Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
148. Aku mau dimandiin


__ADS_3

"Mana ada aku cari janda? Papa noh yang nyari janda!" tukas Steven yang lagi-lagi mengarah kepada Angga.


"Enak saja! Papa ini pria yang setia dan mencintai Mama! Nggak mungkin mencari janda!" bantah Angga dengan raut ketakutan tatkala sorotan Sindi begitu nyalang menatapnya.


"Awas, ya, kalian kalau berani macam-macam sama aku dan Citra. Apalagi berniat poligami atau selingkuh!" ancam Sindi. Kedua pria itu pun menggeleng cepat secara bersamaan. "Jadi kalian habis dari mana?" Menghela napasnya dengan berat.


"Mama tanya saja ke Papa." Steven menoleh sekilas ke arah Angga. "Oh ya, Citra ke mana? Kok aku pulang nggak disambut?" Steven baru sadar jika istrinya tak ada di samping Sindi saat dirinya menatap sekitar.


"Citra dari tadi nonton tv sama Mama sambil nunggu kamu. Tapi sekarang dia ke kamar mau beresin buku buat kuliah katanya."


"Oh ya, nanti kamu ajak Citra buka kado pernikahan kalian. Sayang banget kado banyak tapi belum dibuka," lanjut Sindi yang menghentikan langkah Steven saat baru saja beranjak naik tangga. Pria itu pun berbalik badan.


"Kadonya bukannya ada di kamar pengantinku di hotel, ya?"


"Sudah dibawa pulang. Sekarang ada di kamarmu."


"Oh. Oke deh." Steven mengangguk, lantas meneruskan langkahnya menaiki anak tangga.


"Nanti Papa ceritakan di kamar, Ma," ucap Angga cepat. Dilihat mulut Sindi sudah menganga tadi. Dia yakin—jika istrinya akan mengajukan pertanyaan yang sama. Sebab pertanyaan itu belum terjawab.


"Oke."


"Mama ikut ke kamar juga dong. Papa mau mandi. Siapkan air panas, handuk, baju ganti. Papa juga pengen dipijat. Pegel-pegel nih!" pinta Angga sembari menepuk pelan bahunya.


"Iya iya." Sindi langsung memencet remote, mematikan televisi. Lantas melangkah bersama Angga menuju kamar mereka.


*


*


"Kamu jangan nakal gitu dong! Ha ha ha!"


Langkah kaki Steven yang baru saja masuk ke dalam kamarnya terhenti, lantaran mendengar suara tawa renyah dari dalam kamar mandi. Suara itu dia kenal. Yakni milik Citra.


Namun, anehnya, mengapa gadis itu cekikikan sendiri? Apalagi sampai mengatakan kata 'nakal' siapa yang nakal?

__ADS_1


'Citra, bicara dengan siapa dia? Apa dia selingkuh?'


Dada Steven langsung berdesir penuh emosi. Kedua tangannya mengepal kuat dan segera dia hentakkan kakinya menuju pintu kamar mandi.


Pintu itu terlihat terbuka, cepat-cepat dia pun masuk ke dalam.


"Citra! Apa yang sedang kamu laku ...." Kalimat Steven menggantung disudut bibirnya kala melihat Citra sedang nongkrong sambil memegang selang air. Gadis itu langsung menoleh ke arahnya.


Namun, rasa emosinya makin bertambah kala melihat kehadiran si burung Kakaktua. Rupanya, saat ini Citra sedang memandikan burung itu. Bahkan kini terlihat jelas jika bulunya dipenuhi sabun.


Dan Steven yakin—jika tadi Citra cekikikan karena inilah sebabnya.


"Kamu ngapain sih, Cit?!" teriak Steven marah. Dia menarik lengan Citra hingga tubuh gadis itu berdiri. Lengan kirinya langsung melingkar pada perut gadis itu. "Kau juga! Ngapain di sini? Nggak sopan banget masuk kamar orang?!" maki Steven sambil melototi Kevin. Burung itu mundur beberapa langkah saat kaki panjang Steven hendak menyenggol tubuhnya.


"Maafin aku, Om. Tapi aku nggak sengaja ketemu Kevin di jendela kamar. Dan dia bilang pengen dimandiin," jelas Citra. Dia langsung memeluk tubuh Steven. Dia mengerti jika suaminya itu begitu membenci Kevin, tetapi burung itu terlalu manis jika diabaikan. Citra merasa tak tega.


"Iya, Om! Aku mau mandi!" Kevin berseru.


"Mandi sendirilah sana! Punya tangan 'kan kamu? Kenapa nyuruh istriku?" teriak Steven. Rahangnya tampak mengeras, giginya menggertak kuat.


"Tapi Kevin 'kan nggak punya tangan, Om. Dia punyanya sayap." Citra meregangkan pelukannya, lalu menatap Kevin.


"Keluar kau dari sini!" usir Steven dengan geram.


Kevin perlahan melebarkan sayap, lalu menggerakkannya hingga membuat tubuhnya terbang. Tubuhnya itu bahkan belum dibilas oleh air dan masih berbusa, akan tetapi sepertinya lebih baik dia pergi. Sebelum Steven benar-benar ngamuk.


"Om tua galak! Om tua gila!" serunya meledek Steven. Dia terbang begitu cepat keluar dari kamar mandi menuju jendela.


Steven hanya menatapnya dengan tajam. Namun, perlahan dia pun mengelus dada. Mencoba merelai emosinya. Sekarang hanya ada Citra, waktunya Steven bermanja-manja.


"Kamu mau ke mana?" tanya Steven yang melihat gadis itu hendak melangkah keluar.


Jika tadi intonasi bicaranya begitu keras menggelegar bagai toa, sekarang justru sangat lembut. Bahkan agak manja.


Citra menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Steven yang menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Sudah biasa, pria itu selalu melihatnya dari kaki dulu.

__ADS_1


'Kok nggak pakai baju tidur dari Mama? Kapan dia pakai baju tidur yang seksi. Kan aku kepengen lihat,' batin Steven mengerucutkan bibir. Saat ini Citra mengenakan dress bunga-bunga berwarna merah panjang selutut. Itu pakaian dari Sindi dan dia belum berganti pakaian.


"Om pasti belum mandi dan mau mandi. Jadi aku keluar," sahut Citra. Buru-buru Steven mencekal lengannya. Menghentikan Citra yang baru saja melangkah.


"Aku juga mau dong dimandiin kayak Kevin, Cit," ucap Steven malu-malu. Wajahnya tampak merona bagai tomat.


"Dimandiin?" Telinga Citra rasanya gatal mendengar kata gitu. Entahlah, rasanya aneh. Atau mungkin dia salah dengar?


"Om ngomong apa tadi?" tanya Citra sekali lagi. Memastikan benar atau tidaknya.


"Aku mau dimandiin sama kamu. Atau kita mandi bareng?" tawarnya.


"Aku sudah mandi tadi, Om. Aku nggak mau mandi lagi. Dingin." Citra menggeleng.


"Ya sudah, mandiin aku saja kalau begitu." Steven membuka jasnya, lalu menaruhnya pada keranjang tempat baju kotor. Satu persatu kancing kemeja dia lepaskan, berikut dengan celana.


"Tapi 'kan Om punya tangan. Masa dimandiin?"


"Anak kecil juga dimandiin Ibunya."


Mata Citra langsung mendelik kala menatap tubuh Steven sudah polos. Ditambah si Elang tegak berdiri.


"Itu 'kan anak kecil. Om 'kan udah gede. Dan kenapa nggak minta dimandiin Mama Sindi aja?"


"Malulah, Cit. Kan Elangku berbulu," jawab Steven. "Eeemm ... kalau kamu nggak mau ya sudah deh. Tapi jangan pergi dari kamar mandi. Tungguin aku mandi di sini."


"Maksudnya aku lihatin Om mandi?"


Steven mengangguk cepat. "Iya. Duduk di sini sampai aku selesai." Menarik lengan Citra, lalu mengajaknya duduk di kloset.


Gadis itu menurut, akan tetapi dia bingung mengapa Steven memintanya sedemikian rupa.


"Lihat ke sini dong, jangan buang muka," ujar Steven yang kini telah berdiri di bawah kucuran shower. Menatap Citra yang memang membuang muka ke arah lain. Gadis itu pun langsung menatapnya sambil tersenyum kikuk.


Memang sudah beberapa kali dia melihat pria itu telanjang bulat. Akan tetapi tetap saja, Citra merasa malu sendiri.

__ADS_1


'Ngapain coba mandi ditungguin sampai dilihatin? Apa Om nggak malu?' batin Citra.


...Likenya jangan lupa tinggalkan perbab ya, Guys 🙏. Gara-gara kurangnya like dan dukungan, novel ini udah ga nongol diberanda lagi 🥲. Jujur aku sedih banget 🤧 tentunya sebagai penulis aku juga butuh cuan buat jajan. Mohon pengertiannya, memberi like nggak bayar dan itu mudah🙏 Terima kasih...


__ADS_2