Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
182. Janda beranak satu


__ADS_3

Di rumah Tian.


Mendengar suara mobil milik suaminya diluar, gegas Fira pun melangkah cepat keluar rumah. Lalu menghampiri suaminya yang baru saja turun dari mobil.


"Bagaimana, Mas? Dapat duitnya?" tanya Fira dengan wajah ceria. Dia sejak tadi menanti-nanti suaminya pulang, tentu karena uang.


"Kamu, Fir, suami baru pulang malah ditanyain duit. Orang mah tawarin dulu minum. Aku haus tahu." Tian mendengkus kesal, dia pun melangkah masuk dengan wajah capek dan penuh keringat.


"Mas mau apa memangnya? Akan kubuatkan." Fira menyusul, berlari kecil menghampiri Tian yang kini duduk setengah berbaring di sofa panjang ruang tamu.


"Masih ada jus nggak di kulkas?"


"Nggak ada." Fira menggeleng.


"Ya sudah, buatkan es teh manis saja."


"Tehnya habis, Mas."


"Kopi."


"Kopinya juga habis."


Tian berdecak kesal, lalu mengusap keringat di wajahnya. "Air putih saja deh, kalau ada yang dingin."


"Iya, tunggu sebentar." Fira berlalu pergi, kemudian tak berselang lama dia pun kembali dengan membawa air dingin di dalam gelas. Lalu meletakkan di atas meja. "Setelah Mas istirahat, kita langsung pergi ke konter, ya? Beli hape."


Tian menenggak air minum itu sampai tandas, lalu mengulas sisa air di bibirnya.


"Iya, tapi kayaknya duitnya nggak cukup."


"Dih, kenapa memangnya? Nggak dikasih pinjam?" Raut wajah Fira langsung berubah. Semula ceria kini menjadi masam. Dia pun langsung duduk di samping suaminya.


"Dikasih. Cuma separonya. Mereka bilang duitnya hanya segitu."


"Berapa? 10 juta?" tanya Fira, Tian mengangguk. Dia menginginkan 20 juta sebenarnya. "Masa sih mereka ngasih segitu? Mas bohong, ya?"


"Sumpah, ngapain bohong. Nih kalau nggak percaya." Tian memperlihatkan layar ponselnya di depan wajah Fira. Di sana tertera jelas bukti pembayaran 10 juta.


"Tapi harga hape yang mau aku beli 16 juta, Mas. Terus bagaimana dong?"


"Belinya hape yang lain saja, atau kalau nggak nanti kalau aku gajian."


"Ish! Lama dong!" Fira merengut kesal. "Mas pinjam lagi saja sisanya ke orang lain."


"Orang lain siapa lagi? Itu saja kalau ketahuan Kak Tegar aku bisa diomelin, Fir. Malu tahu sebenarnya aku ngutang ke keluarga Mbak Ipar, apalagi dengan alasan untuk berobat kamu. Kamu 'kan nggak sakit apa-apa."

__ADS_1


Fira memang menyarankan supaya Tian beralasan seperti itu. Awalnya menolak, namun lama-lama luluh juga.


"Ya ke siapa kek."


"Ya siapanya siapa? Nggak usah ngaco, hutangku sudah banyak. Ini saja besok aku harus bayar hutang sama rentenir." Tian memijat alis matanya. Kepalanya itu mendadak pening.


Setiap hari, selain pekerjaan di kantor hal yang dia pikirkan adalah meminjam uang dan membayar hutang. Itu saja terus, rasanya bosan.


Namun, mau bagaimana lagi. Kalau tidak dituruti, Fira merajuk. Dia meminta untuk dipulangkan ke rumah orang tuanya. Tentu Tian tidak mau. Menikahi Fira sangatlah susah, masa setelah dapat dia lepaskan begitu saja. Tak ikhlas rasanya.


"Ya sudah deh, tapi ada syaratnya," pinta Fira.


"Apa?" Tian menoleh.


"Mas mau, ya, dekati Mbaknya Pak Steven."


"Maksudnya?" Kening Tian mengerenyit. Tak paham dengan ucapan Fira. "Memangnya Steven punya Mbak? Bukannya dia hanya punya Kakak, ya?"


"Punya satu. Dia janda beranak satu, Mas."


"Maksudnya didekati itu apa? Kamu nyuruh aku pinjam uang sama dia?" tebak Tian, lalu menggeleng cepat. "Nggak mau ah, malu. Yang ada nanti aku dibully Steven."


"Bukan pinjam uang, tapi aku mau Mas pacaran sama dia."


"Kamu gila, Fir?" Aneh. Hal itu yang saat ini ada benak Tian. Baru kali ini ada seorang istri yang menyuruh suaminya untuk berselingkuh. Memang Fira ini sudah beneran gila sepertinya. "Baru dengar aku istri nyuruh suami selingkuh."


"Nggak mau." Tian menggeleng cepat.


"Kenapa nggak mau? Kan cuma pacaran doang."


"Pacaran doang apanya? Nanti kalau suka beneran bagaimana? Lagian aku juga nggak suka daun tua, Fir. Dan aku hanya suka sama kamu doang."


"Dia masih muda, umurnya sama seperti Pak Steven. Dan Mas dekati dia nggak perlu pakai perasaan."


"Aku nggak mau." Tian bersikukuh menolak, dia pun segera berdiri lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Tak mau meladeni ide konyol istrinya.


Fira langsung berlari mengejarnya, berusaha untuk merayu.


Saat Tian belum pulang, Fira memikirkan ide supaya cepat kaya. Kemudian tak lama teman sosialitanya menelepon dan mengajaknya bergosip. Gosip yang disebarkan oleh temannya itu ternyata adalah gosip perselingkuhan suaminya Nissa.


Fira sendiri baru tahu kalau Nissa janda, dia ketinggalan berita.


Dan setelah dipikir-pikir, menjadi janda kaya dan jomblo rasanya amat disayangkan. Lalu muncullah sebuah ide gila. Yaitu ingin menjadikan Tian sebagai umpan.


Kalau Tian berhasil menjerat Nissa dan mampu membuatnya jatuh cinta, otomatis wanita itu memberikan semua hal padanya. Termasuk uangnya. Dan pastinya itu akan membuat Fira diuntungkan di sini.

__ADS_1


***


Sore hari di rumah Angga.


Pria tua itu melangkah menuju dapur, lalu mengendus aroma sedap masakan. Menantu dan mertua itu tengah memasak menu makan malam.


Seperti biasa, Sindi mengajari Citra masak. Supaya cepat bisa dan pandai.


"Wih, wangi bener. Masak apa nih dua perempuan cantiknya Papa," puji Angga seraya mengambil gelas, lalu mengambil air dari kran. Dia membuka tutup botol obat perangsang burung yang sejak tadi berada dalam genggaman, lalu meneteskannya sebanyak 5 kali. Sesuai anjuran.


Angga ingin melihat Kevin segera kawin dengan Janet. Dan burung betina itu juga sudah resmi menjadi miliknya. Tadi, pria kribo sempat datang karena dihubungi Angga dan mereka sempat berbincang sampai akhirnya Angga membeli Janet.


Janet juga terlihat sudah sangat kebelet kawin, ya meskipun Kevin sendiri menolaknya.


Tak masalah bagi Angga, dia yakin—obat itu pasti bisa meluluhkan hati Kevin.


Citra yang tengah mengaduk masakan di atas wajan itu menoleh sebentar, lalu tersenyum melihat punggung Angga. "Buat rendang, Pa. Om Ganteng bilang dia pengen rendang."


"Papa juga pengen dong, bukan si tua Steven doang." Angga terkekeh. Selanjutnya dia pun mengambil tiga pisang di dalam kulkas, lalu mengupas semua kulitnya dan meletakkan di atas piring.


Namun, mendadak perutnya terasa melilit. Sepertinya ingin berak.


"Dedek, Mama. Papa titip air sama pisang. Jangan dimakan atau diminum, ya, itu buat Kevin!" teriak Angga lalu berlari menaiki anak tangga sambil menyentuh bokongnya. Takut jika ampasnya keburu keluar.


"Iya!" Yang menjawab Sindi.


Tak berselang lama, Steven datang menghampiri mereka. Dia telah pulang dari kantor.


Pria tampan itu pun langsung mendekap tubuh Citra dari belakang dan membuatnya sontak terperanjat. Sedikit lagi wajan itu hampir jatuh jika tidak cepat-cepat dipegang oleh Sindi.


"Ish kamu ini!" omel Sindi seraya mencubit kecil perut Steven. Pria itu pun memekik kesakitan. "Kalau jatuh kena kaki Citra bagaimana? Bahaya tahu!" berangnya marah.


"Iya iya, maaf." Steven mengerucutkan bibirnya, namun dia masih mendekap tubuh Citra dari belakang. Sedangkan istrinya masih sibuk dengan rendang yang sedikit lagi hampir matang. "Cit, mandi bareng, yuk. Aku gerah nih."


"Manja amat kamu, mandi tinggal mandi," cibir Sindi seraya menata perkedel di atas piring.


"Biarinlah, sama istri sendiri ini," balas Steven cemberut.


"Tapi Citra belum selesai masak itu, kamu awas kek!" titah Sindi seraya menepuk bokong Steven. Dia tampak kesal pada anaknya yang masih menempel di tubuh Citra. Bahkan pria itu dengan mesumnya sibuk menciumi tengkuk istrinya. Dilihat Citra seperti kegelian dan risih, namun dia diam saja. "Mesum banget! Tiap malam goyang juga!"


"Mama sirik aja. Kasihan nih, ya, gara-gara Papa kena encok Mama nggak bisa goyang setiap hari," cibir Steven sambil tertawa. Sindi langsung melemparkan sendok ke punggungnya.


Perlahan lengannya meregang hingga akhirnya dekapan itu melepaskan di tubuh Citra, lalu kakinya beringsut mundur.


Ekor matanya melirik ke arah segelas air dan buah pisang di atas meja. Tanpa berkata-kata, Steven langsung meraih gelas tersebut, lalu menenggak airnya sampai habis. Kebetulan dia memang haus. Kemudian, dia mengambil satu potong buah pisang dan melangkahkan kakinya pergi.

__ADS_1


"Aku tunggu 5 menit di kamar, ya, Cit!" seru Steven.


...Itu air kran kenapa diminum dah? Mana udah dicampur obat lagi 🤣🤣 wah, siap" Om Steven....


__ADS_2