Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
37. Takut keluar


__ADS_3

Kolong tempat tidur itu terlihat gelap. Tetapi meski begitu diluar sangat terang. Mental Citra yang sejatinya takut gelap merasa baik-baik saja, apa lagi memang di sana ada Steven.


"Ke mana si Citra? Kok nggak ada di mana-mana? Apa dia main, ya?" Steven bergumam sendiri. Entah sedang apa pria itu, tetapi kini dia kembali berkata, "Ajis, di mana Citra?"


Sepertinya Steven sedang mengobrol melalui sambungan telepon. Ya, mungkin saja dan tidak mungkin juga kalau dia berbicara sendiri.


'Siapa Ajis? Apa seorang pelawak?' batin Citra.


"Nggak ada, aku tadi coba telepon dia tapi hapenya ada di kamar. Tasnya juga di kamar."


"Coba kamu cari deh ke bawah, tanya sama sekuriti yang jaga. Mungkin saja dia melihatnya."


"Ke mana si Citra? Apa dia main? Tapi kok nggak izin dulu padaku?"


Bruk!


Sebuah kain yang diyakini celana luar dan dalam itu terjatuh pada kaki Steven. Citra yakin kalau pria itu tengah melepaskan celananya.


Segera Citra pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tetapi sedikit mengintip pada celah jari sebab penasaran melihat Steven ingin pergi kemana. Dia sih berdoa supaya Steven pergi dulu dari kamar, supaya Citra bisa mencari kertas yang dia cari.


"Apa Citra kabur dari sini, ya? Tapi kenapa musti kabur? Kan aku nggak punya salah."


Steven berjalan menuju kamar mandi, dari belakang tubuhnya terlihat polos dan mata Citra langsung fokus pada dua telur yang menggantung. Setelah melihat Steven masuk ke dalam Citra langsung terkekeh, sebab merasa lucu saja.


'Telurnya lama-lama lucu juga, ya?' Citra baru saja hendak menggulingkan tubuhnya untuk keluar dari kolong. Tetapi urung lantaran pintu kamar mandi itu dibuka begitu saja.


Brak!


Steven yang memakai lilitan handuk di atas pinggang berjalan menuju kasur sebab ponselnya berdering sedari tadi.


"Masa, sih?" tanya Steven, suaranya terdengar terkejut. "Tapi aku nggak lihat Citra di sini, lho. Aku jadi takut dia pergi saja dari apartemen tanpa sepengetahuanku."


'Nggak usah takut, Om. Aku nggak ke mana-mana kok.' Citra tersenyum sembari menutupi bibirnya.


"Kamu sudah cari ke tetangga sebelah? Mungkin saja dia ada di sana."


"Ah Citra menyebalkan sekali, nggak merepotkan nggak enak kayanya." Steven terdengar mengatur napasnya dengan berat lalu berjalan menuju lemari.


'Enak saja aku merepotkan, tapi Om kangen, kan?'


"Lho, ini kok lemariku ada yang ngacak-ngacak?" Perkataan Steven sukses membuat Citra membulatkan matanya. Steven tampak terkejut saat melihat kondisi lemarinya yang memang agak berantakan, sebab biasanya selalu rapih. "Apa jangan-jangan ada yang masuk ke dalam kamarku? Tapi siapa? Apa maling? Dan setelah itu dia menculik Citra?"


Steven menerka-nerka tidak jelas, lantas dia pun cepat-cepat mengambil sembarang pakaian, lalu memakainya.

__ADS_1


Mendadak Citra merasakan perutnya melilit seperti ingin buang air besar. Dia segera meremmas perutnya dan tak lama sesuatu di dalam bibir berkerut itu berbunyi.


Dut!


'Astaga! Kenapa malah kentut!' seru Citra dalam hati sambil melotot.


Steven yang baru saja hendak melangkah keluar langsung terhenti, dia pun berbalik badan dengan wajah bingung menatap sekeliling kamarnya. Tak lama tercium aroma gas beracun.


"Bau apa ini? Dan suara apa tadi?" Hidungnya segera ditutup, lalu mengibaskan salah satu tangannya ke arah wajah.


Tak lama terdengar lagi suara kentut dan rasa mules itu tak bisa Citra tahan. Dia benar-benar ingin buang air besar.


Dut!


'Ah sial! Perut nggak bisa diajak kompromi. Aku mau berak banget.'


"Uueekk." Steven menutup hidung dan mulutnya saat mencium aroma tidak sedap, kamarnya seperti berasap dan itu benar-benar membuatnya mual. "Citra! Di mana kamu? Keluar atau aku botakin!" teriak Steven yang sudah curiga kalau asal bau dan bunyi itu pasti bersumber dari orang yang tidak lain adalah Citra.


Sejujurnya ini sangat terpaksa bagi Citra untuk membuka suara, tapi dia sendiri bingung musti gimana sekarang.


"Om ... maafin aku, tolong aku, Om," pinta Citra.


Steven langsung berjongkok saat mendengar suara itu berasal dari mana, lalu membungkukan badannya ke kolong tempat tidur. Matanya membulat kala melihat Citra berada di sana tengah terkurap sambil meringis.


"Nanti aku jelaskan, tapi sekarang tolong keluarkan aku dari kolong, Om." Wajah Citra sudah terlihat merah, napasnya terengah-engah.


"Kamu pas masuk gimana? Masa keluarnya nggak bisa."


"Masalahnya aku takut, Om."


"Takut kenapa?"


"Takut ada yang keluar."


"Apa yang keluar?"


"Pisang goreng."


"Pisang goreng apa? Memang kamu beli pisang goreng?"


"Pisang goreng didalam celanaku, aku berak di celana Om."


Steven terkejut, matanya terbelalak. Lantas dia pun berdiri. "Dasar jorok kamu, Cit!" omel Steven lalu mengambil masker chuba di dalam lemari, kemudian memakainya.

__ADS_1


"Aku nggak tahan Om dan dia keluar sendiri."


"Lagian orang mules ngapain di kolong tempat tidur! Bukannya ke WC!" Steven menggerutu lagi sambil memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. Dia tak habis pikir saja dengan kelakuan Citra yang diluar nalar itu.


Namun, pria itu langsung membantunya, menarik tangan Citra yang terulur hingga tubuhnya tertarik keluar. Setelah itu mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Dasar jorok! Mana bau lagi. Habis ini kamu semprot pengharum ruangan di kamarku. Awas saja kamu!" Steven menuding-nuding dahi Citra dengan emosi, lalu berjalan keluar meninggalkannya.


"Namanya berak ya bau lah, Om!" teriak Citra yang pasti tidak akan di dengar oleh Steven. Pria itu sudah pergi.


Citra melepaskan celana pendeknya, tanpa dilihat dan dibersihkan lagi segera dia mengambil plastik putih di dekat kloset, lalu memasukkannya ke dalam dan membuangnya ke tong sampah.


Rasa mules itu masih ada, kemudian Citra melanjutkannya untuk buang hajat sambil merenungkan apa yang belum berhasil dia temukan.


"Nanti besok aku cari lagi deh."


*


*


"Dasar Citra setres! Kelakuannya benar-benar membuatku pusing!" Steven membuka masker lalu mengusap kasar wajahnya. Mendadak dia pun teringat pada sesuatu yang dia beli sebelum pulang dan tertinggal di mobil.


Segera Steven keluar dari apartemennya lalu menuju tempat parkiran khusus.


"Om Ganteng!"


Terdengar suara laki-laki yang memanggil ketika Steven hendak masuk ke dalam mobil yang saat ini sudah dibuka pintunya. Lalu tercium serbak aroma ketek yang menyengat.


Steven pun langsung menutup hidungnya lalu berbalik. Matanya sedikit mendelik kala di hadapannya adalah Udin. Laki-laki itu memakai jaket kulit berwarna hitam, kaos hitam dan celana hitam robek-robek. Semuanya hitam seperti kulitnya. Mungkin hanya gigi dan bola matanya saja yang bukan bukan berwarna hitam.


"Di mana Citra, Om?" tanya Udin.


'Dia si Bau itu, kan? Ngapain dia ada di sini dan tahu dari mana?' batin Steven.


Steven tak menanggapi, dia langsung masuk dan duduk kemudian mengambil paper bag besar. Baru saja Steven hendak keluar, tetapi pintu mobilnya yang terbuka itu terhalang oleh tubuh Udin.


"Aku mau izin bawa Citra pergi jalan-jalan, Om. Boleh, kan?" pinta Udin.


...Astaga Citra 🤣🤣 jadi ilfil tuh Om Steven....


Btw maaf author belum rajin update, soalnya lagi persiapan bikin novel baru. insyaallah nanti bulan depan author mulai rajin lagi.


like dan komen tolong tinggalkan 🤗 hadiah dan Votenya lagi juga gpp 🤣✌️

__ADS_1


__ADS_2