
...Berhubung ada beberapa yang nanyain visual Om Gugun. Jadi aku kasih ๐ jujur, aku bingung nyarinya mana yang pas ๐. Tapi menurutku sih ini. Nggak tahu kalau menurut kalian ๐ semoga sih sama, ya. ๐...
'Harusnya, setelah Nona disakiti ... itu membuat Nona belajar untuk menilai mana laki-laki yang tulus dan tidak. Jelas disini Pak Steven nggak tulus. Dia hanya mau mempermainkan Nona saja,' batin Gugun.
*
*
"Maaf Pak Steven!" panggil Ali agak keras. Dia dan Aldi menghampiri Steven dan Citra yang hendak masuk ke dalam mobil Jarwo.
Steven dan Citra lantas berbalik badan. Sontakโkedua mata Citra terbelalak melihat dua pria yang berdiri di depannya, refleks dia pun mundur beberapa langkah sebab merasa takut.
Dia tentu tahu dua orang itu. Salah satunya adalah orang yang membiusnya, dan rasanya Citra takut kejadian serupa akan terulang lagi.
"Nggak usah takut, Cit. Mereka orang baik." Steven langsung menghampiri Citra lalu membawanya ke dalam dekapan. Perlahan dia pun mengecup puncak rambutnya.
"Tapi mereka berdua orang suruhan Om, kan? Untuk menculikku?"
"Mereka memang orang suruhanku, tapi aku nggak berniat menculikmu. Aku menyuruh mereka untuk menculik Sisil, tapi mereka yang salah orang."
"Om kenal Sisil? Tapi kenapa Om harus menculiknya?"
"Sisil itu adiknya Gugun. Dan alasanku menculik Sisil karena supaya Gugun lapor polisi. Jadi itu akan mempermudah supaya aku dan kamu bisa bertemu," jelas Steven.
'Sisil adiknya Om Gugun? Aku baru tahu,' batin Citra.
"Eeemm ... memangnya selama ini Om mencariku?" Citra mendongakkan wajahnya, menatap Steven yang kini tengah tersenyum manis.
"Tentu saja, aku bahkan hampir gila karena kehilanganmu."
"Bapak juga hampir mau ketabrak mobil." Jarwo menambahkan. Sengaja dia melakukannya, demi menyenangkan hati Steven.
"Benarkah?" Mata Citra melebar sempurna. "Tapi Om nggak apa-apa, kan? Apa ada yang lecet?" Perlahan kedua tangannya menangkup pipi Steven. Dan seketika, pipi itu bersemu merah.
"Ada."
"Di mana?"
"Dahiku, ini." Steven menunjuk dahinya asal. Padahal, tak ada lecet sama sekali. Kemarin, dia hanya terpentok batu dan luka kecil saja.
"Nggak kelihatan, Om." Citra memicingkan matanya, menatap serius dahi putih suaminya.
"Masa nggak kelihatan. Ini lecet, lho, coba cium deh, nanti kamu bisa lihat sendiri." Steven kembali menunjuk dahi. Kini tubuhnya agak membungkuk dan dahinya perlahan mendekat ke bibir Citra. Gadis itu dengan polosnya langsung mencium.
Cup~
Namun, dengan segera Steven pun meraup bibirnya. Menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman.
__ADS_1
Citra membulatkan matanya. Tampaknya Steven memang sengaja mengerjai supaya bisa mengajaknya ciuman.
Sayangnya, tindakan yang Steven lakukan tak melihat tempat. Di depan mereka ada Ali dan Aldi. Juga di sampingnya Jarwo. Tiga pria berbadan besar itu hanya menelan ludah saat melihat adegan dewasa, bahkan Ali sampai menutup mata.
'Mataku ternodai,' batinnya.
Steven menarik tubuh Citra, lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Pintu mobil itu segera ditutup oleh Jarwo dan bergegas dia pun masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi kemudi.
Tak lama, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kedua pria yang sebenarnya punya niat mengapa memanggil Steven.
"Kenapa kamu tutup mata, Al? Uang kita melayang lho!" seru Aldi kesal seraya menepuk pundak Ali. Temannya itu langsung membuka mata dan seketika terbelalak kala mobil itu sudah menghilang.
"Iya, sial banget! Padahal kita belum dapat uang!" geramnya emosi.
"Kamu sih, orang mah tadi langsung ngomong pas mereka berbalik. Jadi nggak begini!"
"Kok kamu nyalahin aku?" Ali menunjuk wajahnya sendiri sambil menatap temannya. Wajah keduanya sama-sama masam. "Kan kamu tahu mereka tadi ciuman!"
"Iya, tapi harusnya hentikan dulu sebelum mereka ciuman dong!" gerutu Aldi.
"Kenapa nggak kamu saja, Di?"
"Aku nggak berani!"
"Apa lagi aku!" Ali berlari menuju mobilnya, lalu masuk ke dalam sana. Aldi pun segera menyusul.
"Iya, kita ke rumah dia sekarang," kata Ali seraya mengemudi.
*
*
Ciuman yang awalnya lembut itu semakin lama menjadi kasar. Bahkan, kini kedua tangan Steven yang begitu nakal itu sudah meremmas dada Citra dari balik baju.
Sebenarnya Citra ikut menikmati, tetapi berhubung mereka ada di dalam mobil dan di mobil itu juga ada orang lainโdengan segera Citra pun mendorong dada bidang Steven hingga tautan bibir mereka terlepas. Sejak masuk ke dalam mobil, pria tampan itu terus menghimpitnya disisi pintu.
"Lho, kenapa dilepas? Kamu nggak suka kita ciuman? Kan enak, Cit," tanya Steven dengan sedih. Dia kembali mendekat dan sudah memonyongkan bibirnya. Sedikit lagi mungkin akan menempel, tetapi sayangnya terhalang oleh punggung tangan Citra.
"Masalahnya ini di mobil, Om. Dan ada Om Jarwo. Aku malu." Wajah Citra sudah merah seperti udang rebus.
"Anggap saya nggak ada Nona," ucap Jarwo. Dia mengetahui adegan itu dan mencoba untuk memaklumi. Jarwo tentu tahu bagaimana Steven yang gila selama mencari Citra, dan mungkin sekarang apa yang pria itu lakukan adalah bentuk rasa rindunya.
"Tuh, apa katanya. Ayok cium lagi. Tapi sambil duduk kamunya di sini." Steven menepuk kedua pahanya, meminta Citra untuk duduk dipangkuan.
Citra menggeleng cepat. "Nggak mau, nanti saja kalau sudah sampai rumah."
"Dih, sekarang saja." Steven menarik tangan Citra, tetapi gadis itu menahan tubuhnya.
"Aku mau kita ketemu Safira dulu. Katanya Om mau ketemu dia, apa berubah pikiran sekarang?"
__ADS_1
"Oh iya, aku lupa." Yang ada di otak Steven hanya cium, peluk, nyusu dan bercinta. Selain itu sepertinya tidak ada. Wajar jadi mendadak pikun. "Aku telepon dia sekarang deh, minta ketemuan." Steven mengambil ponselnya di dalam saku jas, lalu mengetik.
"Kenapa nggak ke kantor Om saja? Dia pasti ada di sana."
"Ini 'kan hari Sabtu, Cit. Libur." Setelah melakukan panggilan, tak lama panggilan itu terjawab dari seberang sana. Cepat-cepat dia pun menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.
"Halo, Pak Steven. Selamat sore, kebetulan banget Bapak telepon. Saya sudah kangen banget sama Bapak," kata Fira. Suaranya terdengar begitu lembut dan mendayu-dayu.
"Aku mau kita ketemuan bisa nggak, Fir?"
"Bisa. Kita ketemuan di rumah saya saja ya, Pak. Kebetulan ... kata Tante Sindi, dia dan Om Angga mau datang ke rumah saya."
"Mama dan Papaku ke rumahmu? Mau apa?" Kening Steven mengerenyit.
"Saya nggak tahu, mereka belum sampai."
"Ya sudah, nanti aku ke sana. Kirim saja alamatnya."
"Siap, Pak. Bapak hati-hati di jalan. Aku tunggu Bapak. I love you."
Tut!
Panggilan itu langsung diputuskan oleh Steven. Kemudian, tak lama ada notifikasi chat masuk dari Fira. Dia mengirimkan alamat rumahnya. Steven pun segera menyebutkan alamat itu kepada Jarwo dan pria di depan hanya mengangguk patuh.
"Orang tua Om ke rumah Safira mau apa?" tanya Citra. Dia mendengar apa saja yang Steven ucapkan, hanya saja tidak dengan ucapan Fira.
"Aku nggak tahu." Steven menggeleng cepat. "Tapi nggak apa-apa 'kan kita ketemu Fira di rumahnya? Kita juga bisa tahu apa yang mau Papa dan Mama lakukan ke sana."
"Tapi aku nggak enak, Om. Nanti aku diusir bagaimana?"
"Siapa yang mau mengusirmu? Kan ada aku." Steven mendekat, lalu mengecup pipi Citra dengan lembut. "Kalau diusir ya kita pulang. Malah enak, kita bisa langsung bercinta. Aku sudah punya rencana mau check in hotel."
...****************...
Sementara itu di tempat berbeda, Fira yang baru saja selesai menerima telepon dari Steven sungguh senang bukan kepalang.
Bagai dapat durian runtuh, kini dia sudah jungkir balik di atas kasurnya sendiri.
Pertama Sindi yang menelepon, lalu Steven. Dia sangat bahagia.
"Aaaahhhh!" Fira mendessah kuat sangking senangnya. Dia pun menangkup kedua pipinya yang tampak merona.
"Apa jangan-jangan kedatangan Om Angga dan Tante Sindi untuk membahas pernikahanku dengan Pak Steven?" Monolognya sambil menatap langit-langit kamar, jantungnya berdebar kencang. Di hatinya ada beberapa bunga yang bermekaran. "Kalau iya, bagus banget dong! Aku akan jadi istri dan menantu konglomerat! Asiikkk!"
...Idih, emang iya gitu, Fir? ๐ค kok ragu aku ๐...
...Ayok Vote dan hadiahnya, mumpung hari Senin ๐ biar semangat up...
__ADS_1