
"Karena ...." Tian mengantung ucapannya lantaran perutnya mendadak terasa melilit. Sakit seperti ingin buang hajat. Dan tiba-tiba, terdengar suara nyaring yang keluar dari bibir keriput di bawah sana.
Dut!
Tian dan Nissa melotot bersama, tampak kaget secara bersamaan.
"Kamu kentut? Jorok amat?" Sebelum Nissa mencium bau gas beracun, dia sudah menutup hidung. Sang tersangka itu pun lantas berdiri dengan wajah merahnya.
"Maaf, Nis, aku kelepasan. Aku ke toilet dulu sebentar!" Tian langsung berlari keluar, membawa rasa mules, malu dan takut yang bercampur menjadi satu.
Nissa juga ikut keluar dari ruangannya, lalu memanggil seorang cleaning servise yang baru saja lewat.
"Sini kamu!" perintah dengan gerakan tangan.
"Ada apa, Bu?"
"Tolong semprotkan pengharum ruangan di ruanganku sebentar."
"Baik." Pria berseragam itu mengangguk, lantas masuk ke dalam dan langsung menyemprotkan pengharum ruangan yang kebetulan dia pegang.
Nissa menghela napas, lalu geleng-geleng kepala.
Sementara itu di toilet, Tian yang tengah duduk sambil buang hajat itu terus menggerutuki dirinya sendiri.
Harga dirinya sudah benar-benar tak ada. Tian juga membayangkan, betapa ilfilnya Nissa nanti. Semuanya telah hancur, dan tak ada lagi harapan.
Jangankan untuk menjadi pendamping, menerimanya sebagai temannya pun rasanya tidak akan.
"Hari ini benar-benar sial!" Tian menjambak rambutnya sendiri, geram pada keadaan. "Tadi pagi, Fira minta cerai, terus aku ditonjok dept collektor dan sekarang ... keborokanku sudah terbongkar. Nissa sudah benci padaku, memecatku, dan mungkin dia juga sekarang sudah jijik."
__ADS_1
"Ah Tian ... jangankan untuk menjadikannya istri, berteman saja dia sudah tak mau." Tian mengusap kasar wajahnya. Ingin sekali dia teriak, bahkan menangis di dalam sana. Namun, tidak dia lakukan.
Tian memilih untuk mempercepat aktivitasnya itu, kejujurannya belum sepenuhnya dia ungkapkan dan harus diselesaikan sekarang juga.
"Sekalian saja deh aku ungkapkan perasaanku. Kalau pun ditolak ya sudah, aku memang nggak pantes buat Nissa." Tian membereskan celananya, lalu mencuci tangan hingga bersih dengan sabun sekaligus membasuh muka. Dia menatap wajahnya ke arah cermin besar di depan wastafel, sembari membereskan rambut. "Ibarat benda, Nissa itu berlian yang ada ditoko perhiasan. Mahal, cantik dan indah. Sedangkan aku? Apa, ya? Mungkin batu yang ada di kali, atau batu itu apa namanya ... yang buat gosok pantaat panci?" Terdiam sejenak, memikirkan batu yang dia maksud. "Ah lupa, intinya aku dan Nissa bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh berbeda." Tian geleng-geleng kepala.
Setelah dirasa selesai, Tian pun keluar dan melangkahkan kakinya hingga bertemu Nissa di depan ruangan. Wanita itu sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Maafin aku, Nis, aku nggak bermaksud kurang ajar sampai berani—"
"Udah masuk,“ sela Nissa cepat seraya membuka pintu. Mereka pun masuk bersama dan duduk ke tempat semula, seperti tadi.
Nissa membuang napas, lalu meletakkan kedua lengannya di atas meja. "Cebok nggak kamu tadi?"
"Cebok kok. Memangnya bau, ya?" Tian sontak panik. Dia langsung berdiri dan menciumi tangannya yang baru saja dia tempelkan pada bokongnya sendiri.
"Ya sudah, duduk lagi." Menunjuk ke arah kursi.
"Tadi pembicaraan kita belum selesai. Lanjutkan lagi masalah tadi."
"Iya, Nis, aku minta maaf dan—"
"Nggak perlu minta maaf lagi," potong Nissa cepat. "Kita langsung ke alasan kamu menggagalkan rencana."
Tian mengangguk, perlahan dia pun menatap mata Nissa. "Itu karena aku mencintaimu, Nis. Aku baru sadar ... kalau cintaku sejak dulu itu tumbuh kembali. Dan kalau boleh jujur ... awal Fira memintaku untuk menguras hartamu aku itu nggak mau, saat tahu kamu itu adalah Nissa, teman SMAku."
"Fira itu istrimu?" tanya Nissa bingung. Tian langsung mengangguk. "Terus, maksudnya tahu itu aku apa? Aku nggak ngerti." Sebagian kata yang Tian ucapkan memang terdengar ambigu.
"Fira, hanya menyuruhku untuk mendekati Mbaknya Steven. Dan aku sendiri awalnya nggak tahu kalau Mbaknya Steven itu adalah kamu, Nis. Dan saat aku tahu ... rasanya aku nggak bisa melakukannya. Perasaanku malah jadi cinta padamu. Jangankan untuk menguras harta, membuatmu marah dan sedih pun aku nggak tega." Menggeleng samar.
__ADS_1
"Kenapa kamu cinta padaku?" Kening Nissa mengerenyit. "Memangnya kamu nggak cinta sama Fira?"
"Aku mencintainya, bahkan sangat. Dia istriku dan apa pun yang dia minta selalu aku turuti. Ya termasuk ingin mendekatimu. Tapi ... saat aku memandangmu, semua rencanaku gagal. Aku nggak bisa menuruti permintaan istriku karena aku telah jatuh hati padamu. Bahkan cinta ini ...." Tian menyentuh dadanya yang terasa berdebar. "Sudah ada sejak aku SMA. Namun sayang, aku nggak pernah berani mengungkapkannya."
"Kenapa?"
"Karena aku malu. Aku juga merasa nggak pantas." Pandangan mata Tian kini turun dan menjadi kosong. "Aku juga yakin, kalau kamu pasti menolakku. Aku ini 'kan kutuan dulu, dekil lagi."
Nissa menghela napasnya dengan berat. Lalu memijit dahinya. Mendadak kepalanya terasa pusing.
"Aku nggak minta pernyataan cintaku kamu terima, Nis," ucap Tian dengan wajah sedih. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Nissa melirikkan matanya. "Aku tahu, selain kamu nggak mau menikah ... kamu pasti nggak suka padaku. Bahkan sekarang mungkin sudah menjadi benci."
"Tapi ... tolong beri aku kesempatan untuk bisa bekerja lagi di sini," pinta Tian, kedua tangannya menangkup dengan wajah memelas. "Aku berjanji, selama aku kerja ... aku nggak akan berbuat neka-neko termasuk menguras harta. Kalau pun kamu nggak mau temenan sama aku lagi itu nggak masalah." Tian menggeleng cepat. "Aku akan bekerja secara profesional dan menganggapmu sebagai atasanku. Melihat senyumanmu setiap hari saja sudah membuatku bahagia."
Nissa termenung. Memikirkan apa yang pria itu ucapkan. Sama sekali hatinya tidak meleleh karena pernyataan cinta itu. Sebab Nissa sendiri memang tak suka pada Tian, menganggapnya hanya sebatas teman.
Namun, yang dia pikirkan adalah tentang semua alasan pria itu bekerja. Yakni benar, niat awalnya adalah ingin menguras harta. Meskipun yang dia lakukan semata-mata ingi menuruti permintaan Fira. Tetap itu salah.
Akan tetapi, dibalik itu semua, mata pria itu terlihat tulus. Seolah apa yang dia ucapkan adalah sebuah kejujuran. Dan sekarang membuat hati Nissa bimbang.
'Apa Tian benar-benar jujur? Apa ucapannya bisa aku pegang?' batin Nissa. 'Tapi kata Steven dan Kevin ... dia itu tukang bohong. Apa mungkin yang dia katakan hanya bohong? Mengarang cerita? Supaya meyakinkan aku?'
Cukup lama Nissa bergumam dengan hati dan pikirannya, sampai akhirnya semuanya pecah lantaran Tian kembali bersuara.
"Apa kamu nggak percaya sama aku, Nis? Tentang semua yang aku katakan?" Seolah Tian tahu dan bisa membaca, hingga dia bertanya seperti itu.
"Aku bingung, Ti. Aku nggak tahu apa yang kamu ucapkan itu sebuah kejujuran atau kebohongan."
"Kalau nggak percaya ya sudah, nggak apa-apa kok." Tian mengulas senyum paksa. Tampak jelas jika wajahnya itu menahan kesedihan. "Aku juga nggak maksa untuk kamu percaya. Dan soal bekerja lagi ... Nggak apa, kalau kamu nggak bisa memberikanku kesempatan. Aku akan menerimanya dengan lapang dada." Perlahan lengan kanan Tian terulur menuju meja, lalu mendarat pada punggung tangan wanita itu dan mengusapnya dengan lembut. "Aku ingin berterima kasih, karena kamu sudah mengizinkanku untuk menjadi manager di restoran mewahmu walaupun hanya sebentar. Dan berkatmu juga, aku baru sadar ... jika selama ini, istriku nggak benar-benar mencintaiku, Nis."
__ADS_1
Tian cepat-cepat mengusap wajahnya, hampir saja air matanya itu meleleh. Perlahan dia pun berdiri sambil terus menjaga sikap meskipun tubuhnya sudah terasa lemas. "Aku permisi kalau begitu, semoga kamu bisa mendapatkan manager yang kamu inginkan, Nis. Semoga kamu juga selalu bahagia dan sehat. Aku titip salam untuk Juna, ya? Dia adalah anak laki-laki yang tampan, hebat, cerdas dan begitu sayang padamu. Aku harap ... dia akan terus menjagamu sampai kapan pun. Terus membuatmu tersenyum. Karena kamu jauh lebih cantik jika sedang tersenyum ketimbang menangis." Tian tersenyum, lalu perlahan kakinya melangkah keluar dari sana. Nissa hanya diam dan menatapnya, hingga bahu lebar itu menghilang.
...Otw jadi pengangguran ya Om 🥲 jangan lupa siapin duit buat besok, Om. Buat bayar dept collektor 🤧...