
"Mana mungkin bocil stres, Papa jangan ngarang deh," sahut Steven tak percaya.
"Dih, kamu nggak percaya? Ayok kita ke dokter yang memeriksa Juna. Kebetulan pas diperiksa di sini juga rumah sakitnya." Angga mengangkat bokongnya seraya menarik tangan Steven, tetapi pria itu segera menepisnya dengan kasar.
"Aku nggak mau. Apa pun alasannya pokoknya aku nggak akan setuju Om Tian bersama Mbak Nissa!" tegasnya dengan penuh penekanan.
Juna membelalakkan matanya, lalu menatap tajam Steven dengan wajah merah dan emosi menggebu. "Juna benci Om Steven! Mulai sekarang Om Steven akan Juna coret dari anggota keluarga Juna!" teriaknya marah.
Bocah itu lompat dari kursi, kemudian berlari kencang. Angga yang melihatnya lantas berlari mengejar Juna. Khawatir jika bocah itu kenapa-kenapa.
Bruk!
Juna menabrak tubuh seseorang, dan saat dia mendongak ternyata orang tersebut adalah Nissa. Dia pun perlahan memeluk perut wanita itu, lalu menangis terisak.
Sekarang, Juna berada dititik dimana puncak kesedihan. Itulah sebabnya dia kali ini tidak bisa menahan untuk tidak menangis.
"Kamu kenapa, Jun? Kok nangis?" tanya Nissa seraya mengelus rambut anaknya.
"Juna benci sama Om Steven, Mi, hiks."
"Benci kenapa?"
"Om Steven nggak sayang sama Juna. Dia tetap nggak mau merestui Om Tian untuk jadi Papi Juna. Om Steven jahat! Juna benci sama Om Steven, Mi!" teriak Juna yang makin kencang menangis. Dia mempererat pelukannya.
Nissa hendak menarik tubuh anaknya, ingin dia gendong. Tetapi dengan cepat Angga sudah mengendongnya, lalu memeluk dan mengecupi rambut kepala Juna.
"Opa pecat saja Om Steven dari anak Opa. Juna nggak mau punya Om jahat," rintihnya. "Kok bisa Om Steven nggak ngalah? Nggak mikirin kebahagiaan Juna? Juna 'kan cuma minta Papi baru, bukan emas permata, Opa. Hiks ... Hiks."
"Kamu ikut Papa, Nis." Angga menggenggam tangan kanan Nissa, lalu menarik dan membawanya pergi.
"Mau ke mana, Pa? Aku belum lihat si kembar," tanya Nissa, tetapi kakinya melangkah mengikuti sang Papa.
Ternyata Angga membawanya ke sebuah restoran yang berada tepat di seberang jalan. Mereka duduk pada sebuah meja. Angga memesan susu coklat dan kentang goreng untuk Juna, sebab bocah itu tadi belum sempat menyeruput susunya di kantin.
Angga duduk sambil memangku cucunya. Juna masih menangis tetapi tidak ada suaranya. Sambil memeluk tubuh Angga.
"Ada apa, Pa? Kok ngajak ke restoran?" tanya Nissa bingung dengan tujuan Angga yang membawanya ke sana.
"Papa punya ide untuk membantumu, Nis," ucap Angga.
__ADS_1
"Ide untuk apa?"
"Supaya kamu dapat restu Steven, untuk bisa menikah dengan Tian."
Mendengar itu, Juna sontak membulatkan matanya. Segera dia pun menghentikan tangisannya lalu mengusap air mata di pipi.
"Ide apa, Opa?" tanya Juna.
"Mungkin ini terdengar konyol, Nis. Tapi sepertinya hanya inilah jalan supaya Steven setuju."
"Ya apa?" Nissa menatap Angga serius.
"Kamu harus berpura-pura hamil duluan."
Mata Nissa terbelalak. "Hamil duluan? Hamil sama siapa, Pa?"
"Hamil duluan itu apa, Opa?" tanya Juna penasaran.
"Hamil sebelum menikah." Angga menjawab pertanyaan Juna, kemudian menjawab lagi pertanyaan Nissa. "Ya anaknya Tian lah, Nis. Masa anak Bejo."
"Tapi aku belum pernah berhubungan badan sama Tian, Pa. Jangankan berhubungan badan ... ciuman saja belum pernah," jawab Nissa jujur.
"Kamu jangan banyak tanya dulu, Jun." Angga mengambil potongan kentang goreng, lalu mengarahkannya ke bibir Juna. Bocah itu pun langsung membuka mulut dan mengunyahnya. "Ini kamu makan kentang saja. Kamu jangan banyak bertanya dulu."
Bocah itu menurut. Dia mengangguk sambil melahap kentang goreng. Tetapi telinganya masih mendengar jelas apa yang Angga dan Nissa katakan.
"Papa tahu kamu belum pernah melakukan apa-apa dengan Tian. Tapi ini hanya pura-pura saja," jelas Angga. "Dan Papa yakin ... kalau Steven tahu kamu hamil anak Tian ... dia mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, pasti akan setuju."
"Tapi itu sama saja membohonginya, Pa. Bohong 'kan dosa," ungkap Nissa.
"Anggap saja ini adalah bohong demi kebaikan. Yaitu kebaikan untuk Juna."
Jujur, dari lubuk hati terdalam Angga juga belum sepenuhnya rela jika anaknya berumah tangga dengan Tian. Pria yang menurutnya tidak baik. Tetapi di sini Angga hanya ingin Juna bahagia. Dia juga ikut pusing mendengar rengekannya, sebab keinginan bocah itu tidak terwujud.
Seperti apa yang pernah dia katakan, restu Steven sebenarnya tidak penting. Tetapi walau bagaimanapun Steven tetaplah adiknya. Saat Nissa disakiti oleh suaminya pria itu ikut turun tangan juga bersama Sofyan, menghajar Papi Juna sampai masuk ke UGD.
"Juna setuju, Mi!" sahut Juna dengan mulut yang terpenuhi kentang. Dia tidak mengerti sepenuhnya apa yang Angga sampaikan, tetapi inti dari pembicaraan pria itu adalah untuk bisa membuatnya cepat menjadikan Tian Papi barunya.
"Ya sudah, aku sih terserah Papa sama Juna," jawab Nissa.
__ADS_1
"Jangan terserah dong. Kamu 'kan yang menjalani. Kamu sendiri sebenarnya suka nggak sih, sama Tian?"
"Kalau suka sih untuk sekarang belum, nggak tahu nanti. Tapi ada pepatah bilang ... lebih baik dicintai daripada mencintai, Pa."
"Kenapa begitu?"
"Ya kalau kita dicintai kita akan merasa dispesialkan. Dihargai juga. Aku mengingat pengalamanku dulu. Aku dulu sangat mencintai Papinya Juna, tapi sebaliknya apa? Dia malah berselingkuh. Dan sepertinya dulu hanya aku di sini yang mencintainya, Pa."
"Tapi 'kan dulu Papinya Juna juga mencintaimu. Kalau nggak cinta dia nggak mungkin menikahimu."
"Itu karena aku duluan yang terus minta dihalalin. Aku yang takut kehilangannya. Papa 'kan tahu Papinya Juna ganteng banget, dia juga cool."
"Halah, masih gantengan Papa lah," tukas Angga remeh.
"Gantengan Juna dong." Juna menimpali.
"Iya, kamu juga ganteng." Angga mengelus rambut cucunya. "Terus intinya kamu mau sama Tian, nggak? Menikah dengan Tian?"
"Iya, mau." Nissa mengangguk.
"Tapi Papa mau nantinya pernikahan ini yang terakhir buatmu. Kalau Tian berselingkuh atau menyakitimu ... burungnya Papa eksekusi!" ancam Angga.
"Aku sudah bilang kok masalah itu sama Tian. Dia bilang mau membuktikan untuk membahagiakanku dan Juna."
"Ya sudah, sekarang kamu, Juna dan Tian pulang. Tapi besok kalian ke sini lagi lalu kita jalankan rencana ini. Kamu ikuti apa yang Papa katakan saja nanti."
"Kok besok? Kenapa nggak sekarang saja, Opa? Juna udah nggak sabar," rengek Juna.
"Nggak bisa dadakan. Ini rencana yang cukup serius soalnya."
"Tapi Juna mau menginap saja deh di sini, Opa. Juna mau tidur bareng si kembar."
"Mana boleh, Bapaknya 'kan kucing garong. Tadi kamu juga habis dimarahi dan lagian kamu 'kan lagi ngambek sama Om Steven."
"Iya juga, ya, Opa." Juna manggut-manggut. "Tapi nanti Opa bilang sama Om Steven, suruh kasih nama si kembar Upin Ipin saja. Sepertinya cocok buat mereka, Opa." Upin Ipin adalah salah satu film kartun kesukaannya.
"Iya, nanti Opa bilang." Angga mengangguk.
...Semoga berhasil ya, Opa, rencananya 🤣...
__ADS_1