Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
326. Foto Tina


__ADS_3

"Ah, maksudnya benar meninggal," ralat Mbah Dijah seraya mengangguk.


"Yang benar meninggal atau nggak, Mbah?" tanya Nurul yang ikut bingung.


"Kalau memang meninggal, katanya Mbah yang memakamkannya. Jadi di mana anakku Tina dimakamkan?" tanya Tian.


"Kenapa jadi nanya padaku? Aku nggak tahu apa-apa." Mbah Dijah menggeleng. "Tanya saja sama Fira."


"Tapi Fira sendiri yang bilang kalau Mbah yang memakamkan anakku. Dari pas dia lahir yang katanya sudah nggak bernapas," jelas Tian. Sejujurnya dia kesal dengan sikap plin plan wanita berkulit hitam manis itu. Hanya saja dia berusaha untuk sabar sebab masih memaklumi kalau dia tengah berduka.


'Ah si Fira, sudah memintaku berbohong tapi pakai bawa-bawa tentang makam anaknya segala. Janjinya 'kan nggak kayak gini awalnya,' batin Mbah Dijah bingung. Dia refleks mengigit ujung ibu jarinya.


"Maaf, Mbah. Di sini 'kan Mbah sedang berduka karena kehilangan anak. Jadi aku mohon sekali ... tolong bicaralah apa adanya," pinta Tian. Dari gerak-geriknya yang tampak gelisah dan ucapannya yang berubah-ubah, Tian yakini jika ada sesuatu hal yang wanita itu tutupi. "Aku mengerti, Mbah pasti sangat sakit kehilangan anak Mbah untuk selamanya. Aku juga sama, Mbah. Begitu sakit. Bahkan aku belum pernah sekalipun melihat wajahnya," tambahnya sembari menyentuh dada. Air matanya itu kembali terurai membasahi pipi.


Mbah Dijah terdiam dan memperhatikan Tian yang tengah menangis. Sebenarnya dia sudah janji kepada Fira untuk menutupi rahasianya, yakni jika bertemu dengan keluarganya—tolong katakan kalau Tina sudah meninggal.


Tapi hanya itu saja yang wanita itu minta, tidak dengan masalah makam yang jelas Mbah Dijah tak tahu apa-apa.

__ADS_1


Namun sekarang, melihat Tian menangis tentang anaknya Mbah Dijah justru merasa terenyuh. Ikut sedih juga sebab sekarang apa yang dirasakan Tian kini dia rasakan, yaitu kehilangan anak bahkan dengan cucunya.


'Maafkan Mbah, Fira, tapi kayaknya Mbah musti jujur kepada mantan suami dan Mamamu. Karena kehilangan seorang anak itu sangatlah menyakitkan,' batin Mbah Dijah seraya mengusap air mata yang baru saja mengalir membasahi pipinya.


Perlahan dia menarik napas, lalu pelan-pelan dia membuangnya.


"Aku akan bicara yang sejujurnya, tapi aku harap kamu nggak terkejut saat mendengarnya," ujar Mbah Dijah. Tian langsung mengusap air matanya dan menatap ke arahnya.


"Katakan, Mbah," ucapnya dan Nurul secara bersamaan.


"Saat aku membantu Fira melahirkan, dia melahirkan dengan selamat. Baik Ibu atau pun bayinya. Anaknya cantik, putih dan sempurna. Hanya saja ada tanda lahir di perutnya, warnanya hitam dan cukup besar," jelasnya.


"Ini Mbah jujur, kan?" tanya Nurul memastikan.


"Iya. Aku jujur dan berani bersumpah."


Mendengar kata sumpah, Tian langsung menyentuh dadanya yang berdebar kencang. Campur aduk sekali perasan. Akan tetapi ada setitik rasa senang sebab mendengar anaknya masih hidup.

__ADS_1


"Jadi Tina masih hidup, Mbah? Lalu di mana dia?" tanya Tian.


"Yang Mbah tahu sih dia masih hidup. Tapi tentang keberadaannya Mbah sendiri nggak tahu. Soalnya sehari habis melahirkan ... Fira menitipkannya di sini, tapi besoknya pas malam-malam dia datang untuk mengambil dan nggak tahu mau dibawa ke mana bayi itu," jelas Mbah Dijah.


"Kalau begini, sama saja aku nggak bisa ketemu dengan Tina dong. Bagaimana kalau Fira membuang anakku ke sungai? Lalu dimakan buaya dan ...." Tian menggantung ucapannya sebab tak kuat akan bayangan horor yang melintas di otaknya. Seumur hidup, dia baru tahu kalau ada seorang ibu yang begitu jahat kepada darah dagingnya sendiri. 'Fira benar-benar kejam. Kalau polisi berhasil menemukannya, aku akan menambahkan hukuman untuknya!' batin Tian menangis.


"Mbah ada foto Tina nggak, pas dia menginap di sini? Setidaknya aku dan Tian bisa melihat wajahnya lewat foto, meskipun nggak bisa bertemu lagi," pinta Nurul.


'Fir, kamu ini gila apa gimana? Kenapa kamu tega sama Mama dan Tian? Kenapa kamu juga begitu tega pada Tina? Dia masih bayi, belum ada dosa dan pasti ingin hidup. Kamu benar-benar bukan manusia, Fir,' batin Nurul dengan segenap rasa kecewa dan jengkel yang beradu jadi satu. Tak terbayang sebelumnya, jika Fira bisa setega ini. Bahkan dia seperti sudah tak ada perikemanusiaan.


"Kayaknya sih ada, suamiku sempat memfotonya lewat hape. Sebentar ... aku tanya suamiku dulu, masih ada nggak foto Tina." Mbah Dijah perlahan berdiri. Kemudian melangkah pergi untuk menemui sang suami.


Nurul meraih tubuh Tian, lalu memeluknya. Dia merasa bersalah sekali. Sebab tindakan Fira yang kelewat batas itu bisa berhasil tanpa sepengetahuannya. "Tian, maafin Mama. Mama ikut bersalah karena selama ini nggak mengawasi Fira dengan benar. Maafkan Mama, Ti," sesalnya sambil menangis.


"Sekarang aku musti gimana, Ma?" tanya Tian tersedu-sedu. "Aku barusan senang karena mendengar Tina masih hidup. Tapi kira-kira, dibawa ke mana anakku sama Fira? Aku harus tanya siapa lagi sekarang? Sedangkan Firanya saja hilang entah ke mana."


"Kita tunggu Mbah Dijah, barangkali foto itu masih ada. Nanti kita akan mencari Tina lewat foto. Mama yakin ... dia pasti masih hidup, Ti." Nurul sebenarnya tidak yakin. Hanya saja sengaja dia mengatakan hal demikian supaya membuat hati Tian sedikit lega.

__ADS_1


Sekitar 5 menit, akhirnya Mbah Dijah kembali dengan membawa ponsel Android di tangannya, lalu duduk di kursinya semula.


...Bentar lagi kayaknya nih 🤣 tapi aku yang deg-degan 🤭...


__ADS_2