Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
364. Om bayi


__ADS_3

"Kalau aku memang bukan anak yang diharapkan, terus kenapa Papa memintaku untuk pulang?!" tanya Steven dengan tangis yang sudah pecah.


"Karena Papa menyayangimu! Begitu pun dengan calon adikmu, Stev!" balas Angga.


"Papa bohong! Papa nggak sayang sama aku!" teriak Steven marah, kemudian langsung mematikan panggilan. "Hiks! Hiks!" Steven sampai menangis tersedu.


"A, apa yang terjadi?" tanya Citra penasaran seraya menyentuh lengan Steven.


Bukannya dijawab, Steven justru langsung menarik Citra, lalu memeluk tubuhnya dengan erat.


Mungkin sebagian orang akan menganggap jika dirinya lebay. Tapi memang apa yang dirasakan Steven saat ini begitu sakit. Dari awal sampai setua ini dia memang tidak mau memiliki adik, karena baginya menjadi seorang Kakak itu tidak enak.


Sudah sakit karena itu, sekarang sakitnya makin bertambah saat mengetahui sebuah kenyataan besar jika dirinya lahir akibat ko*ndom bocor. Sungguh benar-benar diluar nalar, sebab dia sendiri memang baru tau.

__ADS_1


"Ada apa Om?" tanya Juna heran. Dia sampai turun dari pangkuan Citra sebab tubuhnya terjepit di antara keduanya.


"A, kok diem aja? Jawab dong," tanya Citra sekali lagi, sebab pertanyaannya tadi belum dijawab. Dia pun perlahan mengusap lembut rambut kepala Steven.


"Kata Papa, masa aku bukan anak yang diharapkan, Cit? Kok tega banget, ya, mereka sama aku, hiks! Hiks!" lirih Steven sambil menangis.


"Kok bisa gitu, A?"


"Iya, mereka bilang kalau aku lahir karena awalnya ko*ndom Papa yang dipakai bocor. Aku sudah sebesar ini baru tau, Cit, hiks!"


"Kamu diem dulu, Jun, Om lagi sedih ini," ucap Steven yang sudah sesenggukan. Dia tak mau momen kesedihannya itu rusak akibat pertanyaan dari keponakannya.


"Tapi, A, kenapa Aa musti sesedih ini?" Citra mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kamu kok nggak peka, sih, Cit? Aku sedih ya karena aku lahir gara-gara itu. Kan memang benar, aku adalah anak yang nggak diharapkan."


"Ya sudah sih, A, mungkin memang ini jalannya Aa lahir ke dunia. Lagian ... Aa juga 'kan ganteng dan sehat walafiat. Nggak ada yang perlu ditangisi, kecuali kalau Aa lahirnya cacat. Itu baru, kan ini nggak," tutur Citra dengan lembut. Ada yang dia katakan memang ada benarnya.


"Iya, sih, tapi tetap saja aku sakit hati. Rasanya tuh aku kayak sia-sia bisa lahir ke dunia, hiks!" ringisnya yang masih tersedu.


"Jangan bilang kayak gitu, A, nggak boleh." Citra menggeleng cepat. Perlahan dia merelai pelukan dan mengusap air mata pada kedua pipi Steven. "Lebih baik kita kembali saja sama mereka, kumpul lagi kayak dulu. Aku yakin ... meskipun mereka punya anak baru, tapi mereka tetap sayang kok sama Aa."


"Beneran kamu yakin, kalau mereka tetap menyayangiku?!" Steven terlihat ragu. Dia menatap lekat bola mata Citra.


"Iya." Gadis itu mengangguk cepat, lalu tersenyum dengan hangat. "Coba Aa lihat saja, Kak Sofyan dan Mbak Nissa itu Kakak Aa, tapi Mama dan Papa buktinya masih tetap menyayangi mereka. Jadi kenapa Aa musti takut nggak disayang pas punya adik?"


'Apa maksud mereka? Om Steven punya adik? Benarkah?' batin Juna menerka-nerka. Dia masih memerhatikan Steven yang masih menangis meratapi nasibnya. 'Kalau memang benar Oma hamil ... berarti Juna akan punya Om baru dong, ya, tapi nanti dipanggilnya siapa? Masa Om Bayi? Kan nggak lucu.'

__ADS_1


...Lucu lah, Jun, yang penting 'kan sama-sama bayi 🤭...


__ADS_2