
"Steven!"
Terdengar seseorang memanggil namanya. Dari suara yang berat itu Steven kenal. Perlahan dia pun menoleh.
"Ayah Danu," ujar Steven. Terlihat Danu tengah duduk di kursi taman dengan memakai setelan jas berwarna putih. Wajahnya tampak bercahaya tetapi terlihat jelas ada aliran air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Steven berjalan menghampiri, lalu duduk di sebelahnya dan menyeka air mata pria itu.
"Kok Ayah nangis? Ada apa?" tanya Steven yang tak mengerti alasan pria itu menangis.
Perlahan tangannya menyentuh punggung tangan Steven, lalu mengenggamnya dengan lembut.
"Kamu telah melanggar janji kita, Stev. Janji yang pernah kita sepakati!" serunya dengan wajah kecewa.
Degh!
Mata Steven membulat, jantungnya langsung berdegup kencang. Dia mengerti, mengerti dengan arah pembicaraan Danu.
Steven langsung menjatuhkan tubuhnya, dia bersimpuh seraya memeluk lutut Danu. "Maafkan aku, Ayah. Aku ... aku khilaf, aku benar-benar minta maaf."
Danu perlahan mencium rambut kepala Steven, lalu menarik lengannya dan mengajaknya untuk duduk kembali di sampingnya.
"Dengan kamu melanggar janji itu, berarti perjanjian kita batal, Stev."
"Batal? Batal bagaimana?" Kening Steven mengerenyit.
"Saat bangun nanti ... tolong robek surat kontrak itu. Kita batalkan perjanjian itu dan kamu bisa menjalani hidupmu tanpa beban."
"Bangun? Bangun bagaimana Ayah? Aku nggak lagi tidur."
Perlahan Danu mengusap puncak rambut Steven, lalu tersenyum manis.
"Kalau kamu bisa mencintai Citra, tolong pertahanan pernikahan kalian. Tapi kalau kamu nggak bisa mencintainya dan mempunyai perempuan lain di hatimu ... tolong lepaskan dia, Stev." Buliran bening pada sudut mata Danu kembali mengalir, begitu banyak membasahi pipinya. "Ayah sakit melihat Citra disakiti. Ayah sedih melihat Citra sering menangis. Ayah mau dia bahagia, tapi Ayah juga nggak mau membuatmu tertekan. Ayah sayang sama kalian berdua."
Danu pun berdiri sembari menyeka air mata di pipinya, perlahan dia pun melangkah pergi.
__ADS_1
"Ayah ... Ayah mau ke mana?" tanya Steven. Dia berlari mengejar Danu. Pria itu berjalan makin cepat, sangat cepat hingga tiba-tiba saja menghilang entah kemana.
"Ayah!" Steven menghentikan langkahnya sambil menoleh ke kanan dan kiri. Suasana taman itu cukup sepi dan tak ada siapa-siapa.
"Ayah!"
"Ayah!"
"Ayaaahhhh!"
Steven sontak membuka matanya dengan lebar. Napasnya langsung terdengar naik turun dan seluruh wajahnya basah karena keringat.
'Apa aku mimpi? Dan di mana aku?' Steven menatap sekeliling kamar itu dan tak lama beberapa orang datang menghampirinya. Dia adalah Sindi, Angga dan Fira.
"Selamat pagi Steven anak Mama yang paling ganteng," sapa Sindi dengan mata berbinar. Wajahnya yang berseri itu tampak jelas menunjukkan jika dia sangat bahagia melihat Steven sadar. Cepat-cepat dia pun mengusap keringat di dahi anaknya, lalu mengecup keningnya. "Alhamdulillah kamu sudah sadar, Mama takut banget," tambahnya seraya memeluk tubuh Steven.
'Mama, Papa, Fira. Kok mereka ada di sini?' Manik mata Steven kembali berkeliling, mencari-cari seseorang yang belum berhasil dia temukan. Sekarang dia sudah sadar jika posisinya ada di rumah sakit. Dan seketika ingatan tentang kejadian pembegalan itu bermunculan di dalam otaknya. 'Ini di rumah sakit, kan? Tapi di mana Citra? Apa dia nggak tahu?'
"Mama, sudah dong meluk Stevennya. Dia baru sadar dan jangan buat Papa iri." Angga menarik lengan Sindi hingga tubuhnya yang sejak tadi memeluk Steven terlepas.
"Papa seneng kok. Sebentar ... Papa panggil dokter dulu untuk memeriksa Steven." Angga berlalu pergi meninggalkan mereka.
Sindi langsung menarik kursi kecil di samping tempat tidur, lalu mengajak Fira untuk duduk di sana. Gadis itu perlahan mengusap lembut lengan Steven dan tersenyum manis padanya.
"Saya senang melihat Bapak sudah sadar."
"Fira dari kemarin nangis terus tahu, Stev. Melihat kamu belum bangun-bangun," kata Sindi sembari mengusap rambut Fira. Apa yang dia katakan sebenarnya bohong, gadis itu sama sekali tak menangis. Malah yang menangis adalah dia, sampai matanya pun terlihat sembab.
Steven diam saja sambil menatap wajah Fira dan Sindi silih berganti.
Tak lama Angga kembali bersama dokter dan suster, kemudian mereka memeriksa keadaan Steven.
Setelah itu, mereka pun melepaskan ventilator di wajah Steven.
"Kok dilepas, Dok?" tanya Sindi penasaran.
__ADS_1
"Napas Pak Steven sudah stabil. Dia nggak perlu pakai oksigen, Bu."
"Kondisinya bagaimana? Kok dia diam saja dari tadi?" tanya Sindi lagi seraya menatap Steven.
"Kondisinya baik. Pak Steven diam mungkin memang nggak kepengen ngomong." Dokter itu menatap Steven. "Apa dada Bapak sakit kalau bicara?" tanyanya.
Perlahan bibir Steven terbuka, lalu berucap lirih. "A-akuu ...." Tangannya menyentuh leher, terasa kering kerontang di dalam sana.
Fira langsung menuangkan air minum ke dalam gelas, lalu membantu Steven meminum air itu hingga satu gelas penuh habis tak tersisa.
"Steven haus berarti, mangkanya nggak mau ngomong dia," tebak Angga.
"Nanti ajak dia bicara pelan-pelan saja, Bu. Soalnya di dadanya masih luka. Takut masih sakit pas bicara," jelas dokter itu pada Sindi yang mana dianggukan olehnya.
"Iya, Dok." Sindi mengangguk cepat. Setelah itu dokter dan suster berlalu pergi meninggalkan kamar Steven.
"Kamu mau makan dulu apa elap dulu, Stev?" tawar Sindi. Dia tadi sempat merasakan dada Steven lengket saat memeluknya.
"Makan dulu saja, Ma. Dua hari perut Steven kosong itu." Yang menjawab Angga, pria tua itu kini sedang duduk di sofa sambil main game cacing di ponselnya.
"Kamu suapi Steven, Fir. Kamu tadi ke sini bawa bubur untuknya, kan?" tanya Sindi.
Memang iya, tadi pagi Fira datang sambil membawa bubur. Bahkan memang setiap pagi dari kemarin gadis itu membawanya untuk Steven.
"Iya, Tante." Fira mengangguk. Dia pun mengambil kotak makan di atas nakas, lalu membuka penutupnya. Setelah itu mengambil sendok di dalam kantong merah.
"Ayok kita keluar, Pa. Steven mau makan." Sindi menarik lengan suaminya, tetapi tubuh besarnya itu tak berhasil bangun.
"Makan tinggal makan, kan Papa nggak minta ini," jawab Angga santai dan masih fokus pada ponselnya.
"Tapi biarkan mereka berduaan, kita jangan menganggunya." Sekarang tarikan Sindi cukup kuat dan berhasil membuat Angga bangun.
"Belum muhrim mereka, Ma. Ngapain disuruh ...." Ucapannya mengantung kala dengan kekuatan super Sindi menarik lengannya, membawanya keluar dari kamar Steven. "Kalau berduaan di kamar nanti ketiganya setan, Ma. Mama memang nggak ngerti masalah itu, ya?" Angga mendengkus kesal kala tindakan yang istrinya perbuatan itu membuat cacingnya mati. "Gara-gara Mama cacing Papa mati nih, mana udah gede lagi."
"Berduaan 'kan buat mereka makin dekat saja, bukan mau ngapa-ngapain ini." Sindi langsung merebut ponsel suaminya dan duduk di kursi. Angga hanya berdecak lalu duduk di sampingnya dengan wajah frustasi.
__ADS_1
...Apa Om Ganteng bisa menyukai Fira, kalau mereka sering berduaan? 🤔...