Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
98. Menculik keluarganya


__ADS_3

21+


"Bercinta, Sayang," ujar Tian dengan senyum menyeringai. Lantas, segera dia pun menarik lengan Fira hingga dadanya terhentak dada Tian. Setelah itu, Tian menggendong tubuhnya lalu berpindah posisi pada kursi belakang mobil.


Tian langsung menjatuhkan tubuh gadis itu hingga terlentang di kursi, lalu cepat-cepat dia pun melepaskan seluruh pakaiannya hingga tubuhnya kini polos sempurna.


"Aku nggak mau! Aku nggak mau bercinta denganmu, Mas! Kita sudah putus! Tolong jangan lakukan ini!" Fira mendorong-dorong dada bidang Tian saat pria itu hendak menghimpit tubuhnya. Namun sayangnya apa yang dia lakukan sia-sia sebab tenaga Tian jauh lebih besar.


"Kita nggak akan pernah putus! Selamanya kamu hanya milikku!" tekan Tian. Segera dia pun mengangkat kedua kaki Fira ke atas lalu celana bahan gadis itu ditarik ke atas. Dan dengan satu tarikan kuat, dia berhasil merobek cellana dalam Fira hingga tak ada lagi penghalang baginya.


Dan...


"Aahh!" desah Tian saat penyatuan itu terjadi dan langsung masuk begitu saja. Memang ini bukan untuk pertama kali, tetapi berulang kali. Hanya saja tetap, sensasi menggigit itu dapat Tian rasakan ketika miliknya tenggelam di bawah sana.


"Mas Tian, lepaskan aku! Aku nggak mau!" teriak Fira. Dia masih meronta-ronta.


"Nggak usah munafik kamu, Fir!" seru Tian marah. "Kamu bukannya suka aku sodok begini, kan?" Tian kembali tersenyum menyeringai dan Perlahan-lahan dia pun menarik pinggulnya.


Dengan sekali hentakkan, seketika membuat Fira mendessah kuat dengan kedua mata yang membulat.


"Aahh, Mas! Aku ...." Usaha Fira yang awalnya ingin menolak pada akhirnya berakhir. Kini justru gadis itu malah menikmati sentuhan yang Tian berikan. Bahkan, desahhannya yang paling nyaring mengisi ruang mobil itu. 'Ah, sial! Goyangan Mas Tian sungguh nikmat, aku nggak bisa menolaknya.'


Tian tersenyum manis melihat gadis di bawahnya sudah merem melek. Lantas, dia pun mempercepat gerakan pinggulnya sembari melepaskan satu persatu kancing kemeja Fira. Setelah membuat tubuh gadis itu telanjang bulat seperti dirnya, Tia pun langsung memburu dua gundukan gunung kembar yang tampak montok itu. "Dadamu tambah besar, Fir. Dan ini adalah hasil karyaku."


Fira benar-benar di bawa terbang ke udara sampai mencapai nirwana. Pria berusia 36 tahun itu memang sangat pintar memuaskannya hingga setiap kali bercinta pasti dia duluan yang keluar. Malah sampai berulang kali.


"Mas ... nanti keluarin diluar, ya?" pinta Fira sembari mengigit bibir bawahnya. Mereka sudah merubah gaya. Kini Fira sudah menungg*ng di belakang, sedangkan pria itu masih terus melaju maju mundur.


"Memang kenapa?" tanya Tian dengan napas yang terengah-engah.


"Kan Mas nggak pakai kond*m, nanti kalau aku hamil bagaimana?"


"Oh, oke deh." Tian mengangguk, lalu meremmas kuat bokong montok di depannya dan mempercepat ritmen. Tak lama, sebuah senyuman menyeringai tercetak jelas di wajahnya, Tian tampak senang dan bersemangat untuk terus menghujami Fira. 'Memang ini alasanku nggak pakai pengaman, Fir. Supaya kamu hamil dan dengan begitu kamu nggak akan lari dariku.'

__ADS_1


"Lebih cepat, Mas! Ini sangat enak!" titah Fira yang ikut menggila dengan permainan Tian.


"Siap Sayang."


***


Keesokan harinya.


Suasana di meja makan itu terasa begitu sepi, seperti tak ada orang. Padahal ada satu keluarga tengah sarapan bersama.


Hanya saja cuma Sindi yang sibuk melahap nasi goreng. Sedangkan Angga dan Steven, dua pria itu terlihat hanya mengaduk-aduk nasi goreng di atas piringnya. Tetapi belum ada sebutir pun yang berhasil masuk ke dalam perut.


Wajah keduanya pun tampak muram tak bergairah, bahkan kantung mata Steven sampai menghitam akibat kurang tidur.


"Kalian ini kenapa mainin sarapan? Bukannya makan!" tegur Sindi dengan kesal sembari melihat dua pria di depannya.


"Aku nggak kepengen makan rasanya, aku kangen sama Citra, Ma," jawab Steven dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Papa juga nggak kepengen makan rasanya. Pengen ketemu Dedek Gemes." Bola mata Angga juga terlihat berkaca-kaca.


"Bukannya kemarin kalian itu mencari Citra, ya? Memang belum ketemu juga?" tanya Sindi.


Steven mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk menatap nasi goreng, lalu dia pun menatap Sindi dengan mimik kesal. "Mama aneh deh, kalau sudah ketemu Citra pasti sekarang dia sedang makan bersamaku!" ketusnya marah


"Iya, Mama aneh," sahut Angga mengangguk-angguk.


Sindi menghela napasnya dengan kasar. "Coba Papa minta bantuan Sofyan atau Rizky, mungkin semakin banyak orang yang mencari akan semakin cepat ketemu," sarannya. Dia jadi ikut-ikutan pusing juga. Sebab kedua pria yang kini hidup bersamanya sama-sama galau.


Rizky adalah suami Nella, keponakannya Steven.


"Sudah, rencananya nanti Rizky sama Hersa datang. Katanya juga Hersa itu kenal Gugun," jawab Angga.


"Hersa itu siapa?" tanya Steven.

__ADS_1


"Asistennya Rizky."


Baru saja mereka membahas dua orang itu, kemudian tak lama Bibi pembantu menghampiri mereka dan mengatakan kalau ada dua pria itu di ruang tamu.


Lantas, Angga dan Steven pun berdiri, kemudian mereka melangkah menuju ruang tamu untuk menghampiri kedua pria tersebut.


Terlihat, mereka berdua berada di sana, tetapi hanya Rizky saja yang duduk, sedangkan Hersa berdiri.


"Pagi Pak Steven, Pak Angga," sapa Hersa sambil membungkukkan badannya sedikit, lalu tersenyum.


"Pagi," jawab Steven dan Angga secara bersamaan. Kemudian keduanya duduk di sofa. Steven di sofa single, sedangkan Angga di sofa panjang bersama Rizky.


"Aku ikut sedih, ya, Om. Pas dengar pacar Om dibawa kabur," ujar Rizky seraya menatap Steven. Pria itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Sebenarnya aku dan Hersa sudah membahas masalah ini, lalu Hersa mengusulkan sebuah rencana," tambah Rizky.


"Rencana apa?" tanya Steven dan Angga secara bersamaan, mereka tampak antusias dan penasaran dengan apa yang akan Rizky sampaikan.


"Berhubung Citra—”


"Panggil Tante dong," sela Steven cepat. Dia terlihat tak suka Rizky memanggil Citra hanya dengan nama. Meskipun memang Citra jauh lebih muda dari dia atau pun Nella, tetapi tetap saja harus memanggil dengan sebutan yang pantas menurutnya.


"Oh ya, maksudku Tante Citra. Berhubung Tante Citra mau pun Gugun belum berhasil ditemukan, bagaimana kalau kita culik saja anggota keluarga Gugun," usul Rizky.


"Culik?" Kening Steven mengerenyit. Dia tampak bingung dengan maksud Rizky.


"Iya, kita culik salah satu anggota keluarga Gugun. Pasti nanti Gugun akan kelabakan dan lapor polisi. Dan saat itu akan mudah menemukan di mana dia berada."


"Kalau kita menculik keluarganya Gugun, kita bisa dipenjara dong, Riz," kata Steven. Hanya mengingatkan saja, tetapi sebenarnya Steven tak takut di penjara.


"Nanti kita kerjasama sama pihak polisi, itu mudah, ada Papa Sofyan ini." Rizky ingat, jika Papa mertuanya itu punya teman seorang polisi.


"Terus siapa yang diculik nanti? Ibunya Gugun?" tebak Steven.


Rizky menoleh ke arah Hersa, pria itu pun langsung mengangguk seakan mendapatkan isyarat dari sang bos.

__ADS_1


"Saya sudah mendapatkan informasi kalau adik kandung Gugun kuliah di salah satu universitas yang ada di Tangerang." Hersa mengambil sesuatu di dalam saku jasnya, kemudian memberikan pada Steven. Itu adalah selembar foto seorang gadis sebaya Citra, cantik dan berambut pendek. "Namanya Sisil, Pak."


...Ayok semangat Om Ganteng nyari Citra 💪culik dulu itu adiknya Om Gugun. Bila perlu nikahin sekalian, biar Om Gugun kebakaran kumis 😂...


__ADS_2