Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
72. Apa benar aku menyukainya?


__ADS_3

Tiga hari selama Steven berada di rumah sakit, hampir setiap malam Citra tak bisa tidur. Dia terus memikirkan keadaan Steven serta memikirkan tentang hubungan di antara Steven dan Fira.


Dia yakin, atas keinginan Sindi—mereka pastinya akan menjadi lebih dekat.


"Aku kangen banget sama Om Ganteng. Bagaimana kabarnya, ya? Apa sampai sekarang dia belum sadar?" Monolog Citra bertanya pada diri sendiri. Perlahan dia pun mengusap air mata yang baru saja lolos di pipinya. Entah apa sebabnya dia menangis, tetapi anehnya tiba-tiba ada perasaan tak enak yang menyelimuti hati dan pikirannya.


"Aku mau coba jengkuk dia deh, siapa tahu Om Ganteng sudah sadar. Nanti 'kan supaya aku bisa sekalian memintanya untuk memilih."


Citra mengambil tas ranselnya, lalu memakai pada punggung. Dia menatap cermin dulu untuk membereskan rambut dan make upnya. Setelah menurutnya tak ada masalah, lantas dia keluar dari apartemen.


"Nona Citra mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Ajis. Memang tidak biasanya Citra keluar pagi dijam setengah 6. Mengingat kalau ingin berangkat kuliah dia juga pasti diantar Gugun sejak kemarin-kemarin.


"Aku mau jenguk Om Ganteng, Om."


"Ya sudah, ayok saya antar," tawar Ajis.


"Om nggak usah ikut." Citra menggeleng cepat. "Aku ada urusan sama Om Ganteng."


"Oh begitu, ya nggak apa-apa. Saya antar Nona sampai rumah sakit saja. Habis itu saya nggak akan mengikuti." Meskipun Steven sedang tidak ada di apartemen, Ajis tentu masih setia bekerja dengannya. Melakukan hal yang Steven perintahkan, yaitu mengawasi Citra.


"Oke deh." Citra mengangguk, kemudian keduanya itu berjalan keluar hingga menaiki mobil taksi sama-sama.


"Nona semalam nggak bisa tidur, ya? Dan apa Nona baik-baik saja?" Ajis yang berada di kursi depan di samping sopir tengah memutar kepalanya ke belakang, melihat Citra yang sejak tadi menatap kosong pada jendela mobil.


Seketika gadis itu terhenyak dalam lamunannya, kemudian menoleh ke arah Ajis.


"Om tanya apa tadi?"


"Apa Nona baik-baik saja? Dan apa semalam Nona nggak bisa tidur?" tanya Ajis yang mengulang pertanyaan lagi.


"Aku baik-baik kok, Om. Tapi kalau semalam nggak bisa tidur ... itu memang iya. Malah semenjak Om Ganteng di rumah sakit ... aku nggak bisa tidur," jawab Citra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kok Nona nggak temani Pak Steven di rumah sakit? Dia pasti sedang membutuhkan Nona, kan?"


"Aku mau menemaninya, tapi masalahnya ada keluarganya, Om."

__ADS_1


"Terus kenapa?"


"Om Ganteng sendiri yang melarangku. Dia nggak mau aku bertemu keluarganya."


"Aneh sekali." Ajis menggaruk rambut kepalanya. Tidak gatal, cuma heran dengan cerita Citra. "Masa seorang istri nggak dikenalkan sama orang tua?"


"Ya mungkin itu karena aku istri yang nggak dia inginkan, Om." Citra yang mengucapkannya sendiri, tetapi dia sendirilah yang merasa sakit dan perih. Tak lama dia pun menangis dan dengan cepat Ajis memberikan sekotak tissue kepadanya.


"Nona jangan berkata seperti itu. Mana mungkin Pak Steven tidak menginginkan Nona."


"Memang itu kenyataan kok, Om." Citra menyusap air matanya dengan menggunakan tissue. Entah sudah berapa kali air mata yang dia habiskan untuk Steven, rasanya banyak hingga tak terhitung.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil taksi itu berhenti di depan rumah sakit. Citra bergegas turun dari sana.


"Om langsung pulang saja. Nanti aku akan telepon Om Gugun untuk menjemputku," pinta Citra.


Ajis mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Nona hati-hati, ya! Kalau butuh apa-apa bisa telepon saya."


"Iya, Om." Citra tersenyum lalu melambaikan tangannya. Setelah melihat mobil taksi itu pergi, perlahan dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit.


***


Steven sedang memperhatikan Fira yang begitu telaten menyuapinya. Wajah gadis itu tampak begitu cantik dengan senyuman di bibir.


"Apa enak buburnya, Pak?" tanya Fira dengan lembut, pelan-pelan dia menyeka bibir Steven dengan menggunakan tissue. Ada sisa bubur pada bibirnya. "Ini saya yang buat lho, Pak," tambahnya.


Steven hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Lidah tak bisa bohong, Steven akui jika bubur itu memang enak.


Sekilas terbersit tentang Citra. Dan Steven langsung membanding-bandingkannya. Saat tadi dia merasa haus saja—cukup dengan menyentuh leher Fira sudah mengerti maksud keinginannya.


Berbeda dengan Citra, bahkan gadis yang dia anggap oon dan tak bisa apa-apa itu sama sekali tak mengerti ketika dirinya meminta untuk mengambil air dingin. Steven ingat momen itu, begitu menjengkelkan menurutnya.


Mimpinya tadi kembali berputar dalam ingatan. Entah hanya sekedar mimpi bunga tidur atau memang itu adalah sebuah pesan yang disampaikan oleh Danu. Steven sendiri belum yakin tentang hal itu, tetapi mimpinya itu tergambar jelas seperti nyata.


'Apa benar Ayah membatalkan kontrak itu dan memperbolehkan aku untuk memilih? Dia nggak akan memintaku untuk terus bersama Citra sampai dia berumur 20 tahun? Jadi ... aku bisa melepaskannya kalau memang ada perempuan lain di hatiku? Tapi ... siapa perempuan itu? Apa Fira? Apa benar aku menyukainya?'

__ADS_1


'Tapi ... bagaimana nasib Citra kalau kita bercerai? Om Tegar dan Om Tian ... mereka akan terus menganggunya. Apa aku pilih Citra saja? Dan jujur sama Mama dan Papa? Tapi ... ah, lagi-lagi aku merasa sulit. Aku bingung untuk memilih.'


Steven masih diambang dilema, tetapi lagi-lagi perkataan dan sikap dari Fira yang menurutnya jauh dengan Citra itu justru membuat hatinya tersentuh. Tersentuh hingga seolah-olah mencoba meyakinkan jika gadis itulah yang akan menjadi istri terbaik.


Steven hampir tak melihat celah dan sisi ketidaksempurnaan yang ada didiri Fira.


Sekarang, gadis itu tengah membantunya untuk menelan obat. Lalu sekarang tangannya yang begitu lincah itu sedang mengupas mangga, buah kesukaan Steven.


"Apa Bapak suka buah mangga? Ini mangga harum manis dan aku beli yang paling manis buat Bapak," ujar Fira sambil tersenyum dan memotong-motong buah itu lalu menaruhnya di atas piring.


Steven hanya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Fira kembali menyuapinya dan seketika membuat hati Steven terasa hangat.


Perlahan Steven membuang napasnya dengan kasar, lalu berucap dengan pelan. "Siapa yang membawaku ke rumah sakit, Fir?"


"Kata pihak polisi, sih, warga sekitar yang menemukan Bapak di semak-semak."


"Sudah berapa hari aku ada di sini?"


"Mungkin dua atau tiga hari." Fira menyuapi potongan buah itu lagi ke bibirnya, dan Steven mengunyahnya pelan-pelan.


"Apa Gugun datang ke sini?"


"Saya nggak tahu." Fira menggeleng. "Dari awal Bapak masuk rumah sakit, saya yang setiap hari disini nggak lihat Pak Gugun."


'Kalau Gugun nggak tahu aku masuk rumah sakit ... berarti Citra juga nggak tahu. Tapi ... kenapa mereka nggak mencariku?'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Sabar ya, Gays😌. Seperti apa yang pernah aku kasih tahu ... kalau ini adalah sebuah konflik. Cerita tanpa konflik tentu nggak seru. Iya, kan?...


...Jujur ... aku tuh sebenernya nggak bisa buat konflik berat, apa lagi sampai buat pembaca nangis, itu sulit kayaknya 🙈 karena aku sendiri lebih suka adegan lucu-lucuan, meskipun kadang garing 😂...


...Dan mungkin dengan adanya konflik ini ... Citra akan sedikit demi sedikit menjadi dewasa 🙂...


...Vote mingguan udah ada, kan? Jangan lupa kasih vote ke novel ini, ya. 😂 hadiah juga jangan lupa 🤣....

__ADS_1


...Maaf banyak minta 🥲 karena dukungan pembaca sangat penting untuk popularitas novel ini. Dan lagian gratis juga, kan? Apa salahnya kita berbagi, okey 😉...


...Jangan lupa siapkan tissue juga buat episode selanjutnya, akan ada yang menangis 🥺😭...


__ADS_2