang saja.
"Pasti enak, A," sahut Citra dengan yakin. "Tapi ini kita bercinta di depan si kembar? Nanti kalau mereka bangun gimana?" tanyanya ragu. Steven sudah merangkak naik ke atas tubuhnya, lalu menyingkap selimut.
"Bercintanya jangan berisik, jangan sambil mendesaah." Steven langsung meremmas dada Citra dengan gerakan memutar, lalu memilin puncaknya.
"Mana bisa, A? Mendesaah 'kan refleks."
"Nanti sambil ciuman deh." Steven membuka kedua paha Citra lebar-lebar. Dia elus-elus terlebih dahulu permukaannya sebelum melakukan penyatuan. Terasa begitu lembab sekali apem itu.
__ADS_1
"Pelan-pelan ya, A, takutnya sakit."
"Iya, Sayang." Steven mengecup bibir Citra. Dengan penuh kelembutan dan sensasi mengelus-elus, dia pun mencoba menekankan si Elang.
"Aaww!" Citra memekik saat merasakan ngilu. Wajar saja, saat melahirkan dia sempat mengalami jahitan lantaran mengalami robek sedikit.
"Tahan Sayang, anggap saja aku perawin kamu lagi."
Citra meremmas kedua bantal yang menyangga kepala. Pelan tapi pasti akhirnya Steven berhasil memasukkan si Elang dengan sempurna.
"Ah," desah Citra pelan.
"Baru masuk, tapi enak dan sudah kejepit aku, Cit," ucap Steven dengan bola mata berbinar.
Aktivitas bercinta adalah hal yang paling dia sukai. Benar seperti terjepit. Tapi miliknya seperti terganjal sesuatu, mungkin karena terbungkus k*ndom.
Citra hanya menyahuti dengan anggukan lemah.
Steven langsung membungkukkan badannya untuk menyesap salah satu puncak dada Citra. Kemudian mulai bergoyang.
Mungkin baru tiga kali hentakkan, tapi tiba-tiba saja terdengar suara isakan tangis Vano dari dalam ranjang bayinya.
"Oe! Oe! Oe!"
Entah ada apa gerangan sehingga membuatnya menangis. Tapi tak lama Varo yang baru saja terbangun ikut menyusulnya untuk menangis.
"Oe! Oe! Oe!"
Steven yang mendengar langsung berdecak kesal, tapi dia belum mengakhiri goyang ngebornya.
__ADS_1
'Ish kalian ini! Orang baru mulai malah nangis, nanti dulu kek orang mah!' gerutu Steven dalam hati. Mulutnya masih sibuk menyusu.
...Tunda dulu Ayah, ngalah sama anak 🤣...