Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
91. Hanya mau bersama Citra


__ADS_3

"Eeeuughhhh!" Tak kuat rasanya, Angga akhirnya mengejen juga dan seketika membuat Steven mual sebab menghirup aroma tidak sedap itu.


"Uueekk!" Cepat-cepat Steven menutup mulut dan bibir. Matanya terbelalak kala tersadar jika Papanya itu tengah buang hajat. "Dasar Papa jorok! Kenapa berak di depanku?!" gerutu Steven, lantas dia pun langsung berlari keluar dari sana. Meninggalkan Angga yang tengah berkonsentrasi mengeluarkan beberapa pisang goreng.


"Stev, Mama mau bicara deh sama kamu," ucap Sindi seraya menghampiri Steven yang baru saja menutup pintu kamar.


"Bicara apa? Aku mau basuh muka dulu, mual rasanya." Steven berlalu masuk ke dalam kamar. Selang beberapa menit dia pun kembali, wajahnya tampak basah sisa air.


"Kita bicara di ruang keluarga saja, Stev," ajak Sindi yang sejak tadi masih berada di sana. Kemudian, dia pun melangkah menuruni anak tangga lebih dulu.


Mereka berdua pun duduk di ruang keluarga, Sindi di sofa panjang sedangkan Steven di sofa single sembari menyandarkan punggung dan kepalanya.


"Ada apa, Ma? Kok diem? Aku masih ada urusan nih." Steven melihat ke arah Sindi, wanita itu sejak tadi diam dan hanya memandanginya.


"Ini, Stev. Mama mau membicarakan tentang masa depanmu."


"Maksudnya?"


"Tentang hubunganmu dan Fira bagaimana?"


"Hubungan dengan Fira?" Alis mata Steven bertaut. "Sejak kapan aku punya hubungan dengannya? Hubunganku antara bos dan sekertaris saja."


"Kamu masa lupa, kan Mama mau kamu dan dia menikah."


"Dih, tapi 'kan Mama tahu aku sudah punya pacar."


"Jadi kamu pacaran mau niat serius sama si Citra itu?"


"Ya iyalah. Masa nggak, Mama ini aneh." Steven mendengkus kesal.


"Tapi katanya tadi pacarmu mau dinikahi Gugun?"


Mata Steven terbelalak. Dia tampak terkejut dengan apa yang Sindi katakan. "Kata siapa dia mau dinikahi Gugun? Aku yang akan menikahinya!" tegas Steven dengan lantang.


"Kamu yang mengatakannya tadi, Mama hanya nggak sengaja dengar obrolan kamu sama Papa."

__ADS_1


"Oh ...." Steven langsung membuang napasnya dengan lega, baru mendengar saja tubuhnya sudah terlihat gemetaran. Apa lagi benar-benar terjadi?


"Jadi kamu nggak mau menikah dengan Fira dan memilih menikahi pacarmu? Kasihan Firanya dong, Stev."


"Kok jadi kasihan sama Fira?"


"Dia 'kan nungguin kamu terus, Stev. Dia ngebet banget nikah sama kamu."


"Tapi aku nggak mau nikah sama Fira, Ma." Steven menggeleng cepat. "Aku hanya mau bersama Citra. Hanya dia satu-satunya." Steven perlahan menyentuh dada. Mendadak jantungnya berdebar kencang kala menyebut nama itu.


"Memang seperti apa sih pacarmu itu? Umur berapa dan tinggal di mana?"


Steven merogoh ponselnya di dalam kantong celana. Lalu memperlihatkan foto Citra pada Sindi.


Wanita tua itu langsung menatap layar ponsel itu dengan seksama, kemudian membandingkan dengan wajah Fira dalam khayalannya.


"Ternyata Citra itu Dedek Gemes yang Papa ceritakan itu lho, Ma," ujar Steven dengan wajah berseri-seri.


"Dedek Gemes?" Sindi sendiri belum tahu wajah Dedek Gemes yang Angga maksud. Bukan Angga tak mau memberitahu sebenarnya, hanya saja Sindi memang tak pernah suka jika suaminya membahas gadis itu. "Ini mah bocah, Stev. Masih unyu-unyu banget. Kamu pacaran sama anak SMP? Yang benar saja." Sindi geleng-geleng kepala.


"Dia sudah kuliah, Ma."


"19, tapi sebentar lagi 20."


"MasyaAllah, Stev. Selisihmu dengannya saja 16 tahun. Jauh sekali dan ini masih bocah banget. Mana bisa dia jadi istrimu."


"Memang kenapa kalau selisih 16 tahun? Cinta 'kan nggak pandang usia, Ma. Dan aku juga masih kelihatan umur dua puluhan kok," ujar Steven dengan pede.


"Tapi ini masih bocah, Mama nggak yakin dia bisa masak dan masa iya dia mau sama kamu?"


"Maksud Mama apa? Mama pikir aku setua itu?" Mata Steven langsung melotot. Ucapan yang terlontar dari mulut mamanya itu seakan menyinggung perasaannya dan membuat emosinya naik.


"Dih, bukan masalah itu." Sindi menggeleng cepat, sepertinya Steven salah paham. "Maksud Mama dia itu masih muda dan katanya masih kuliah. Memang mau diajak nikah? Nggak sayang sama masa mudanya?"


"Umur segitu sudah pantes kok buat nikah. Dan dia juga bilang mau aku ajak nikah."

__ADS_1


"Tapi Mama nggak sreg sama dia, Stev." Sindi menggeleng. Dia akui memang Citra cantik dan imut, hanya saja Sindi tak yakin jika nantinya gadis itu bisa menjadi istri yang baik untuk Steven. Mengingat umurnya juga masih terlalu muda. "Menurut Mama mending kamu sama Fira saja. Umur lebih dewasaan Fira dan apa pun Fira bisa melakukannya. Kamu enak pokoknya kalau menikah dengannya, Stev," kata Sindi dengan yakin.


"Nggak mau." Steven menggeleng cepat. "Aku mau sama Citra."


Sindi membuang napasnya dengan kasar. "Apa dia bisa masak?"


"Bisa."


"Masak apa?"


"Apa saja dia bisa." Mudah sekali mulutnya berbicara, padahal dulu Steven sering mengatakan Citra tidak bisa apa-apa.


"Masa sih?" Sindi menatap bola mata Steven yang terlihat bergerak-gerak. Dia curiga kalau anaknya itu berbohong. "Kamu pasti bohong, kan?"


"Ngapain aku bohong? Aku jujur." Steven berekspresi seserius mungkin, supaya mamanya itu tak curiga. "Citra itu bisa segalanya. Dandan, masak, rajin sholat dan yang terpenting susunya gede." Steven langsung menampar bibirnya. Aneh, bisa-bisanya dia keceplosan mengucapkan hal itu.


Jujur saja, sejak awal dia terbangun dari tidurnya, bayangan tubuh Citra yang polos terus berada diangan-angan. Dan itu seakan membuatnya hilang fokus dengan segala hal.


"Apa tadi kamu bilang? Susu?"


"Nggak!" bantah Steven sambil menggeleng cepat.


"Kamu bilang tadi susunya gede. Memang kamu pacaran sama dia sambil lihat susunya?" tanya Sindi menatap curiga.


"Nggak."


"Bohong kamu!" tukas Sindi tak percaya. "Itu kok kamu bisa tahu kalau Citra susunya gede? Dari mana coba?"


"Ya kelihatan, Ma. Meskipun nggak lihat langsung kalau montok 'kan nonjol," jawab Steven dengan wajah yang tiba-tiba merona.


Sindi pun langsung menyentuh dahi Steven dengan punggung tangannya, mengecek suhu tubuhnya.


"Kenapa, Ma? Aku nggak sakit." Steven tampak heran dengan apa yang Sindi lakukan.


"Mama ngerasa aneh sama kamu. Kok kamu mesum, sih, sekarang? Padahal dulu kamu alim, lho, Stev."

__ADS_1


...Serius, Ma, tampang kek begini alim? 🤭...



__ADS_2