Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
376. Katanya kita akan rutin bercinta


__ADS_3

...pastikan kalian memegang tissue atau ember ... karena bab kali ini akan menguras lebih banyak air mata 😭...


Mereka pun lantas melangkah cepat keluar dari sana. Tian langsung berbicara kepada Guntur, memintanya untuk mengantar dia dan Citra menyusul Steven.


"Citra! Mau ke mana kamu?" Sisil tiba-tiba saja berlari dari arah gerbang dan menghampirinya. Gadis itu datang dengan Rama yang masih ada di dalam mobil.


Sisil mendengar kabar duka itu dari mertuanya, Mbah Yahya. Tapi pria itu tidak ikut ke rumah Angga. Dia memilih langsung ke tempat dimana Steven dimakamkan.


"Aku mau menemui suamiku, Sil," jawab Citra sambil sesenggukan.


"Sama aku saja, ayok!" Sisil langsung menarik lengan Citra, membawanya menuju mobil sang suami.


Tian pun segera berlari menghampiri, dan pada akhirnya ikut juga. Masuk ke dalam sana tapi duduk di samping Rama, pada kursi depan.


"Rencananya almarhum Steven mau disholatkan dulu di masjid besar dekat sini, Pak Rama. Jadi kita langsung ke sana saja, aku tau masjidnya," ucap Tian sambil menoleh ke arah Rama yang mengemudi.


"Iya." Rama mengangguk, kemudian menarik gasnya dengan penuh kecepatan.


"Kalian yang sabar ya, Sayang," Citra tersenyum menatap anaknya sambil terus meniman-nimang. Tapi senyuman itu tampak begitu getir. Sisil yang melihatnya pun tak kuasa menangis. "Sebentar lagi kita ketemu Ayah dan berkumpul kembali. Kalian pasti kangen sama dia, kan?"


Sisil langsung merangkul bahu Citra, lalu mengelusnya dengan lembut. "Yang sabar, Cit. Aku akan selalu bersamamu dan si Kembar."


*


*


Beberapa menit kemudian, mobil Rama sampai di sebuah masjid besar pinggir jalan.


Citra langsung turun dari mobil sambil membawa si Kembar, kemudian berlari masuk ke dalam gerbang tinggi di depan masjid.


Sisil, Rama dan Tian pun segera turun dan menyusul.


"Di mana Aa Gantengku?!" teriak Citra dengan langkah kaki yang terhenti tepat di depan pintu masjid. Matanya melotot, memperhatikan orang-orang serta Angga dan Sofyan yang sedang menggotong keranda jenazah yang berisikan Steven di dalamnya.


Semuanya telah selesai menyolatkan Steven, dan sekarang berencana membawanya lagi menuju tempat pemakaman umum.

__ADS_1


"Dek, kok kamu ke sini?" Angga dengan langkah tertatih langsung menghampiri, lalu merangkul bahu sang menantu sambil menangis kala melihat penampilan Citra yang begitu kacau itu.


"Biarkan Citra dan si Kembar melihat Steven untuk yang terakhir kalinya, Pa ... sebelum dia dimakamkan," pinta Tian yang melangkah mendekat.


Angga memutar kepalanya, lalu menatap orang-orang yang masih menggotong Steven dengan posisi diam mematung.


Mereka semua tampaknya bingung untuk melangkah, sebab Citra seperti menghadangnya.


"Turunkan Steven," titah Angga pelan.


"Menantu dan cucu Bapak lihatnya nanti saja, Pak, kalau sudah sampai pemakaman," saran Ustad yang berada di sekitarnya. "Biar enak nanti, sekalian mau dikubur."


"Nggak apa-apa, Tad. Biarkan saja," ujar Angga sambil menyeka air mata. Dia tentunya tak akan bisa menolak permintaan dari Citra, apalagi dengan keadaannya yang seperti sekarang.


Mereka semua pada akhirnya menurut. Perlahan menurunkan keranda dengan hati-hati di depan teras masjid, lalu membuka penutupnya.


Citra mendekat, lalu perlahan duduk lesehan dan menurunkan si Kembar di samping kanan tubuh Steven.


Dan ajaibnya, kedua bayi itu langsung berhenti menangis. Bahkan Varo langsung tengkurap dan meraih kain kafan yang Steven pakan.


Sekujur tubuh Citra mendadak bergetar hebat dan ditambah lemas, saat melihat sekujur tubuh suaminya yang tampan itu sudah berbalut kain kafan yang diikat. Sudah menjadi pocong.


Kedua tangan Citra terulur secara perlahan, lalu menyentuh tali pada ujung kepala Steven. Angga ingin membantunya melepaskan tali tersebut, tapi Citra langsung menepis tangannya.


"Biarkan aku saja, Pa, aku bisa sendiri," lirih Citra sambil sesenggukan.


"Tapi kamu jangan menangis terus, Dek." Angga menyeka air mata pada kedua pipi Citra, lalu mengelus rambutnya. "Nanti Steven sedih di sana, biarkan dia tenang."


Citra bergeming. Dia hanya fokus melepaskan tali, lalu dengan perlahan membuka kain kafan. Wajah Steven tampak begitu tampan dan bercahaya. Serta putih juga. Kedua hidung mancungnya itu sudah tertutup rapat oleh kapas.


"Aa ganteng banget, aku cinta sama Aa," ucap Citra lirih dan tak kuasa air matanya kembali mengalir membasahi pipinya. Dia pun langsung memeluk tubuh Steven, lalu menciumi dada, kening serta kedua pipi. "Si kembar bilang ... dia kangen sama Aa. Ayok bangun, A, jangan begini. Sampai kapan Aa tidur terus?"


Citra menggoyangkan pelan tubuh Steven yang sudah tak bernyawa itu. Bahkan terasa sudah kaku dan dingin.


"Kalau Aa terus diam begini ... terus, bagaimana bisa kita bercintanya?" Citra terisak sambil sesenggukan. Dadanya pun ikut sesak sampai suaranya terdengar terengah-engah. "Katanya kita akan rutin bercinta setelah Aa buka puasa dan aku diKB. Bahkan kemarin malam saja kita belum bercinta ... hiks!"

__ADS_1


"Katanya Aa mau menjagaku selamanya? Tapi kenapa sekarang Aa sudah meninggalkanku? Lalu ... bagaimana nasibku dan si Kembar, A? Apa Aa tega ... membiarkan kami bersedih? Dan apa ini berarti Aa nggak sayang sama kita?" Citra menangkup kedua pipi Steven yang terasa dingin. Perlahan dia pun mengusapnya. "Semalam, kita juga belum sempat berciuman. Dan bukannya kata Aa ... setiap kali kita ciuman terasa manis? Iya, kan?"


Wajah dan bibir Citra perlahan mendekat ke arah Steven. Angga yang melihatnya langsung ditahan, sebab dia sendiri tahu akan apa yang ingin Citra lakukan.


"Jangan, Dek, nggak enak dilihat orang. Dan Steven juga sudah nggak ada," tegurnya.


"Memang kenapa? Aa Ganteng 'kan masih suamiku, Pa, jadi biarkan saja. Aku nggak peduli." Citra benar-benar sudah hilang akal dan hancur saat ini. Jadi apa pun itu, terserah saja.


Cup~


Bibir keduanya itu langsung bertemu. Citra pun segera melummat kasar bibir Steven, meskipun tak ada balasan.


Orang-orang yang disana langsung memalingkan wajahnya, merasa malu sendiri melihat adegan itu. Tapi ada pula yang merasa heran. Bisa-bisanya seorang istri mengajak ciuman suaminya yang telah meninggal dunia, rasanya itu momen yang langka. Kebanyakan hanya sekedar mencium saja.


"Akhirnya! Saya sampai!" Kevin perlahan mendaratkan di atas kepala Varo yang ditumbuhi rambut sedikit.


Deru napasnya terdengar tersengal-sengal. Dia merasa sangat capek terbang dengan penuh kecepatan menyusul Citra.


Sebenernyaβ€”dia sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi. Tapi selama dirinya berada di dalam sangkar, dia terus mendengar orang-orang yang mengatakan jika 'Steven meninggal dunia' dia sendiri tidak tahu dengan arti meninggal itu apa.


Dan karena ada kesempatan bisa keluar dari sangkar, lantaran kabur saat Bejo mengambilkan air minum, jadi dia berencana menyusul Citra, yang kebetulan sekali dia ingin pergi menyusul Steven.


"Vin! Kamu kok ada di sini? Mau apa?!" tanya Angga mengomel, saat mengetahui kehadiran anak burungnya itu. Dia juga mengibaskan tangannya, supaya kaki kotor Kevin menyingkir dari kepala Varo. Sungguh tidak sopan menurutnya, meskipun Varo masih bayi.


"Mau menyusul Nona Cantik, Pa! Katanya Kakak Steven meninggal dunia. Dan meninggal dunia itu apa?" Kevin langsung terbang dan mendekat ke arah Citra. Namun sontak, kedua matanya itu terbelalak mendapati Citra dan Steven tengah berciuman. "Dasar genit! Tidak ada malunya sama sekali! Mengajak Nona Cantik berciuman di depan banyak orang!"


Kevin mengira, Steven lah yang mengajak Citra ciuman. Dan karena kesal, dengan kurang ajarnya burung Kakaktua itu lantas berak di wajah Steven. Tepat pada jidatnya.


Pluk!


Namun secara tiba-tiba, kedua mata pria tampan itu langsung terbuka dengan lebar. Lalu menatap ke arah Citra.


...Yah si Kevin 🀣 orang mati malah diberakin, jadi bangun kan dia πŸ˜‚...


...gimana nih, Guys? Pasti pada seneng, kan?πŸ˜†...

__ADS_1


...kasih vote sama bunga atau kopi lho, ya! Awas aja kalau pelit nggak pada ngasih. Author ngambek πŸ˜’...


__ADS_2