Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
215. Kelihatan tulus


__ADS_3

Mata Steven sontak terbelalak, wajahnya langsung bersemu merah. Belum pernah terlintas di otaknya untuk meminta Citra melakukan hal itu. Burungnya dielus pakai tangan saja gadis itu seperti terpaksa.


"Dih, Papa mesum banget. Mana mau Citra ngemut burungku, Pa?!"


"Papa mesum banget ih, kok ngajarin anak nggak bener?" omel Sindi.


"Ngajarin nggak bener apa, Ma? Kan ini cara alternatif. Daripada pakai sabun, pasti nggak mau si Steven."


Sindi memutar bola matanya dengan malas, dia memilih untuk pergi dari sana. Sebab merasa malas berurusan dengan dua pria mesum itu. Tidak mau ikut-ikutan menjadi mesum.


"Kamu ini, kalau bicara jangan keras-keras! Nanti didengar orang lain bagaimana?" garam Angga seraya mencubit kecil perut Steven. Sang anak langsung memekik kecil.


"Lagian Papa aneh, ngasih usul kok diluar nalar?"


"Usul mah apa saja. Tapi rasanya enak, kamu belum pernah coba, ya?"


"Papa memang pernah mencobanya?"


"Udah sering."


"Mama mau ngemut burung Papa? Dih, nggak protes dia?" tanya Steven tak percaya.


"Opa kok ngomong sama Om Steven?!" tanya Juna yang baru saja berlari menghampiri, lalu menarik lengan Angga begitu saja dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Katanya Om Steven nggak mau diajak ngomong? Opa tukang bohong ah, Juna kesel!" gerutu Juna sambil merengut.


"Opa lupa, Sayang. Maaf, ya?" Angga langsung mengendong Juna, dan mencium keningnya.


"Pokoknya mulai sekarang jangan, Mami, Oma sama Tante Citra juga nggak boleh ngomong sama Om Steven. Kita musuhi dia sampai dia nangis."


"Oke, siap." Angga mengangguk patuh.


***


Sampai menjelang malam, Kevin tak kunjung pulang. Tentu hal tersebut membuat Angga khawatir, sebab tak biasanya burung itu pergi lama sekali.


"Kok lama si Kevin pulangnya, Jo?" tanya Angga yang sejak tadi berdiri di depan sangkar burung. Menanti Kevin.


"Saya nggak tahu, Pak," jawab Bejo.


"Kalau sampai tengah malam si Kevin belum pulang juga, kamu telepon aku ya, Jo, aku akan suruh orang untuk mencarinya," ucap Angga. Bejo pun mengangguk.


Setelah itu dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah menuju ruang makan.


Di sana sudah ada Sindi, Juna, Nissa, Citra dan Steven. Baru saja hendak makan malam bersama.


"Belum pulang juga si Kevin, Pa?" tanya Sindi. Angga menarik kursi yang berada di sebelahnya, lantas duduk di sana.

__ADS_1


"Iya, Ma, Papa khawatir banget."


"Kevin bukannya di rumah Om Tian ya, Opa," ucap Juna. "Memang dia belum pulang juga?"


"Tian?" Alis mata Angga bertaut. "Kamu kata siapa memangnya?"


"Tadi siang aku ke rumah Om Tian, dan ada Kevin di sana."


"Ngapain kamu ke rumah Om Tian?" tanya Steven. Urat di wajahnya itu seketika tegang mendengar nama pria tersebut. "Jangan dekat-dekat dengannya, Jun," tambahnya.


Juna tak menanggapi, sebab dia sedang puasa ngomong dengan Steven.


"Jun?" tanya Angga. Dia juga menunggu jawaban Juna. Bocah itu langsung menoleh ke arahnya. "Kamu ngapain ke rumah Om Tian?"


"Nganterin uangnya, di suruh Mami."


"Uang apa?"


"Uang gaji, tapi Om Tian malah kasih ke aku. Katanya buat jajan."


"Maksudnya gimana?" Steven kembali bertanya.


"Tian pas dipecat sempat aku kasih uang, Pa." Yang menjawab Nissa, namun dia menjawab pertanyaan Angga sembari menatap pria tersebut. "Uang gaji dia selama kerja, tapi dia lupa ngambil karena buru-buru."


"Oh, tapi kok dikasih sama Juna? Kan dia kere, pasti butuh uang," ujar Angga.


"Sengaja itu Om Tian, Pa, mau ngambil hatinya Mbak Nissa," balas Steven dengan wajah masamnya. "Jadi baik-baikin anaknya dulu."


"Om Steven nggak boleh su'uzon. Kata Opa dosa!" Awalnya Juna tak mau ngomong dengan Steven, tapi entah mengapa bibirnya langsung membalas perkataannya itu.


"Bukan su'uzon, Om bicara tentang fakta. Dia itu sama duit ijo. Nggak mungkinlah menolak kalau nggak ada alasannya."


"Tapi Om Tian kelihatan tulus kok pas ngasih, dia juga ngasih Juna kelereng. Bagus-bagus banget lagi. Iya, kan, Mi?" Juna menoleh ke arah Nissa. Wanita itu mengangguk cepat, menanggapinya.


"Pokonya aku nggak mau, ya, Mbak dekat sama Om Tian. Juna juga. Om Tian itu orang jahat tahu, Mbak," tegur Steven dengan tatapan serius pada Nissa.


"Om Tian yang Abah maksud itu Om Tian Omku bukan?" tanya Citra yang tak tahu apa-apa. Dia baru sadar karena Juna mengatakan Kevin ada di rumah Tian.


"Dih, kok panggil Abah lagi, sih?" Steven mendengkus kesal.


"Maksudku Aa, jadi bener nggak itu?"


"Iya," jawab Steven.


"Tapi Om Tian nggak jahat, A. Dia baik." Bagaimanapun sikap dan sifat Tian padanya, namun Citra masih menganggapnya baik. Karena baik atau buruknya Tian adalah keluarganya.

__ADS_1


"Ah kamu, Cit, dari dulu sampai sekarang, masih saja menganggap Ommu baik," oceh Steven kesal. "Dia itu jahat, bahkan banget. Kalau pun baik pasti ada uangnya, kalau bukan dari itu semua ... nggak mungkin dia baik."


"Tapi selama ini Om Tian belum pernah meminta uang padaku, A."


"Yang dulu itu apa? Yang 500 juta?" Steven ingat, saat dulu Citra bertanya tentang Tian yang ingin meminjam uang padanya. Dan Steven langsung tak mengizinkan. Dia seolah tahu, kalau niat Omnya Citra itu adalah mengelabui istrinya.


"Itu 'kan pinjam, A, beda."


"Mau pinjam atau minta sama saja untuk dia. Aku tahu, dia pasti hanya beralasan supaya kamu mau memberikannya uang. Tapi nanti nggak akan dibayar!" tegas Steven yang mendadak emosi.


"Stev sudahlah, kenapa kamu malah marah-marah dan kesel sama Dedek Gemes?!" tanya Angga yang mencoba merelai perdebatan di antara keduanya. Jika nada suara Citra masih terkesan lembut, berbeda dengan Steven. Sudah masuk ke tahap pakai urat. "Mending kita makan, nggak usah bahas Tian." Angga juga merasa malas mendengar nama pria itu. Lebih baik akhiri saja.


"Aku minta maaf, Cit." Steven menghela napasnya dengan berat, mencoba menghilangkan emosi di dada yang tiba-tiba naik. Tangannya menjulur ke atas puncak kepala Citra, lalu mengelusnya dengan lembut. "Kamu 'kan tahu aku benci sama Om Tian, jadi kadang emosi."


Gadis itu diam saja, namun segera melahap nasi di piringnya.


***


Pagi hari di rumah Nurul.


Seseorang mengetuk pintu rumahnya, dan dengan cepat Nurul yang kebetulan hendak keluar rumah itu lantas membukakannya.


Ceklek~


"Permisi, Bu, apa benar ini rumahnya Bu Nurul?" tanya seorang pria yang berdiri di depannya. Dia memakai kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, dengan tas kerja menempel di bahu kanannya.


"Iya, benar." Nurul mengangguk. "Bapak ini siapa, ya?"


"Saya dari pengadilan agama Jakarta, ingin memberikan surat untuk Nona Safira Ayunda." Pria tersebut mengambil sebuah amplop putih di dalam tasnya, lalu memberikan kepada Nurul. Itu adalah surat gugatan cerai dari Tian. "Nona Safiranya ada 'kan di sini, Bu?"


"Ada, dia ada di kamar."


"Nanti Ibu berikan kepadanya. Mohon untuk ditanda tangani dan dibaca dengan teliti. Sudah tertera di dalam sana sidang pertama perceraian antara Nona Fira dan Pak Tian."


"Iya, Pak." Nurul mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi, selamat pagi."


"Pagi."


Setelah kepergian pria itu, Fira pun datang menghampiri Nurul di ambang pintu. Sang Mama menoleh, dilihat dari ujung kaki hingga kepala wanita itu tampak cantik dan tercium aroma wangi.


Dress yang dia pakai begitu mini, namun agak longgar supaya perutnya yang buncit itu tidak terlalu kelihatan.


"Mau ke mana kamu, Fir? Rapih banget?" tanya Nurul sembari menatap map coklat yang dipegang sang anak.

__ADS_1


...Mau ngel*nte kayaknya, Ma 🙈...


__ADS_2