
"Memang Om mau aku masakin apa?" tanya Citra dengan gugup, entah mengapa dia tiba-tiba merasa takut. Takut kalau tantangan dari Steven gagal dan jujur memang dia tidak bisa masak apa-apa.
"Yang mudah saja dulu, masak nasi dan telur dadar."
"Iya, aku buatkan." Citra mengangguk patuh lalu berdiri, tetapi Steven merasa aneh sebab gadis itu malah berjalan menuju kamarnya.
"Kamu mau masak di kamar?" tanya Steven yang mana membuat langkah Citra terhenti diambang pintu. Steven tahu bagaimana konyolnya Citra. Jadi dia berpikir kalau Citra akan masak di dalam kamar.
"Nggaklah, Om. Aku masak di dapur."
"Terus ke kamar mau ngapain?"
"Mau ambil ikat rambut."
"Oh."
Citra berlari masuk ke dalam kamar, lalu mengambil ikat rambutnya di dalam laci nakas dan setelah itu menguncir rambutnya. Dia juga sekalian mengantongi ponsel pada saku bajunya.
"Kalau kamu bingung cari informasinya digoogle. Sekarang 'kan zaman modern. Kamu juga bukan anak TK yang apa-apa nggak tahu, apa-apa nggak ngerti," sindir Steven sambil tersenyum miring. Ucapannya terdengar begitu ketus, lantas dia pun berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
"Enak saja kalau bicara," gerutu Citra dengan bibir yang mengerucut. "Kebiasaan kalau ngomong, pait banget." Citra pun langsung menghentakkan kakinya, berjalan menuju dapur.
Saat sudah sampai dia menatap dapur yang tampak bersih dan mengkilap itu, beberapa perkakas dapur sangat lengkap di sana. Semuanya serba ada.
"Hal pertama yang aku lakukan apa, ya? Masak nasi dulu atau telur dadar dulu?" tanyanya pada diri sendiri.
"Masak nasi dulu lah, Cit," jawab seseorang yang entah siapa itu. Tetapi Citra langsung menoleh ke arah kanan tepat asal suara itu, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
"Siapa yang bicara?" tanyanya.
Tidak ada yang menjawab, hening.
"Om ...?"
__ADS_1
"Om Ganteng!" teriak Citra tetapi tak ada sahutan. "Ah, Om Ganteng pasti sedang mengerjaiku. Aku mau masak nasi dulu deh."
Citra mencari-cari tempat menyimpan beras, hampir semua tempat itu dia buka dan akhirnya dapat menemukannya. Sebelum itu dia ingat dengan ucapan Steven yang mengatakan kalau cari informasi digoogle jika bingung dan memang alasannya membawa ponsel adalah itu.
"Cara memasak nasi," ucapnya pada asisten google dan tak lama sebuah artikel dan juga video bermunculan.
Sementara di dalam kamar, Steven sudah selesai mandi dan memakai stelan kaos lengan panjang berwarna hijau tosca. Lantas dia pun menatap pantulan wajahnya pada cermin besar sembari menyisir rambut, lalu tak lama dia pun tersenyum manis hingga menampilkan lesung pipinya.
"Apa aku seganteng itu hingga Citra dan Fira suka padaku saat pertama kali bertemu?" tanyanya pada diri sendiri sembari meraba kedua lesung pipinya. "Sepertinya iya, aku memang ganteng," katanya penuh percaya diri. Segera dia pun berjalan keluar dari kamar, lalu melangkah menuju dapur.
'Kita lihat si Citra, bisa apa dia selain menangis?' batinnya penasaran.
Langkahnya seketika terhenti, matanya membulat sempurna kala melihat dapur kesayangan itu berantakan. Sudah seperti kapal pecah. Banyak beberapa pekakas dapur yang berserakan di atas meja, bahkan ada pula yang di lantai.
"Kamu itu masak apa berantakin dapur, Cit?" tanya Steven kesal, lalu berjalan menghampiri Citra yang memegang mangkuk besar berisi telur yang sudah dia pecahkan. Ada potongan cabe merah, rawit, bawang merah dan bawang putih di dalamnya.
"Maaf Om, aku mencari-cari alat memasak sesuai dengan apa yang aku lihat digoogle. Nanti kalau aku salah diomelin," jawab Citra dengan santai. Gadis itu lantas mengocok telur. "Tapi nanti aku bereskan lagi setelah selesai, Om tenang saja."
Steven menghela napasnya dengan kasar dan mengelus dada, ingin rasanya dia marah. Tetapi dia masih mencoba untuk bersabar. Dia pun berjalan menuju dispenser untuk mengambil air dingin.
"Sepuluh."
"Uhuk! Uhuk!" Steven langsung tersendak air yang dia telan saat mendengarkan jawaban itu, terdengar konyol. "Kamu masak telur sekilo buatku? Kamu mau aku bisulan?!" tanyanya emosi.
"Memangnya telur bisa bikin bisulan, ya? Dan aku masak telur ini bukan buat Om doang kok."
"Maksudnya?"
"Ya aku bikin telur dadar bukan buat Om doang, buat aku dan Om Satpam juga."
"Kenapa si Ajis kamu kasih juga?" tanya Steven yang entah mengapa tiba-tiba wajahnya menjadi merah.
"Ajis itu siapa?"
__ADS_1
"Om Satpam yang kamu bilang tadi, dia namanya Ajis."
"Oh, jadi Om Satpam itu namanya Ajis." Citra mengangguk-angguk lalu menatap tayangan video pada ponselnya lagi.
"Dih, aku tanya kenapa si Ajis kamu buatkan juga? Kok kamu nggak jawab?" tanya Steven marah. Dadanya tiba-tiba bergemuruh dan sesak.
"Soal itu." Citra terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Eemm ... maaf sebelumnya kalau aku berbohong, Om. Sebenarnya ini adalah pertama kalinya aku memasak. Dan aku mau bukan cuma Om saja yang merasakannya, tapi Om Ajis juga. Mungkin kalau ada Om Gugun di sini aku juga mau ajak dia. Kita makan bareng-bareng."
"Ngapain ajak mereka? Memang penting?" tukas Steven kesal.
"Bukan masalah penting nggaknya, kan aku sudah bilang supaya mereka dapat merasakan masakanku."
"Cukup aku saja yang merasakannya!" tegas Steven emosi, tangannya mengepal di atas meja.
"Tapi telurnya banyak. Katanya Om takut bisulan tadi."
"Nggak apa-apa bisulan juga, yang penting Ajis dan Gugun nggak boleh makan masakanmu!"
Citra menatap aneh pada Steven yang tiba-tiba teriak dan marah-marah. Dia tak paham dengan apa kesalahannya hingga pria itu terlihat begitu emosi. Tetapi dia memilih untuk meneruskan memasak.
Tangan Citra terulur menuju kompor, baru saja dia hendak menyentuh knop kompor, mau menyalakan api. Tetapi tiba-tiba tangan Steven sudah berada di sana dan pria tampan itu berdiri di belakangnya.
"Kayak bisa aja kamu nyalain kompor sendiri," cicit Steven. "Nanti tanganmu kena api nangis," tambahnya lagi.
Hidung Steven seketika mencium semerbak aroma tubuh Citra yang begitu wangi. Jarak mereka begitu dekat dan mata Steven langsung menatap pada tengkuk putih dan mulus milik Citra. Seketika dia pun menelan ludahnya dengan kasar dan entah mengapa tiba-tiba di dalam celananya terasa sesak.
Citra menaruh wajan dengan hati-hati, lalu menuangkan minyak sayur di atasnya. Tetapi tiba-tiba mendadak dia merasa geli pada tengkuknya, seperti ada yang menggelitik dan terasa basah.
Tangan Citra terulur ke belakang dan menyentuhnya. Namun malah mendarat pada rambut seseorang dan itu adalah rambut Steven. Pria itu diam-diam tengah menjilati tengkuk Citra.
"Om ngapain? Geli." Citra menggeliat dan menggeserkan tubuhnya dari Steven. Pria itu pun langsung terbelalak dan mengusap kasar wajahnya. Entah sedang apa dia tadi, tetapi dia juga merasa aneh pada dirinya sendiri mengapa bisa melakukan hal itu.
"Tengkukmu berkeringat, jadi aku mengusapnya," jawabnya beralasan. Lalu mengusap salivanya yang menempel pada tengkuk gadis itu.
__ADS_1
...Mana ada mengusap keringat pake lidah 🙈 ada-ada aja 🤣 bilang ada terpesona sama tengkuk mulus nan putih itu ðŸ¤...