
"Untukmu lah, untuk siapa lagi?!" ujarnya sembari terkekeh kemudian langsung menghantamkan benda itu ke perut Fira.
Cterr!!
"Aakkhh!" Fira menjerit kesakitan. Terasa perih dan kulit putihnya sontak tergores memerah. "Jangan! Jangan lakukan itu lagi!" pinta Fira dengan kedua tangan yang saling menangkup. Dia seakan memohon ampun.
Tangan Aril yang sudah berada diudara hendak memecut Fira lagi langsung dia turunkan. Kemudian dia terkekeh lagi. "Kalau nggak mau dipecut, mangkanya goyang yang benar!" ancamnya sambil melotot.
Fira mengangguk cepat, lalu berjoget dengan heboh mengikuti irama musik DJ itu. 'Kenapa aku jadi disiksa begini? Kenapa?' batinnya terenyuh dengan air mata yang berlinang.
"Hapus air matamu!" geram Aril lalu mengangkat kembali tangannya yang memegang benda itu ke udara. "Kalau nggak, aku akan memecutmu lagi dan menjadikanmu kuda lumping!"
"Jangan!" pinta Fira sambil menggeleng. Cepat-cepat dia menyeka air mata di pipi.
"Sekarang tersenyum dan nikmati semua apa yang aku perintahkan!"
Fira mengangguk lalu tersenyum manis. Aril menyunggingkan sebelah sudut bibirnya, lalu perlahan dia melepaskan satu persatu pakaian di tubuhnya hingga polos sempurna.
Tak ada bayangan sebelumnya jika Fira harus menjadi seorang wanita penghibur. Ini sungguh mengerikan dan menjijikkan menurutnya. Apalagi permainan dari pria itu sangatlah ganas dan cukup ekstrim.
Bukan hanya dari depan saja dia ditusuk, tetapi dari belakang pun dia mendapatkannya.
Yang bisa Fira lakukan hanya menjerit serta menahan tangis, berkali-kali dia menyebutkan nama Tian di dalam hati. Masih berharap akan ada keajaiban jika pria itu akan datang menolongnya.
***
Kembali ke rumah Angga.
"Bapak bawa apa itu?" tanya Bejo saat melihat Angga melangkah menghampirinya dan Dono di pos satpam. Tentengan yang sang bos bawa membuatnya penasaran.
"Kayaknya cemilan tuh, buat nemenin ngopi," tebak Dono yang duduk di samping Bejo. Alis matanya naik turun sembari menatap dua cangkir kopi buatan Kevin di atas meja.
"Bukan cemilan. Ini pantaat mainan, mau nggak kalian?" tawar Angga seraya menaruhnya di atas meja. "Kalau mau ambil saja."
"Pantaat mainan? Buat apa, Pak?" Bejo berdiri lalu membuka isi di dalam paper bag itu, kemudian kursi duduknya diduduki Angga sekarang.
"Ya buat bercinta. Ambil saja kalau mau."
"Nggak ah," tolak Bejo dengan gelengan kepala. Benda itu dia taruh kembali di atas meja di depan Angga. "Buat Dono saja. Mau nggak kamu, Don?" tawarnya menatap Dono. Pria berbadan gempal itu menggeleng.
"Nggak ah ngapain. Aku 'kan punya istri," balasnya.
"Iya. Aku juga," timpal Bejo.
__ADS_1
Angga menatap dua sangkar burung yang menggantung di pos satpam. Yang besar berisi Kevin dan Janet, dan yang kecil untuk kedua anak-anak mereka.
Angga memisahkan dua burung itu karena keinginan Kevin. Katanya, empat burung dalam satu sangkar itu membuat ruangannya menjadi sempit meskipun sangkarnya berukuran besar.
Luki dan Luna tengah duduk bersama, mata keduanya terpejam. Sedangkan Kevin dan Janet tidak dapat Angga lihat sebab sepertinya mereka ada di dalam glodok.
"Bapak mau ngopi nggak?" tanya Bejo.
"Mau. Buatkan kopi kesukaanku."
"Oke." Bejo mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar dia dan Dono. Yang berada di samping rumah Angga.
"Bapak malam ini pasti lagi libur bercinta, ya, sama Bu Sindi?" tanya Dono basa-basi. Memulai obrolan.
"Iya." Angga mengangguk. "Si Juna lagi ikut tidur bareng. Tapi nggak apa-apa, mengalah sama anak iya, nggak?"
"Iya." Dono mengangguk lalu tersenyum. "Oh ya, Pak. Ada nggak, saudara atau teman Bapak yang punya banyak anak dan menginginkan anaknya diadopsi? Kalau ada, kasih tahu saya, Pak.
"Memangnya mau apa? Dan setahuku sih nggak ada, ya." Kening Angga mengerenyit. "Lagian, mana ada orang tua yang meminta anaknya diadopsi orang lain."
"Tetangga saya ada yang mengadopsi anak orang lain, Pak. Terus nggak lama istrinya hamil."
"Maksudnya buat pancingan?"
"Terus, bayi yang diadopsi itu dikembalikan ke orang tuanya?"
"Nggak." Dono menggeleng. "Kan sudah diangkat anak. Mereka juga menyayanginya, sedangkan orang tuanya sendiri udah nggak mau ngerawat karena kekurangan biaya. Jadi itu menjadi anak mereka selamanya."
"Terus, hubungannya denganmu apa?" Angga jadi bingung dengan arah obrolan mereka, tak lama Bejo pun datang lalu menaruh secangkir kopi di atas meja. "Ini kita ngomong apa, sih? Kok ke bayi-bayi?"
"Si Dono ingin mengadopsi bayi katanya, Pak." Bejo yang berbicara. "Tapi dia bingung." Sepertinya, sebelum mengobrol pada Angga, Dono sudah lebih dulu mengobrol dengan Bejo.
"Bingungnya kenapa? Dan kenapa kamu mau mengadopsi bayi?" tanya Angga. "Memangnya kamu belum punya anak?"
"Belum, Pak." Dono menggeleng cepat. "Saya dan Della sudah menikah selama 18 tahun. Tapi belum dikasih momongan."
"Udah periksa kesehatan kalian belum?"
"Udah."
"Apa kata dokter?"
"Della istri saya nggak subur, Pak."
__ADS_1
"Saya sudah mengusulkan Dono untuk menikah lagi, Pak. Tapi dia nggak mau." Bejo ikut-ikutan nimbrung. Dia lantas duduk di kursi kosong di depan Angga.
"Emang aku kamu?" tukas Dono menatap sengit temannya. "Aku mah orangnya setia, Jo. Lagian menurutku cinta itu nggak bisa dibagi."
"Ya daripada punya istri nggak bisa punya anak. Mending nikah lagi atau cari yang lain. Iya 'kan, Pak?" Bejo menatap Angga.
"Nggak boleh kayak gitu lah, Jo," tegur Angga yang tidak setuju. "Kasihan dong. Kan sebelum menikah ada ucapan kalau kita harus menerima apa adanya. Jadi ya harus kita terima. Mandul 'kan bukan kemauan dia." Angga mengulurkan tangannya ke arah bahu kiri Dono. Lalu mengelusnya. Dilihat wajah pria gendut itu begitu sendu. "Kalau kamu kepengen punya anak, kenapa nggak coba bayi tabung saja?"
"Sudah, Pak. Tapi tiga kali gagal."
"Bagaimana kalau mengadopsi bayi di panti asuhan?" usul Angga. "Mau nggak? Nanti besok aku hubungi pihak panti asuhan yang kemarin diundang saat acara si kembar."
"Saya sudah mencoba mengadopsi anak di panti asuhan. Mungkin sudah tiga kali. Tapi umur mereka nggak pernah lama," jawabnya dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Meninggal?"
"Iya." Dono mengangguk. "Apa mungkin saya dan istri nggak pantas jadi orang tua, ya, Pak? Sampai berkali-kali kami gagal?" tanyanya dengan hati yang terenyuh.
"Nggak lah. Kamu dan istrimu pantes kok. Nanti besok kita pergi saja ke panti asuhan, ajak istrimu juga. Nanti kita cari anak yang cocok kalian."
"Tapi saya takut nanti dia malah meninggal pas bersama kami, Pak," ucapnya frustasi.
"Jangan bilang begitu. Nanti sebelum resmi diadopsi kita undang salah satu ustadz untuk mendo'akannya. Kamu juga harus berdo'a supaya calon anakmu panjang umur."
"Amin, terima kasih, Pak. Besok kita berangkatnya pagi-pagi atau gimana? Nanti saya telepon istri saya dulu."
"Pagi setelah sarapan saja."
"Oke." Dono mengangguk.
***
Keesokan harinya.
Juna mengerjapkan matanya secara perlahan saat dia merasakan perutnya mulas seperti ingin buang air besar. Segera dia pun duduk, lalu menoleh ke kanan dan kiri. Ada Angga dan Sindi di sampingnya. Mereka masih tertidur lelap.
Akan tetapi, Juna memilih untuk beranjak dari kasur. Sebelum keluar kamar, dia sempat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3. Sudah pagi dan menurutnya, proses kencing Tian pasti sudah selesai.
Jadi Juna memutuskan untuk pergi ke kamar mereka. Dia berlari terbirit-birit sembali menyentuh bokong, takut jika keluar di celana. Lantas dia pun menggedor-gedor pintu.
"Papi! Mami!" teriaknya kencang. Berkali-kali handle pintu itu dia turun naikkan. "Papi! Juna mules banget! Pengen berak!" teriaknya lagi sambil meremmas perut. Pisang goreng di dalam sana seperti sudah tak sabar ingin segera keluar.
...Heboh bener sih, Jun. Belum selesai pasti mereka didalam 🤣...
__ADS_1