
Citra mengerjapkan matanya secara paksa saat tiba-tiba merasakan mules pada perutnya. Begitu melilit seperti ingin membuang hajat.
Segera dia pun menarik tubuhnya untuk duduk dan menjatuhkan kakinya ke lantai. Namun saat dirinya hendak berdiri—pergelangan tangan kirinya tersangkut oleh sesuatu.
Citra menatapnya, dan sontak—kedua matanya terbelalak lantaran melihat ada borgol disana dan terhubung dengan tangan Steven.
"Kok diborgol? Siapa yang melakukan hal ini?" Citra masih berpikir positif. Mungkin saja ada orang iseng yang mengerjai mereka saat sedang tidur. Sebab menurutnya, tak mungkin jika itu ulah Steven. Dia yakin—Steven tak akan melakukan hal konyol seperti itu. "Om ... bangun! Tangan kita diborgol!" Citra menggoyangkan punggung Steven agak kencang.
Tak lama pria itu pun mengerjapkan matanya secara perlahan.
"Ada apa, Cit?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Ini tangan kita diborgol, Om!" seru Citra dengan nada menekan. Dia menahan mules.
"Biarkan saja," ucapnya santai. "Ayok lanjut tidur lagi." Steven menarik lengan Citra hingga membuat tubuhnya duduk di kasur.
"Kok biarkan? Masalahnya aku mules mau berak, Om!"
Mata Steven seketika mendelik. Terbuka lebar dengan sempurna. Cepat-cepat dia pun beranjak dari tempat tidur, lalu mengacak-acak kasur dengan mata yang berkeliling. Seperti mencari-cari sesuatu.
"Om cari apa? Aku mules banget, nggak tahan!" Kedua paha Citra mengapit dengan kuat. Wajahnya sudah merah padam.
"Cari kunci, Cit. Kunci borgol!" Steven terlihat panik seperti cacing kepanasan.
Setelah mengacak-ngacak tempat tidur dan tidak menemukan kunci, dia pun langsung berjongkok ke kolong tempat tidur. Mencari-cari plastik hitam.
Dia ternyata lupa untuk mengambil kunci tersebut. Malah langsung membuang tempatnya dan alhasil sekarang apa yang dia cari itu tidak ketemu.
"Di mana kuncinya! Di mana plastik hitam!" Steven berteriak dengan wajah frustasi.
Wajah Citra sudah membiru, keringat di wajahnya mengalir deras. Dia paling tidak bisa menahan buang air kecil dan besar. Kalau telat, bisa-bisa berakhir di celana.
Dari pada kejadian dulu terulang, Citra dengan cepat berlari menuju kamar mandi. Lengan Steven pun ikut tertarik. Membawanya ikut ke kamar mandi.
Steven sontak terkejut kala dirinya sekarang melihat Citra tengah menurunkan celana dan duduk di kloset.
Matanya membulat sempurna saat Citra sudah mulai mengejen mengeluarkan pisang goreng yang sudah tak tertahankan.
"Eeeuughhhh!"
__ADS_1
"Uuueekk!" Steven langsung muntah. Merasa enek. Siapa juga orangnya yang tidak akan mual kalau menyaksikan sendiri seseorang yang tengah membuang hajat.
Meskipun memang itu orang yang dia cintai, tetapi tetap saja proses yang sedang berlangsung itu begitu menyiksa diri.
Aromanya .... Ah, tidak perlu dideskripsikan. Mungkin semua orang juga tahu. Betapa dahsyatnya itu, masuk ke dalam rongga hidung.
Ingin rasanya Steven pergi dari sana, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Citra. Gadis itu seperti punya tenaga dalam saat sedang berkonsentrasi.
Alhasil, Steven menutup hidungnya dengan kuat. Hingga memasukkan wajahnya ke dalam kaos demi menyelamatkan diri.
Namun, semua usahanya seperti tak berhasil. Tetap saja pada akhirnya dia terus muntah-muntah sampai sesi buang air besar itu selesai.
*
Dengan langkah sempoyongan, Steven pun keluar dari kamar mandi bersama Citra. Kepalanya terasa pusing sekali, wajahnya juga pucat.
"Maaf, Om. Aku nggak tahan banget tadi," ucap Citra seraya mengelus perutnya. Dia merasa lega sekali.
'Lemes banget aku. Mual,' batin Steven sembari menelan saliva. Perutnya masih terasa bergejolak, tetapi dia tahan.
Ingin rasanya dia marah, namun bingung juga kepada siapa. Ke Citra pun sepertinya tidak mungkin.
Tubuh Steven masih lemas tak bertenaga sebenarnya, namun dia berusaha mencari kunci lagi. Bahkan kini dirinya sudah masuk ke dalam kolong tempat tidur.
"Jadi ini ulah Om? Om yang memborgol?" tanya Citra. Dia mendadak curiga.
"Iya."
Mata Citra terbelalak. Terkejut sekaligus tak menyangka. "Serius? Tapi kenapa, Om?" Citra langsung berjongkok melihat suaminya yang masih dikolong.
"Supaya kamu nggak ilang pas aku bangun tidur, Cit."
"Ilang ke mana, Om? Aku nggak bakal ilang ke mana-mana kok."
"Ya kayak kemarin contohnya. Aku khawatir tahu, takut kamu dibawa kabur Gugun." Steven keluar dari kolong tempat tidur, lalu berdiri dan meraih ponselnya di atas nakas. Segera dia pun menghubungi pihak hotel. Meminta bantuan.
"Tapi nggak perlu diborgol segalalah, Om. Ini berlebihan namanya." Citra menyentuh pergelangan tangannya yang terlihat merah bekas borgol. Dan memang sebenarnya terasa sakit. "Tanganku sakit."
"Maaf, tapi cuma itu yang aku pikirkan supaya kamu nggak ilang dariku, Cit." Steven menarik lengan Citra, lalu mengecup punggung tangannya. Dia juga mengecup bibirnya yang terlihat sudah manyun sekarang. "Jangan marah, aku akan suruh orang untuk membantu mencari kuncinya. Nanti tanganmu aku obati." Steven menatap Citra dengan raut memohon. Sebab sekarang wajah istrinya itu tampak merengut.
'Kenapa Om Ganteng bisa sekonyol ini? Aneh. Kalau takut aku ilang 'kan bisa mengunci pintu dan umpetin saja card systemnya. Supaya aku nggak bisa keluar tanpa izin darinya. Bukan malah diborgol seperti ini!' Citra mendengkus kesal, mendumel dalam hati. 'Dan lagian ... aku juga nggak akan pergi tanpa izinnya lagi!'
__ADS_1
Tak lama kemudian seseorang memencet bel pintu kamarnya, segera Steven membukakannya.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria berseragam hitam. Dia adalah sekuriti di sana dan datang berdua dengan teman seprofesinya.
"Tolong kalian cari kunci borgol di kamar ini!" titah Steven sambil mengangkat lengannya.
Kedua mata pria berseragam itu membulat. Keningnya mengerenyit heran.
"Kok bisa Bapak dan Nona diborgol? Siapa yang melakukannya?" tanya salah satu dari mereka.
"Nggak usah banyak bertanya. Cepat kerjakan saja. Nanti aku beri tips yang besar untuk kalian," ucap Steven. Dia pun mengelus rambut Citra, lalu mengajaknya duduk di atas kasur. "Carinya di lantai saja. Sepertinya kunci itu ada di dalam plastik hitam atau box borgol," tambah Steven memberitahu, saat melihat dua pria itu sibuk membuka gorden dan mengambil bantal sofa.
Dua pria itu pun mengangguk patuh. Kemudian langsung merangkak mencari-cari kunci tersebut.
Ponsel Steven tiba-tiba berdering dengan kencang. Panggilan itu ternyata dari Sofyan. Segera dia pun mengangkatnya.
"Kamu ada di mana, Stev?" tanya Sofyan dari seberang sana.
"Aku ada di hotel, di mana lagi."
"Kok di hotel? Memangnya kamu lupa ini hari apa?"
"Hari ...." Steven terdiam beberapa saat, mengingat. "Hari Selasa."
"Iya, itu tandanya apa?"
"Tanda apa apanya, sih?" Steven tampak bingung dan kesal. Kakaknya itu seperti memberikannya teka-teki. Padahal saat ini dia begitu pusing dengan masalah yang dia alami. Ditambah Citra juga sepertinya marah padanya.
"Kita ada meeting! Kamu lupa, ya? Cepat ke kantor sekarang! Kakak dan Pak Guntur menunggumu di ruang rapat!" tegas Sofyan lalu mematikan sambungan telepon.
Degh!
Mata Steven langsung membulat sempurna. Dia baru ingat jika hari ini ada meeting penting membahas tentang proyek pembuatan mall. Mungkin sudah mau sebulan Steven tak ke kantor, dan meeting itu sudah tak bisa ditunda lagi karena memang sudah sering dia tunda.
"Maaf, Pak. Tapi kuncinya nggak ada," ucap salah satu sekuriti itu seraya berdiri menatap Steven.
"Iya. Saya juga nggak melihat plastik hitam atau pun box borgol, Pak," tambah sekuriti yang satunya.
Dia sudah menggeser kedua sofa, meja, nakas dan lain-lain. Hampir semua benda yang memiliki kolong itu dia geserkan. Namun sayangnya dia tak berhasil menemukan apa yang Steven minta. Benda itu seperti hilang bak ditelan bumi.
...Maaf baru up dan kayaknya cuma sebab, soalnya Author lagi nggak enak badan 🥲...
__ADS_1