
"Ah itu ...." Angga pun seketika terdiam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa bingung untuk menjawab apa, tapi kalau berbohong rasanya tidak mungkin juga. Sebab nantinya akan banyak pertanyaan dari Steven tentang alasannya. 'Ah, ini gara-gara mulut Steven. Jadi kebongkar deh, kalau sudah begini 'kan aku bingung mau jawab apa.' Angga membatin dengan kesal.
"Iyalah, Mbak, namanya orang ngidam ya hamil." Lagi-lagi, Steven yang menyahut. Tapi Nissa dan Sofyan terlihat sedang menatap serius wajah Angga, mereka seolah ingin mendengar langsung jawaban yang keluar dari mulut papanya.
Padahal, niat awal Sofyan datang adalah untuk memberikan perhitungan kepada Steven. Sebab pria itu telah menghancurkan pintu rumah dan belum bertanggung jawab.
Namun, sekarang, jawaban dari Angga sepertinya jauh lebih penting.
"Maafin Mama dan Papa, Nis, Yan," ucap Angga dengan wajah bersalah. "Apa yang dikatakan Steven benar. Sebentar lagi kalian akan punya adik baru."
"Astaghfirullahallazim." Sofyan langsung beristighfar sambil tepok jidat, sedangkan Nissa hanya diam. Namun, tak dipungkiri jika wajah keduanya tampak kecewa. "Tapi kok bisa, sih, Mama hamil lagi, Pa? Kan Mama sudah tua," tambah Sofyan
"Opa mungkin rajin kencingin Oma, Pakde." Juna menyahuti.
"Kencing?!" Sofyan mengerutkan keningnya menatap Juna.
"Soal itu Papa juga nggak tau, Yan, yang ngasih anak 'kan Allah," jawab Angga. Mungkin jawaban itu memang yang paling aman dan tentu masuk akal. "Tapi Papa minta ... kalian harus menerima adik kalian, ya? Sayangi dia seperti kalian menyayangi Steven." Lantas, menatap Nissa dan Sofyan silih berganti.
"Tapi kasihan Mama kayaknya, Pa, harusnya umur segitu jangan hamil lagi." Nissa membuka suara.
__ADS_1
"Papa dan Mama juga maunya begitu, Nis," sahut Angga. "Mengingat kalau kami bukan hanya sudah punya cucu, tapi cicit pun sudah punya. Ya tapi mau gimana? Udah begini jalannya," tambahnya pasrah.
"Memangnya Mama nggak diKB?" Sofyan kembali memberikan pertanyaan. Rasanya dia masih penasaran.
"Kata Mama sih udah nggak dari setahun yang lalu," sahut Angga.
"Kenapa nggak diKB? Harusnya diKB saja, Pa," tanya Nissa.
"Karena awalnya kata Mama dia udah nggak haid, Nis. Mama berpikir kalau itu tandanya sudah menopause," balas Angga seraya menatap Nissa.
"Tapi bukannya Papa itu sering ngeluh encok, ya? Kalau habis bercinta?" tanya Sofyan heran.
"Iya." Angga mengangguk. "Selain itu durasinya juga nggak pernah lama, paling 3 menit. Tapi semenjak kamu memberikan obat kuat untuk Papa ... semuanya seperti lenyap, Yan. Papa nggak pernah encok lagi kalau selesai bercinta. Malah tambah bergairah." Wajah pria tua itu seketika merona, sebab seketika membayangkan istrinya tanpa busana.
"Berarti selain Papa yang salah, disini Kakak juga salah." Steven menatap Sofyan dengan sinis. Menurutnya, sang Kakak ikut berperan dalam semua ini.
"Maksudnya?!" Sofyan menatap Steven dengan raut bingung.
"Coba Kakak nggak berikan Papa obat kuat. Pasti Papa nggak akan sering ngajak Mama bercinta dan membuatnya hamil!" tegas Steven dengan suara yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Lha, Kakak memberikan obat kuat karena kasihan sama Papa. Karena dia sering ngeluh encok, Stev!" tegas Sofyan. Benar, niat dia memang hanya itu. Sebagai seorang anak tentu dia juga ingin melihat orang tuanya bahagia.
"Ya harusnya, kasih saja obat encok, Kak! Bukan obat kuat untuk bercinta! Kakak ini gimana, sih?! Kok begitu saja—"
"Kamu nggak perlu menyalahkan Kakakmu, Stev!" Angga cepat-cepat menegur, sebelum kakak beradik itu berantem. Mengingat mereka berdua juga sama-sama berwatak keras dan emosian. "Masalah adikmu 'kan sudah selesai, kamu juga sudah bilang akan menerimanya. Harusnya nggak perlu diperpanjang lagi," tambahnya.
Steven menghela napas dan langsung berdecak, lalu masuk ke dalam mobilnya. Juna dan Jordan pun ikut masuk ke dalam sana.
"Apa kalian akan marah sama Papa dan Mama?" tanya Angga menatap Nissa dan Sofyan yang masih berdiri di tempat. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Tentu dia akan sedih, jika setelah Steven—akan ada anak yang lain yang marah padanya. "Sekali lagi Papa minta maaf, kalau membuat kalian kecewa."
"Aku sih nggak marah, Pa. Tapi kalau kecewa sih iya," balas Nissa, lalu mendekat ke arah Angga dan memeluk tubuhnya. "Tapi Papa tenang saja, aku akan menerimanya. Walau bagaimanapun dia adalah adikku," tambahnya sambil mengelus punggung Angga dengan lembut.
"Kalau kamu gimana, Yan?" Angga menatap Sofyan.
"Nggak tau deh, Pa, mau marah pun kayaknya percuma juga. Orang dia udah ada di perut Mama." Sofyan geleng-geleng kepala, merasa bingung untuk bersikap seperti apa. Tapi untuk marah sepertinya memang tak ada gunanya. "Aku titip Jordan saja deh, Pa, aku mau mengantar Maya ke dokter kandungan." Kakinya melangkah menuju mobil. Tapi saat dirinya hendak membuka pintu, tiba-tiba Angga mencekal lengannya.
"Dokter kandungan? Jangan bilang kalau Maya sedang hamil juga, Yan?!" Angga tercengang dengan mata Angga yang melebar sempurna. Hanya baru menebak, tapi kepalanya sudah sakit duluan.
...Masa iya hamil juga🤣 apa nggak berisik itu nanti pas lebaran 🤭...
__ADS_1