Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
309. Zolim pada darah daging sendiri


__ADS_3

"Ada apa ini, Pak? Kok berdiri di depan makam anakku?" tanya Tian seraya menatap kelima bapak-bapak itu.


Tiga diantaranya memakai jaket hitam sedangkan yang dua memakai kaos polos pendek. Warnanya putih dan biru.


Mereka berlima langsung menoleh kepada Tian, Nissa dan Juna.


"Jadi Bapak ini Ayahnya almarhumah bayi ini, Pak?" tanya salah satu pria berjaket hitam.


"Betul. Aku Ayahnya, kenapa memangnya, Pak?" Tian menatap ke arah makam Tina.


"Ternyata anak Bapak dimakamkan di tanah milik bosku, Pak." Pria itu memberikan selembar surat tanah kepada Tian. Dia langsung membacanya. Ternyata memang benar, itu sudah atas nama milik orang lain bahkan sejak 10 tahun yang lalu. Benar-benar gila menurut Tian, bisa-bisanya Fira memakamkan anaknya di tanah milik orang tanpa izin pemiliknya.


"Ini tanah milik keluarga beliau, tapi Bapak kok memakamkan di tanah orang? Kenapa nggak ketempat lain?" tanya Pria berjaket yang lain.


"Maaf, Pak. Tapi bukan aku yang memakamkan anakku di sini. Tapi mantan istriku, aku nggak tahu apa-apa," jawab Tian jujur.


"Besok Bapak harus membeli tanah, soalnya tanah ini mau dipakai bosku. Makam anaknya yang ada di Tangerang mengalami longsor, jadi beliau akan memindahkannya di sini," saran pria berjaket.


"Jadi maksudnya, makam anakku harus dipindahkan?" tanya Tian. Ketiga pria berjaket itu mengangguk.

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Biar nanti yang memindahkannya kami, Pak," ucap pria berkaos biru. "Saya dan teman saya ...." Dia menatap ke arah pria berkaos putih. "Tukang gali kubur."


"Tapi kasihan kayaknya kalau dia harus dipindahkan." Tian menatap sendu batu nisan itu. Tak tega rasanya kalau makam itu harus dibongkar, kasihan.


"Kami beli saja tanahnya bagaimana, Pak?" Nissa membuka suara. Dan membuat ketiga pria berjaket itu menatap ke arahnya.


"Maaf, Bu. Tanah ini milik keluarga, dan kebetulan ... di samping kanan kirinya juga makam keluarga bos saya." Pria itu menunjukkan beberapa makan di sekeliling makam Tina dengan ibu jarinya.


"Tapi kasihan kayaknya, dia masih terlalu kecil. Baru 7 bulan pas lahir," ucap Tian.


Tian terdiam sejenak untuk memikirkan. Dan selang beberapa menit dia pun mengangguk pelan. "Ya sudah, tapi jangan besok deh, Pak. Lusa saja. Soalnya besok hari ulang tahun anakku." Mengusap punggung Juna. Dia tentu ingat janjinya, kalau Juna ingin menghabiskan waktu berdua bersamanya. "Aku kayaknya sibuk dan aku juga mau menyaksikan sendiri makam anakku dibongkar."


"Ya sudah, nggak masalah. Tapi bener lusa ya, Pak?" tanya pria berjaket. Tian mengangguk cepat.


"Besok Bapak hubungi saya saja kalau ingin menyewa jasa kami." Pria berkaos putih memberikan selembar kertas persegi empat kepada Tian. Itu adalah sebuah kartu nama.


"Iya, Pak." Tian mengangguk dan mengantongi kertas tersebut ke dalam saku jas.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu. Kami permisi, Pak, Bu. Selamat siang," ucap salah satu pria berjas.


"Siang." Tian dan Nissa menjawabnya secara bersamaan. Kemudian lima bapak-bapak itu berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Nanti dipindahkan di dekat makamnya almarhum Mbak Nina saja, Yang. Budenya Juna. Nanti aku bilang sama Papa," ucap Nissa.


Menurutnya, jauh lebih bagus anak Tian dimakamkan ke makam keluarga Prasetyo. Karena walau bagaimanapun, Tian sudah menjadi anggota keluarganya. Berarti Tina yang menjadi anaknya Tian pun sama.


"Nggak usah, Yang. Tina biar pindahkan didekat makam Ayahnya Citra saja. Ada makam Papa dan Mamaku juga soalnya di sana," sahut Tian. Perlahan dia menurunkan Juna lalu berjongkok di depan makam anaknya.


"Oh ya sudah kalau begitu." Nissa ikut berjongkok di samping Tian, lalu mengusap bahunya. Dilihat wajah pria itu tampak begitu sendu. Nissa memahami perasaannya. "Kamu jangan sedih, Yang. Nggak masalah kok makam dipindahkan. Makam ini masih baru juga, kan? Belum ada setahun."


Tian hanya mengangguk. Kemudian tak lama dia pun memanjatkan do'a serta menaburi bunga dan air mawar di atas sana.


Dia bukan hanya sedih karena kasihan kepada anaknya, akan tetapi karena Fira juga yang tega melakukan semua ini. 'Saat dia masih ada di dalam perut, kamu terlihat nggak menyayanginya, Fir. Sampai berniat ingin mengugurkannya.'


'Dan sekarang, setelah dia lahir lalu meninggal ... kamu dengan teganya memberikan tempat peristirahatan terakhir di tempat orang. Kalau kamu nggak punya uang ... tapi 'kan ada aku, Fir. Aku nggak mungkin sampai nggak mampu membeli tanah kuburan untuk anakku sendiri. Bisa-bisanya kamu begitu zolim pada darah daging sendiri. Padahal dia sudah tak bernyawa. Kasihan dia, Fir,' batin Tian kemudian menangis.


...Vote dan hadiahnya jangan lupa, sisipkan buat novel ini biar aku semangat ☺️🙏...

__ADS_1



__ADS_2