Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
257. Perempuan yang patut untuk aku perjuangkan


__ADS_3

Setelah memberikan usul, Angga lantas pergi ke rumah sakit lagi seorang diri. Sedangkan Nissa memilih untuk makan, sebab perutnya terasa lapar.


Dia juga diminta anaknya untuk mengajak Tian makan di sana. Barulah setelah itu mereka pulang sama-sama.


"Ti, Papaku merencanakan sebuah ide supaya kita bisa secepatnya menikah," ucap Nissa memberitahu.


Mereka kini berada di mobil Tian. Pria itu mengemudi dan Nissa duduk di samping bersama Juna yang berada dalam pangkuan. Bocah itu tengah sibuk main game cacing pada ponselnya.


Tian langsung menoleh dengan wajah yang tampak merona. "Kamu udah kebelet nikah sama aku, Nis? Sama, aku juga."


"Dih, nggak gitu, Ti." Nissa menggeleng cepat. "Yang kepengen kita cepat menikah 'kan Juna, kamu tahu itu, kan?"


"Iya, tahu. Tapi nggak ada salahnya kamu iyain." Tian menyentuh punggung tangan Nissa, lalu menggenggamnya sebentar sambil tersenyum. "Padahal aku seneng banget tahu, Nis."


Nissa diam saja, dia hanya membalas Tian dengan senyuman.


"Ngomong-ngomong idenya apa?" tanya Tian penasaran.


"Papa memintaku supaya aku pura-pura hamil duluan, Ti. Hamil anakmu, supaya nantinya Steven merestui."


Tian sontak membulatkan matanya dengan lebar. Sangking terkejutnya dia juga mengerem mobilnya secara mendadak.


Ckiiitt!


Tubuh Nissa dan Juna terdorong maju, tetapi lengan kiri Tian terbentang menghalanginya. supaya kepala mereka tidak terbentur dasbor.


"Maaf, Nis, Jun. Aku nggak sengaja. Aku kaget," ucap Tian cepat. "Soal idenya Pak Angga, aku hargai karena itu bentuk dari supportnya kepada hubungan kita. Tapi maaf, Nis. Sepertinya aku nggak setuju."


"Kamu nggak setuju menikah denganku?" tanya Nissa.


"Bukan. Bukan itu maksudku." Tian menggeleng cepat. "Tapi aku nggak setuju sama idenya. Itu nggak bagus dan aku nggak rela kamu melakukan hal itu."


"Nggak rela kenapa? Kan aku yang pura-pura hamil. Bukan kamu."


Fokus Juna teralihkan. Dia pun lantas menatap Tian, tetapi bocah itu lebih memilih diam untuk mendengarkannya. Sebab matanya juga mengantuk.


"Kamu itu perempuan baik-baik, Nis. Kalau kamu melakukan hal itu, sama saja itu menjatuhkan harga dirimu," ucap Tian dengan sendu.


"Tapi 'kan cuma pura-pura, Ti. Aslinya 'kan aku nggak kayak gitu."


"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja. Selain aku, kamu, Juna dan Pak Angga ... mereka yang lain yang nggak tahu, pasti akan menilaimu perempuan murahan. Namaku sudah dipandang jelek sama Steven, dan aku nggak mau namamu ikut terseret. Kamu terlalu sempurna, Nis." Tian perlahan mengenggam kedua tangan Nissa dengan lembut. "Jangan lakukan itu, apalagi untuk pria yang sudah rusak sepertiku. Jangan, Nis," pintanya memohon. "Kamu sudah mau menerimaku saja aku sudah sangat bersyukur."


Selain karena itu, Tian juga tak mau membuat namanya semakin buruk dalam pandangan Steven. Selama ini dia sudah berusaha untuk berubah, meskipun sampai detik ini pria itu belum percaya padanya.

__ADS_1


"Terus sekarang gimana dong? Sedangkan aku nggak bisa apa-apa. Apa yang aku lakukan semua ini demi Juna, Ti."


"Kamu nggak perlu ngapain-ngapin sekarang, cukup aku saja yang berjuang. Aku pria sejati, Nis, dan kamu adalah perempuan yang patut untuk aku perjuangkan." Tian mengelus rambut Nissa, lalu beralih mengelus rambut Juna dan mencium kening bocah itu.


Kata-kata yang terlontar dari bibir Tian terasa menghangatkan hati Nissa. Dia dapat melihat jika benar, pria itu serius dan tulus mencintainya.


"Om minta kamu sabar, Jun." Tian mengenggam tangan kecil Juna dengan lembut. "Yakinlah, kalau kita akan segera sama-sama. Om juga mau kita menjadi satu keluarga."


"Tapi kapan, Om? Lama. Kan Om sudah menjadi duda," rengek Juna sedih.


"Secepatnya, Sayang." Tian mendekat ke arah kening Juna, lalu menciumnya. Kemudian dia kembali mengemudi.


Nissa tersenyum, matanya menatap lekat wajah Tian dari samping. 'Ya Allah, semoga Tian adalah pria yang terbaik untukku dan aku mohon ... tolong permudahkan rencana kami untuk membina rumah tangga,' batinnya.


***


Sementara itu di rumah sakit, Citra dan si kembar sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP.


Sekarang ibu muda itu tengah disuapi makan oleh Steven. Semangkuk bubur berada di tangannya.


Sedangkan si kembar, ada bersama Angga dan Sindi. Tengah di gendong. Mereka tak lagi rebutan sebab cucu baru keduanya ada dua.


Ceklek~


Pintu kamar itu dibuka dari luar, datang lah seorang gadis kecil berumur 2 tahun setengah. Dia bernama Jihan. Anak dari Rizky dan Nella.


"Kamu ke kesini saja siapa, Sayang? Duh, sudah gede ya kamu. Tapi jangan panggil Opa dong. Itu terlalu tua," ucap Steven seraya mencium gemas pipi gembul anak dari keponakannya itu.


"Telus anggil apa?" tanya Jihan dengan cadel.


"Panggil Om atau Kakak saja."


"Assalamualaikum," ucap Rizky dan Nella yang baru saja masuk ke dalam. Kedua tangan Rizky membawa parsel buah dan beberapa paper bag yang berisi baju bayi.


"Walaikum salam," jawab mereka semua yang ada di sana.


"Kalian ke sini? Tapi kok nggak sama Johan?" tanya Angga. Johan adalah anak kedua mereka yang berusia 1 tahun setengah.


"Johan dibawa main sama Papa Guntur, Opa," jawab Nella.


Dia dan Rizky mendekat ke arah Angga dan Sindi, lalu mencium punggung tangan mereka silih berganti sambil mengelus pipi si kembar.


"Lucu banget mereka, Mas. Aku jadi pengen punya anak lagi. Tapi kembar," ucap Nella seraya mengelus perutnya.

__ADS_1


"Boleh, nanti habis dari sini kita bikin, ya?" ajak Rizky seraya merangkul bahu Nella dan menaruh apa yang dia bawa di atas meja.


"Hus! Anak kalian 'kan masih kecil-kecil!" tegur Sindi.


"Iya. Nanti saja kalau Jihan udah gede, Nell," ucap Angga. "Lagian memang kamu nggak capek, setahun sekali lahiran?"


"Capek. Lagian aku juga cuma bercanda." Nella terkekeh, lantas duduk di sofa di samping Angga. Sedangkan Rizky duduk di sofa single. "Nanti saja kalau Jihan sudah masuk TK."


"Iya. Itu bagus," jawab Angga.


"Tapi di KB 'kan kamu? Jangan bilang nanti ada istilah k*ndom bocor," tegur Sindi.


Dia teringat tentang alasan Nella hamil lagi karena k*ndom bocor. Padahal aslinya tidak, Rizkynya saja yang tidak pakai pengamanan.


"DiKB kok, aku KB suntik, Oma," jawab Nella lalu menoleh ke arah Citra. "Lahirannya normal nggak, Tan?"


"Normal, alhamdulillah." Citra mengangguk lalu mengulas senyum.


"Sudah dikasih nama belum, Om, si kembar?" tanya Rizky.


"Belum, ini juga—"


"Si Juna ngusulin nama Upin Ipin, Stev," potong Angga cepat. "Bagaimana menurutmu? Lucu 'kan namanya?"


"Masa Upin Ipin, emang anakku kartun? Nggak ah." Steven menggeleng tak setuju.


"Kalau Tom dan Jerry bagaimana, Stev?" usul Sindi.


"Apa lagi itu." Steven menggeleng cepat. "Nggak mau, memang Mama pikir anakku kucing sama tikus? Nanti yang ada mereka berantem kaya tokoh kartun itu."


"Bagaimana kalau Tono Toni," usul Nella.


"Katro, Nell."


"Udin Idin gimana, Om?" usul Rizky.


"Ih, ogah, Riz. Nanti yang ada anakku bau ketek lagi." Steven menggeleng lagi, tanda tak setuju. Nama Udin tentu tak asing, tetapi itu sangat membuatnya mual.


"Apa hubungannya Udin Idin sama bau ketek?" tanya Rizky bingung.


"Ada temennya Citra yang bernama Udin. Dia bau ketek."


"Tapi 'kan nggak semua nama Udin bau ketek, Om."

__ADS_1


"Iya, bener tuh." Angga menimpali. "Udah Udin sama Idin saja. Udin Prasetyo dan Idin Prasetyo. Bagus, kan, Stev?"


...Iya, bagus Opa 🤣...


__ADS_2