Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
360. Sudah malam


__ADS_3

"Nggak ada, Yang," ucap Tian yang kembali berdiri, lantas melangkah menuju pintu kamar.


"Kok bisa, sih, si Juna nggak ada?"


"Aku coba cek ke kamar sebelah, kamu istirahat saja di sini," tegur Tian seraya melangkah keluar kamar. Nissa yang memang sudah turun dari kasur langsung berbaring lagi, tubuhnya memang terasa lelah.


β€œJuna!” teriak Tian seraya membuka pintu kamar urutan kedua. Kemudian masuk dan mencari-cari anaknya sampai kolong tempat tidur dan masuk kamar mandi. "Jun!"


Namun sayang, tidak ada Juna di sana.


Sekarang, Tian beralih ke kamar sebelah. Kemudian memanggil lagi. "Jun! Apa kamu ngumpet? Cepat keluar, Sayang!" pekik Tian.


Tak ada sahutan, dicari pun tetap tidak ada.


Setelah itu Tian memutuskan untuk keluar dari kamar, kemudian turun ke lantai bawah. Berniat bertanya pada pembantu rumahnya.


"Bi! Tolong buka pintunya sebentar!" titah Tian seraya mengetuk pintu. Dia sudah berdiri di depan kamar pembantunya.


Tak berselang lama, pintu itu pun dibuka. Keluarlah Bibi pembantu dengan mata sayunya. Tampaknya dia sudah tidur tadi.


"Ya, Pak?" sahut Bibi.


"Maaf, ya, Bi, kalau aku ganggu Bibi," ucap Tian tak enak hati.


"Nggak kok, Pak, ada apa, ya?" Bibi mengusap kedua matanya, lalu menatap ke arah Tian.


"Bibi lihat Juna nggak?"


"Tadi sih lihat, memangnya kenapa, ya, Pak?"


"Kok dia nggak ada di kamar, Bi? Bibi lihat di mana memangnya?" tanya Tian penasaran.


"Tadi dia duduk di sofa ruang tamu, Pak. Tapi pas Bibi ke dapur dia udah nggak ada. Bibi kira, dia sudah balik ke kamar," jelas Bibi apa adanya.


"Tapi dia nggak ada di kamar, Bi. Ke mana, ya, kira-kira?" Perasaan Tian mendadak tidak enak. Jantungnya pun ikut berdebar kencang.


"Coba tanya satpam depan. Soalnya tadi saya sempat lihat Dek Juna ngobrol sama laki-laki dan perempuan di ruang tamu."


"Laki-laki dan perempuan?!" Kening Tian seketika mengernyit. Tapi jantungnya makin berdebar kencang. "Siapa mereka berdua? Dan kok disuruh masuk?"


"Bibi nggak kenal. Awalnya ada yang memencet bel, terus masuklah seorang perempuan tapi dia kelihatan marah-marah sambil menyebut-nyebut nama Bapak dan ...." Ucapan Bini pembantu seketika menggantung kala Tian sudah berlari pergi meninggalkannya.


Pria itu keluar dari rumah kemudian menemui satpam yang baru saja mengunci gerbang, sebab dia sendiri habis dari kamar mandi.


"Siapa tadi yang masuk? Kenapa Bapak nggak meneleponku dulu sebelum mengizinkannya?!" tanya Tian dengan suara lantang. Sungguh, perasaannya benar-benar tidak enak. Dia takut sekali jika Juna dibawa pergi entah oleh siapa.


"Ada tiga orang yang masuk, Pak. Satunya bilang dia adalah mantan istri Bapak dan satunya bilang adiknya Bu Nissa," jelas pria berseragam itu.

__ADS_1


"Kalau satunya lagi siapa? Kan katanya bertiga."


"Saya nggak tau." Pria itu menggeleng. "Mungkin istrinya."


Tian langsung terdiam sebentar. Tapi seketika dia pun teringat saat Citra mengatakan jika dirinya akan datang bersama Steven ke rumah.


Tapi Tian disini masih bingung dengan salah satu di antara mereka yang adalah mantan istrinya. Sebab Tian sendiri mempunyai mantan istri lebih dari satu.


'Apa jangan-jangan mantan istri yang dia maksud adalah Fira?!' batin Tian. Cepat-cepat dia pun mengambil ponselnya pada kantong celana kolor, lalu mencoba menelepon Citra.


"Nomor yang ada tuju sedang sibuk, mohon ...." Terdengar suara operator. Bisa dipastikan jika Citra sedang menelepon seseorang dari seberang sana. Sehingga membuat panggilannya sibuk.


Sekarang, Tian beralih menelepon Steven.


"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Sayang sekali, nomor Steven justru tidak aktif.


Kedua nomor itu sulit untuk dihubungi.


Merasa khawatir dan takut, Tian pun memutuskan untuk pergi ke rumah Angga. Ingin memastikannya sendiri. Tapi sebelum itu dia masuk lagi ke rumah, meminta izin kepada Nissa.


***


Sementara itu, Citra, Steven dan Juna telah sampai di depan rumah Sofyan.


Satpam depan juga membukakan pintu gerbang sebab dia sendiri tentu mengenal siapa Steven.


"Apa Papa dan Mamaku ke sini?!" tanya Steven yang baru saja turun dari mobilnya. Dia berbicara dengan satpam yang baru saja membukakan pintu mobil.


"Bawa bayi nggak mereka ke sininya?" tanya Steven lagi.


"Bawa. Yang kembar lucu-lucu itu, kan?" tebaknya. Steven mengangguk.


Citra dan Juna pun ikut turun dari mobil, kemudian menghampiri Steven.


"Kalau Papa sama Mama udah pulang dari sini terus kita ke mana sekarang, A?" tanya Citra.


"Kamu dan Juna tunggu di sini saja, Cit. Aku akan masuk dulu untuk memastikannya, benar apa nggaknya Papa dan Mama udah pulang." Seperti apa yang sebelumnya Steven lakukan, dia akan memastikannya terlebih dahulu. Sebab kalau tidak melihat langsung ke dalam, dia akan mudah percaya.


"Oke deh." Citra mengangguk.


"Nanti Om minta Budhe Maya untuk buatkan Juna susu, ya, soalnya Juna haus." Juna menyentuh tenggorokan yang terasa kering. Kebiasaannya, kalau bangun tidur itu dia harus minum. Tapi tadi Juna lupa minum sebelum berangkat. "Susu buatan Budhe enak soalnya, Om."


"Udah malem begini. Dia pasti sudah tidur, Jun." Steven melengos begitu saja, kemudian melangkah cepat menuju pintu utama rumah mewah itu.


Ting, Tong!


Bel rumah sudah dia pencet. Tapi sudah berulang kali pun tidak dibuka.

__ADS_1


Ting, Tong!


Steven langsung merogoh kantong celananya, untuk mengambil ponsel. Saat memencet tombol bagian tengah, ponsel itu justru mati. Ketika diaktifkan pun ternyata baterainya habis.


"Sini kamu!" Steven berteriak memanggil satpam tadi. Pria berseragam itu pun langsung berlari menghampirinya.


"Iya, Pak?"


"Telepon Kakakku, atau pembantu di rumah ini, supaya membukakan pintu," titah Steven.


"Tapi ini sudah malam, Pak, sudah jam 12. Saya nggak enak menelepon Pak Sofyannya." Satpam itu terlihat ragu mendengar perintah dari Steven.


"Pembantu di rumah ini saja kalau begitu."


"Kebetulan pembantu di rumah lagi pulang kampung. Di rumah hanya ada Pak Sofyan, Nona Maya dan Dek Jordan."


"Udah telepon aja. Nanti aku yang tanggung jawab kalau Kakak marah," titah Steven.


"Bener, ya, Pak. Bapak saja berarti nanti yang ngomong." Pria berseragam itu merogoh kantong celananya. Lalu mengambil ponsel dan melakukan panggilan kepada Sofyan.


Namun sebelum diangkat, benda pipih di tangannya itu segera diserahkan kepada Steven. Supaya nantinya pria itu langsung yang berbicara.


Sayangnya, menelepon Sofyan dijam-jam tengah malam seperti ini terbilang sangat susah. Tadi saat dalam perjalanan pun Citra sudah mencoba menghubungi, tapi tak kunjung mendapatkan respon.


"Nomor Mbak Maya punya nggak kamu?" tanya Steven yang tampak kesal. Sebab tadi sudah melakukan 5 kali panggilan, tapi tidak ada jawaban.


"Kalau Nona Maya sendiri saya nggak punya, Pak."


"Masa nggak punya? Dia 'kan istrinya Kak Sofyan."


"Karena istrinya maka saya nggak punya, Pak."


"Ya sudah, dobrak saja pintunya. Biar aku bisa masuk," saran Steven memberikan perintah.


"Dih, Bapak gila, ya? Mana mungkin pintu depan didobrak, yang ada Pak Sofyan murka," sahut sang satpam dengan gelengan kepala. Dia terlihat tak setuju. "Selain itu pasti susah, Pak."


"Coba saja. Nanti kerusakannya aku yang ganti."


"Aa, mending kita pulang saja, yuk, atau cari ke tempat lain," saran Citra yang baru saja melangkah menghampiri, bersama Juna yang menggandeng tangannya.


"Kan aku belum memastikannya ke dalam, Cit," sahut Steven.


"Tapi kata Om Satpam Papa dan Mama udah pulang dari sini, A. Sedangkan Kak Sofyan dan Mbak Maya pasti sudah tidur. Nggak enak mengganggu mereka."


"Nggak akan menganggu kok, orang pintunya yang didobrak," ucap Steven, lalu menatap kembali ke arah satpam. "Cepat turuti kemauanku. Sebelum aku benar-benar marah dan malah membakar rumah ini," ancamnya sambil melotot.


...Karena besok mulai puasa ... Author mau minta maaf, ya, jika punya banyak salah. Baik disengaja atau nggak disengaja πŸ˜ŠπŸ™...

__ADS_1


...Kalian juga harus minta maaf lho, sama aku, karena banyak salah 🀣...


...semoga puasanya lancar, ya, besok, sampai Magrib 🀭 nggak boleh ada yang setengah hari, ya!...


__ADS_2