Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
201. Dia hanya benalu


__ADS_3

Cukup lama Tian menangis di dalam kamarnya, hingga deringan ponsel di kantong celana membuatnya mengakhiri tangisnya.


Tian mengusap kasar wajahnya, lalu berdiri seraya mengambil ponselnya. Sebuah panggilan masuk tertera di sana, dari Thomi.


"Halo, Thom," ucapnya saat mengangkat panggilan. Tian juga berlari keluar kamar hingga rumah, lalu segera masuk ke dalam mobil.


"Ada di mana kamu? Aku udah di restoran yang kamu kirimkan. Katanya kita ketemuan pagi-pagi."


Sengaja, Tian mengajak Thomi ketemuan pagi-pagi. Supaya nantinya tidak menganggu waktu kerja Tian.


"Iya, tunggu aku sebentar." Tian mematikan panggilan, lalu mengantongi ponselnya di dalam saku jas.


Mesin mobil itu dia nyalakan, kemudian mulai mengendarainya dengan kecepatan full.


Namun sayang, saat setengah dari perjalanan itu mendadak ada pengendara motor gede yang tiba-tiba menyalip lalu berhenti tepat di depannya.


Untungnya, Tian mengerem mobilnya dengan cepat dan tepat waktu. Kalau tidak, mungkin kecelakaan itu akan terjadi.


Dua orang yang duduk di motor itu lantas turun, lalu berjalan cepat mendekati mobil Tian.


"Buka!" teriak salah satu dari mereka seraya mengedor kaca mobil.


Mereka dua orang pria yang berwajah sangar. Badannya besar, tinggi dan kulitnya hitam serta kepalanya plontos. Jaket kulit berwarna hitam yang mereka pakai bertuliskan nama dept collektor. Sangat jelas, jika mereka adalah penagih hutang.


Tian menurunkan kaca mobilnya, lalu menatap wajah keduanya. Tidak asing, sebab dia tahu mereka adalah anak buah dari salah satu rentenir yang dia pinjam uangnya.


"Cepat bayar hutangmu sekarang juga!" tekannya dengan tangan kanan yang menadah ke depan.


"Pak, tolong beri waktu seminggu lagi. Aku akan bayar semuanya," pinta Tian dengan wajah memelas.


"Nggak ada seminggu seminggu. Aku mau sekarang!" Pria itu membuka pintu mobil, lalu menarik kasar kerah kemeja Tian hingga tubuhnya keluar dari mobil.


"Kau sudah sebulan menunggak dan Minggu ini waktu terakhirmu, Tian!" tegas temannya. Kedua tangannya sudah mengepal, bersiap untuk menghajar pria itu.


Sisa hutangnya pada mereka sebenarnya 10 juta, yang awalnya Tian pinjam 30 juta. Namun, karena banyaknya tunggakan, uang 10 juta menganak menjadi 15 juta.


Dan hutang Tian bukan cuma pada salah satu rentenir saja, ada satu orang lagi.


Kemarin, Tian sudah membayar hutang pada yang satunya, tapi yang satu ini belum dan maka dari itu mereka marah.


Penyebab Tian hutang adalah Fira, untuk mencukupi kebutuhannya. Membeli baju, membeli tas dan sepatu. Sudah begitu, harga yang Fira inginkan begitu fantastis.


Supaya wanita itu tak marah, Tian pada akhirnya rela berhutang. Namun sayang, sudah rela berkorban begitu Fira justru bilang dia pria tidak berguna.


Setiap bertemu, Tian mencari alasan dan meminta waktu. Namun kali ini, dia tidak bisa berkutik lagi.


"Tapi masalahnya aku nggak punya uang, Pak. Uangku hanya untuk makan dan ...."


Bugh!

__ADS_1


Ucapan Tian mengantung kala perutnya itu ditonjok oleh salah satu dari mereka dengan kuat. Mata pria itu sontak melotot merasakan sakitnya.


"Cepat bayar! Kalau tidak, kami akan mengajarmu!" tekan pria itu lagi.


Tian cepat-cepat merogoh ponselnya, mengecek saldo m-bankingnya yang ternyata tersisa lima juta.


Segera, dia kirim semuanya. Tanpa berpikir akan makan apa dia nantinya.


Yang terpenting sekarang, Tian bisa selamat dari amukan mereka. Sebab ada Thomi dan pekerjaan yang menunggunya saat ini.


Salah satu pria itu mengambil ponsel miliknya sendiri, saat mendengar suara notifikasi pesan masuk uang yang Tian kirim.


Dia tersenyum, namun tampak menyeringai.


"Kami tunggu sisanya besok. Kalau kau tidak mampu melunasinya ... aku akan membawa paksa mobilmu!" ancamnya seraya menonjok kembali perut Tian.


Bugh!


Teman dari pria itu langsung melepaskan kerah kemeja Tian dengan sedikit dorongan. Lantas keduanya pun melangkah menuju motor. Naik ke atas sana lalu berlalu pergi.


Tian terjatuh menahan perutnya yang begitu sakit, lalu tak lama dia pun muntah-muntah.


"Uueek! Uueek!"


Tonjokan yang cukup kuat itu membuat nyeri dan isi sarapannya yang hanya secangkir kopi itu langsung terbuang sia-sia.


***


"Aku titip Juna dulu, Pa, aku mau bertemu Mbak Nissa," pinta Steven pada Angga. Tangannya melambai pada satpam yang menjaga di depan pintu kaca, untuk membantunya membawa barang-barang yang dia bawa di dalam bagasi belakang mobil.


"Dih, Papa ke sini juga mau bertemu sama managernya Nissa, Stev."


"Mau ngapain?" Kening Steven mengerenyit.


"Mau tanya-tanya, Papa penasaran. Soalnya dia sedang dekat sama Nissa."


"Oh. Tapi nanti saja, urusanku jauh lebih penting, Pa. Sekarang Papa ke taman antar Juna lalu siapkan untuk membakar jagung. Nanti nggak lama aku nyusul."


"Urusan apa, sih?" Angga tampak penasaran.


"Nanti aku ceritakan, tapi nggak sekarang."


Steven langsung berlari masuk ke dalam restoran melalui pintu kaca. Tangan kanan Angga pun ditarik oleh Juna, dan Kevin lantas berdiri di bahu kiri Juna.


"Aku mau langsung main kelereng, Opa," pinta Juna. "Tapi bertiga dulu saja, nanti Om Steven nyusul."


"Kamu berdua dulu deh, ya, nanti Opa sama Om Steven yang nyusul." Angga mengusap rambut kepala cucunya. Lalu menatap ke arah satpam yang tengah menjinjing tas besar. "Aku titip Juna dan Kevin burungku. Bawa mereka ke taman dan jagain, jangan sampai kenapa-kenapa!" tekan Angga dengan tegas.


"Baik, Pak." Pria berseragam itu mengangguk cepat. "Ayok Dek Juna."

__ADS_1


"Opa jangan lama-lama, ya?" pinta Juna. "Juna juga mau main kelereng sama Opa dan Om Steven."


"Iya. Opa nggak lama." Angga membungkuk untuk mengecup kening cucunya. Lalu melangkah masuk ke dalam restoran.


Juna melangkah bersama satpam itu, sedangkan Kevin terbang mengikuti. Mereka menuju sebuah taman yang letaknya di belakang restoran.


Ada beberapa meja dan kursi juga di sana, untuk para mengunjung yang memesan tempat outdoor.


Kebetulan, Thomi memesan tempat juga di sana. Duduk di salah satu meja yang jaraknya tak jauh dengan meja yang Juna duduki saat ini.


***


Sementara itu, Steven berdiri di depan ruangan Nissa seraya mengetuk pintu. Sebelumnya, dia bertanya pada salah satu pelayan, tentang di mana Nissa berada. Dan dia memberitahu jika wanita itu ada di ruangannya.


Tok ... Tok ... Tok.


"Mbak!" pekik Steven.


"Masuk!" jawab Nissa sedikit berteriak. Pria tampan itu bergegas menurunkan handle pintu, mendorongnya lalu melangkah masuk ke dalam sana.


Wanita yang sibuk dengan laptopnya itu langsung mengalihkan pandangan ke arah adiknya. Keningnya mengerenyit, heran saja mengapa pria itu ada di sana.


"Kamu, Stev. Ada apa? Si Juna nanyain kamu tuh di rumah Papa. Ajak main kek, mumpung hari Minggu," ucap Nissa saat melihat adiknya itu duduk di sofa.


"Aku ke sini sama Juna dan Papa. Mbak sini dulu deh. Aku mau ngobrol." Steven menggerakkan dagunya.


Nissa berdiri dari kursi putarnya, lalu melangkah menghampiri Steven. Duduk di sofa panjang di samping sofa single yang Steven duduki.


"Ada apa?" tanyanya penasaran.


"Aku dengar dari Juna ... katanya Om Tian itu teman SMA Mbak, ya?"


"Kamu kenal Tian juga, Stev?" Nissa berbalik tanya.


"Kenal. Selain dia adalah mantan papanya Kevin ... dia juga Omnya Citra."


"Oh benarkah?" Nissa tampak antusias sekali mendengarnya. Matanya pun berbinar. "Mbak baru tahu."


"Aku juga baru tahu kalau Om Tian itu teman SMA Mbak. Dan Mbak sekarang lagi dekat sama dia, ya?" tebak Steven.


"Nggak sih, biasa saja," bantah Nissa sambil menggeleng. "Dia sama Mbak hanya teman."


"Aku minta, Mbak jauhi Om Tian. Nggak usah berteman sama dia, dia hanya benalu, Mbak."


"Maksudnya benalu?" Kening Nissa mengerenyit. Tak paham dengan perkataan adiknya.


...Ayok Om Stev, bongkar kebusukan Om Tian. Biar cukup dia jadi Om mertuamu aja, jangan jadi Kakak ipar 😆...


...Vote sama hadiahnya jangan lupa kasih, Guys, biar Om Tian semangat. Eh salah, maksudnya aku yang semangat buat nulis 🤣...

__ADS_1


__ADS_2