Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
178. Mau kawin sama Kevin


__ADS_3

Selang beberapa menit pintu kamar mandi itu dibuka. Citra telah selesai mandi dengan memakai lilitan handuk di atas dada.


Matanya membulat dengan langkah yang langsung terhenti kala melihat menampakan suaminya yang tanpa busana. Steven tengah tersenyum manis sembari mengelus si Elang yang tegak berdiri dalam genggaman.


"Ayok naik, Cit! Kita bercinta," ajaknya.


Wajah Citra langsung merona. Namun segera dia memalingkan wajah, lalu melangkah menuju lemari dan membukanya.


Melihat sikap acuh Citra, Steven langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampirinya, gegas dia pun mendekapnya dari belakang seraya menciumi rambut Citra yang basah habis keramas.


"Jangan ngambek mulu dong. Aku minta maaf, Cit," pinta Steven lembut.


"Minta maaf doang mah percuma kalau mengulang," sahut Citra seraya melepaskan lengan Steven yang melingkar di perutnya, dia pun mengambil baju tidur lengan pendek berwarna merah. Begitu pun dengan dallamannya.


"Aku nggak akan mengulanginya kalau Gugun nggak mendekatimu. Kan kamu tahu sendiri aku paling nggak suka sama laki-laki yang dekat denganmu, siapa pun itu," jelas Steven. Kembali dia mendekap Citra dan menghentikan aktivitas gadis itu. "Kamu juga sama, kan? Nggak suka kalau aku dekat sama wanita lain?"


"Iya, tapi 'kan nggak usah main tangan juga, Om. Apa lagi sampai berkelahi. Kan bisa dibicarakan dengan baik-baik dulu."


"Emosiku kadang nggak ke kontrol dan refleks pengen nonjok, Cit. Udah bawaan lahir, mungkin nurun dari Papa. Tapi ...." Steven terdiam beberapa saat, mencari ide yang akan dia katakan demi meluluhkan hati Citra. "Demi kamu aku akan mencoba untuk berubah, akan mengontrol emosiku supaya nggak main tangan."


"Perasaan Papa nggak kayak gitu deh, Om. Nggak emosian," ujar Citra tak percaya.


"Kata siapa? Papa juga emosian tahu, apalagi kalau udah membara ... pasti dia juga nonjok. Aku saja pernah ditonjok gara-gara dulu nyakitin kamu." Bukan hanya saat itu saja, tapi Steven juga pernah ditonjok kalau memang dia salah dan Angga sudah kelewat kesal.


Angga memang seorang ayah yang begitu humoris, namun untuk membimbing anaknya dia selalu tegas dan tidak segan main tangan. Tapi itu berlaku untuk anak laki-laki, tidak dengan anak perempuan.


Karena menurut Angga—seorang pria akan terlihat tidak terhormat jika main tangan kepada perempuan.


"Masa, sih? Terus sakit nggak?"


"Sakitlah, orang pakai tenaga dalem."


"Kalau sama perempuan, Papa juga gitu?"


"Setahuku sih, nggak. Papa mah paling lemah sama wanita, apalagi sama Mama. Ya kayak aku gini, lemah kalau dekat kamu. Bawaannya pengen goyang mulu," katanya sambil meremmas agar-agar.


"Om mesum ih, ngomongin goyang mulu." Citra menggerakkan tubuhnya, mencoba menghentikan aksi suaminya.


Namun, remmasan yang Steven lakukan malah makin menjadi hingga handuk putih itu terlepas dan jatuh.

__ADS_1


Melihat sudah tak ada lagi penghalang ditubuh Citra, segera dia pun mengendongnya lalu membawa menuju kasur.


"Jangan bercinta sekarang, Om, ini 'kan masih sore. Malu sama Papa dan Mama."


Pelan-pelan Steven membaringkan tubuh Citra, tangannya kembali meremmas dada dan memilin puncaknya.


"Malunya kenapa? Kan kita bercinta di kamar, bukan di depan mereka." Steven naik ke atas tubuh Citra, lalu membungkuk dan menyesap salah satu agar-agarnya. Menyusu layaknya bayi yang tengah kehausan.


Sedang enak-enaknya melahap, terdengar suara ketukan pintu. Citra yang sudah merem melek itu lantas menoleh ke sumber suara.


"Steven! Ada orang diluar mencarimu!" pekiknya. Suaranya itu milik Sindi.


Citra mendorong kepada Steven, hingga aktivitas pria itu terhenti, dilihat wajah tampan itu begitu merah. Birahinya memuncak di dalam dada.


"Om, itu ada orang nyari Om kata Mama," ucap Citra. Takutnya Steven tak mendengar karena terlena.


Steven melepaskan tangan Citra di pipinya, kemudian naik lagi ke atas tubuh gadis itu dengan lutut yang menopang. Lalu melanjutkan kembali aktivitas menyusunya.


Kalau sudah berdua dan diposisi nikmat, Steven tak mau mengakhirinya sebelum tuntas. Sudah cukup dia tunda kemarin karena Citra sakit, sekarang adalah waktunya. Maka dari itu dia mengabaikan ketukan Sindi sampai akhirnya Mamanya itu memilih untuk mengakhiri.


Setelah cukup puas, akhirnya proses penyatuan dengan gaya baru yang Steven cari digoogle itu dipraktekkan.


*


*


*


Keesokan harinya.


Hujan mengguyur ibu kota Jakarta, dua insan yang habis bertarung dengan peluh semalaman itu kini berada di dalam selimut di atas kasur. Saling memeluk dan terlelap dari tidur.


Namun, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari jendela kamar yang mengusik tidur Citra.


"Saya kedinginan! Tolong buka jendelanya!" serunya dari sana.


Citra mengerjapkan matanya. Suara itu terdengar asing di telinga dan tak lama kemudian kaca jendela itu bunyi. Seperti ada yang mengetuknya.


Citra mengangkat tubuhnya hingga duduk, kemudian menjatuhkan kakinya ke lantai dan memakai baju tidurnya yang berada di atas nakas. Kakinya melangkah menuju jendela, lalu membukanya.

__ADS_1


Tiba-tiba seekor burung Kakatua terbang masuk, kemudian berdiri di atas sofa.


"Dingin!" ucap burung itu dengan suara bergetar. Bulunya terlihat basah kuyup dan sepertinya dia memang kedinginan.


Jendela itu kembali ditutup, lalu mengambil handuk yang berada di lantai bekas Citra mandi tadi sore. Segera dia pun menghampiri burung yang dia yakini adalah Kevin, lalu menyelimuti tubuhnya.


"Kamu kok hujan-hujanan Kevin? Nanti masuk angin gimana? Kan nggak bisa dikerik," kata Citra lalu mengusap jambulnya.


"Saya bukan Kevin!" jawab burung itu sambil menggeleng.


Kening Citra mengerenyit. Memang dari suaranya bukan milik Kevin, namun siapa lagi kalau bukan Kevin, burung Kakatua yang ada di rumah Angga? Itulah hal yang terlintas di otak Citra saat ini.


"Bukan Kevin? Terus kamu siapa?"


"Saya Janet!"


"Janet?" Citra terdiam beberapa saat sambil menatap burung itu lebih dekat. "Oh, apa mungkin kamu tersesat? Rumahmu di mana? Nanti kalau sudah reda hujannya aku antar pulang."


"Saya mau tinggal di sini!"


"Kenapa? Tapi nanti yang punya kamu nyariin."


"Saya mau Papa beli saya, saya mau kawin sama Kevin."


Citra membulatkan matanya, namun dia bingung dengan maksud yang dikatakan burung itu. Pertama kata Papa, lalu kawin dan selanjutnya Kevin.


"Kamu kenal Kevin? Oh, apa mau bertemu dengannya?"


Janet mengangguk cepat. Lantas Citra mengusap bulunya dengan handuk, membantunya supaya cepat kering. Setelah itu dia pun mengajaknya keluar dari kamar. Janet langsung berdiri di bahu kiri Citra.


Ceklek~


Keluarnya Citra dari kamar bertepatan dengan keluarnya Sindi dari kamarnya sendiri. Tetapi wanita itu terlihat cantik dan wangi, seperti habis mandi.


"Lho, Cit. Kok si Kevin bisa sama kamu? Bukannya dia tadi pergi sama Papa, ya?" tanya Sindi bingung.


"Dia bukan Kevin, tapi namanya Janet, Ma," kata Citra yang mana membuat kening Sindi mengerenyit. "Dia tadi ada di jendela dan minta tolong, tapi setelah aku tolong ... dia malah bilang katanya pengen kawin sama Kevin."


...Yang satu nggak mau kawin, yang satu mau kawin. gimana itu? 🤣 Ampe rela ujan-ujanan lagi 🤭...

__ADS_1


...Vote sama hadiahnya jangan lupa dibagi, Guys. Biar semangat 🙏...


__ADS_2