Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
316. Dilarang ngamen


__ADS_3

"Permisi, selamat sore."


Suara Pak Polisi itu sontak membuat Tian menghentikan aksi silatnya. Dia membulatkan matanya dengan sempurna dan langsung menggenggam tangan Juna. Menghentikan lompatan bocah itu.


"Sore, Pak," jawab Tian sambil tersenyum canggung.


Tak lama kemudian lampu lalulintas itu berubah menjadi kuning kemudian hijau. Cepat-cepat Tian menarik Juna untuk menepi, begitu pun dengan Pak Polisi.


Pak polisi yang berada dimotor juga menepikan motornya, lalu turun dan menarik Atta untuk minggir.


"Apa Bapak dan Adek ini tadi ngamen?" tanya Pak Polisi menatap Tian dan Juna bergantian.


"Iya, Pak." Tian mengangguk cepat. "Aku melakukan hal itu karena Juna anakku yang menginginkannya," tambahnya sambil meraih tubuh Juna. Lalu mengendongnya.


"Kenapa Adek pengen ngamen? Apa Adek pengen beli mainan tapi nggak punya uang?" tanya Pak Polisi sembari mengelus pipi silver Juna.


"Uang Papi banyak, Om Polisi," jawab Juna.


"Kalau banyak kenapa kalian ngamen?"


"Hari ini adalah hari ulang tahun Juna, Om Polisi. Dan Juna mau Papi memberikan sebuah kado dengan cara seperti ini," jawab Juna jujur seraya memeluk Tian. Lalu mencium pipinya.


"Dengan cara ngamen bareng maksudnya?"

__ADS_1


"Iya." Juna mengangguk cepat.


"Kalau Adek-adek ini ...." Pak Polisi menatap ke arah Atta dan Baim. "Apa teman-temanmu?"


"Iya, mereka mau ikutan."


"Tapi maaf sekali Adek, di lampu merah dilarang untuk ngamen. Jangankan ngamen, beberapa pedagang pun dilarang untuk datang menawari dagangannya," jelas Pak Polisi berbicara dengan lembut.


"Lho, kenapa memangnya, Om?" tanya Juna dengan raut wajah yang seketika sendu.


"Karena bisa menganggu pengendara. Lagian khawatir juga kalau Adek atau teman-teman Adek tertabrak."


"Kami justru menghibur mereka Om Polisi. Ada banyak yang tertawa melihat aksi kami, iya, kan, Pi?" Juna menatap ke arah Tian. Pria itu mengangguk.


"Benar, Pak. Izinkan aku sama anakku ngamen untuk hari ini saja. Nggak lama juga kok, paling sebelum Magrib kami pulang," pinta Tian.


"Dih, kok Om Polisi jahat!" seru Juna dengan bola mata yang tampak berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi dia akan menangis sebab merasa sedih. Momen tadi adalah momen yang sangat membahagiakan menurutnya. Padahal baru sebentar, tapi sudah diusir. "Juna sama Papi 'kan ngamen nggak setiap hari. Baru hari ini saja. Dan kenapa juga uang hasil ngamennya diambil? Itu 'kan rezeki kami." Juna langsung merebut kardus tersebut, lalu memeluknya dengan erat.


Tak ikhlas rasanya, jika jerih payahnya itu diambil orang lain begitu saja.


"Iya, Om Polisi nggak boleh begitu." Baim menimpali. "Kata Bu Gisel, rezeki orang itu nggak boleh diambil. Nanti hidup Om nggak berkah."


"Iya, betul tuh." Atta ikut membalasnya. "Om Polisi memangnya mau masuk neraka?"

__ADS_1


"Pak, tolong izinkan saja," ucap Jarwo yang baru saja turun dari mobil. Dia menghampiri mereka dan mencoba membantu. "Kasihan Dek Juna."


"Maaf Bapak, tapi saya—"


"Hartono!" seru seseorang yang menyela. Dia adalah Sofyan yang tak sengaja lewat dengan mobilnya. Cepat-cepat dia turun dan menghampiri mereka.


"Pakde Sofyan!" seru Juna sambil tersenyum.


"Kamu ngapain ada di sini, Yan?" tanya salah satu polisi yang bernama Hartono. Sofyan tadi memanggil dia.


Sebenarnya mereka saling mengenal. Mengenal hanya sebatas dulunya Sofyan mengelabuinya, mengatakan jika mereka teman satu SMP. Saat itu Sofyan terpaksa melakukannya karena takut ditilang, sebab tengah berciuman dengan Maya di mobil. (Adegannya ada di novel 'Terjerat Cinta CEO Nakal')


Beruntung polisi itu percaya, hingga sekarang dia menganggap Sofyan sebagai Tata, teman SMP-nya yang dulunya punya penyakit kurap.


"Aku nggak sengaja lewat. Tapi kenapa dengan Tian dan Juna?" tanya Sofyan.


Meskipun mereka berdua berubah menjadi silver, tapi dia dapat mengenalinya. Sofyan juga sebenarnya bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka mengecat tubuhnya seperti itu? Kurang kerjaan sekali pikirannya.


"Kamu mengenal mereka?" Pak Polisi berbalik tanya, dia menoleh ke arah Sofyan.


"Dia adik iparku, dan yang kecil anaknya, Arjuna."


"Mereka ngamen di sini. Aku menyuruhnya pulang tapi Adek ini nggak mau." Pak Polisi menatap Juna.

__ADS_1


"Jadi manusia silver sambil ngamen adalah kado Papi untuk Juna, Pakde. Juna mau ngamen sama Papi," ucap Juna dengan sedih. Dia sengaja memberitahu sebab mungkin saja Sofyan dapat membantunya. "Tapi Om Polisi ini melarangnya. Padahal kami ngamen cuma sehari doang."


...Ayok bantuin Pakde, kasihan Juna 🥲...


__ADS_2