
"Mau ngapain ke butik, Ma?" tanya Steven. Namun tiba-tiba panggilan itu terputus begitu saja.
Lantas, dia pun mencoba menelepon balik. Sayangnya tidak diangkat sama sekali.
"Cit, kayaknya kita nggak jadi bercinta sambil dilihatin bintang deh," kata Steven dengan mimik sedih sembari menatap mata Citra. "Maafin aku, ya?"
"Kenapa memangnya, Om?"
"Mama minta kita ke butik sekarang."
"Mau ngapain ke butik?"
"Aku juga nggak tahu." Steven menggeleng.
"Ya sudah ayok." Citra menarik lengan Steven, mengajaknya keluar dari gedung hotel. Pria tampan itu melangkah lesu.
"Kamu nggak marah 'kan sama aku, Cit?" tanyanya dengan perasaan tak enak.
Citra menggelengkan kepala. "Nggak, ngapain aku marah, Om?"
"Ya marah karena kita nggak jadi bercinta."
"Nggak apa-apa, nanti kita bercintanya di rumah saja."
"Kalau di rumah nggak bisa sambil membuat bintang iri, Cit."
"Kenapa nggak bisa? Kan di kamar Om ada jendelanya juga. Tinggal dibuka saja nanti kelihatan, kan?"
"Beda, suasananya pasti jauh lebih romantis di hotel. Secara hotel 'kan tinggi posisi kamarnya, pasti jauh lebih indah pas kita lihat pemandangan di bawahnya. Lagian, kalau di rumah itu ada Bejo dan temannya. Mereka berjaga setiap malam di pos satpam dan posisi jendelaku tepat di depan gerbang, nanti yang ada kita diintip dong, Cit." Steven mengerucutkan bibirnya. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Tetapi mobil itu belum melaju sebab Jarwo sendiri belum ada celah untuk bertanya. Mereka berdua sibuk mengobrol.
"Ya sudah, besok lagi saja kita menginap di hotelnya, Om."
"Dih, orang aku kepengennya sekarang. Burung Elangku gatel." Steven menyentuh miliknya di dalam celana. Terlihat mengembung sekali dari luar. "Aku namai dia Elang, Cit. Bagus nggak kata kamu?"
"Bagus. Tapi kenapa musti dinamain segala?" Kening Citra mengerenyit.
"Ya biar bagus saja, kan enak kalau dipanggil pas kamu lagi pengen."
__ADS_1
"Maaf Pak Steven," ucap Jarwo yang berada di kursi kemudi. "Kita sekarang mau ke mana?"
"Ke butik, aku kirim lokasinya." Steven mengetik ponselnya, lalu mengirimkan alamat itu lewat chat. Lebih baik Jarwo melihat maps, supaya enak tak bertanya-tanya.
Setelah itu, mobil hitam Jarwo melaju dengan kencang sedang. Steven langsung mengangkat tubuh Citra, lalu mendudukkan di atas pangkuannya.
"Jangan bercinta di mobil, Om. Kan ada Om Jarwo, malu," tegur Citra saat melihat Steven tengah menurunkan kedua tali baju kodoknya. Kemudian tangannya menyusup ke dalam kaos. "Dih, Om. Kataku 'kan jangan." Citra menahan tangan Steven yang hendak melepaskan pengait bra.
"Aku mau pegang agar-agarmu doang. Boleh, ya?" pinta Steven seraya berbisik di telinga Citra. Hembusan napasnya membuat tubuh gadis itu langsung meremang tak karuan.
"Nanti saja kalau sampai rumah, Om."
"Dikit doang. Aku seharian ini belum nyusu lho, masa pegang doang nggak—"
"Aduh! Perut saya lapar!" seru seseorang yang menyela ucapan Steven.
"Pak Jarwo belum makan?" tanya Steven. "Mau makan dulu? Kalau iya, biar aku dan Citra naik taksi."
"Perasaan saya nggak ngomong apa-apa deh, Pak." Jarwo menatap Steven dari kaca depan mobil, keningnya tampak mengerenyit.
"Tadi bukannya—“
"Pak Jarwo cepat hentikan mobilnya!" titah Steven cepat.
"Kenapa memangnya, Pak?"
"Cepat hentikan sekarang!"
"Iya, iya." Jarwo cepat-cepat menepikan mobilnya. Segera Steven turun dari mobil bersama Citra, lalu dia pun menggeserkan tubuh gadis itu hingga berada di belakangnya.
"Bapak mau ngapain?" Jarwo juga ikut turun, dia tampak heran pada Steven yang sedang perlahan-lahan membungkuk ke kolong kursi. Pintu mobil itu sengaja dibiarkan terbuka.
Sedikit lagi Steven dapat melihat siapakah yang berada di kolong kursi, firasat dia adalah orang jahat yang sengaja menyusup ke dalam mobil. Namun, tiba-tiba ada sesuatu yang terbang dari sana.
Steven sontak terperanjat dengan mata yang terbuka lebar. Ternyata yang terbang itu adalah seekor burung Kakatua. Dan mungkin saja, tadi yang berbicara adalah dia.
Burung itu adalah burungnya Tian. Dia memang sempat terbang saat setelah dianiaya oleh Fira. Tetapi dia memilih masuk ke dalam mobil Jarwo dan bersembunyi di kolong kursi.
__ADS_1
Sayangnya perutnya keroncongan, jadi dia ketahuan.
"Kau! Ngapain kau ada di sini?!" teriak Steven saat melihat burung tersebut. Dia juga menepis tubuhnya yang hinggap di pundak kiri Citra.
"Saya lapar Om Tua. Tolong beri saya makan!" pintanya sambil mengibaskan sayap. Dia tengah terbang di dekat Steven. Pria tampan itu berusaha untuk meraihnya, tetapi begitu susah.
"Siapa yang kau panggil tua? Kurang ajar sekali!" teriak Steven marah.
"Maaf. Kamu tampan, sangat tampan," katanya sambil mengangguk-angguk. Kemudian dia terbang memutar-mutar tubuh Citra. "Nona Cantik, saya lapar. Berikan saya makan, nanti saya bisa mati."
"Kamu mau makan apa?" tanya Citra.
Belum sempat burung itu menjawab, tetapi Steven sudah menarik Citra untuk sama-sama masuk ke dalam mobil. Sayangnya, gerakan burung itu juga sama lincahnya. Sekarang dia sudah ikut masuk dan bahkan berdiri di atas pangkuan Citra.
"Kurang ajar sekali! Pergi dari sini!" teriak Steven marah. Dia berhasil meraih tubuh sang burung. Baru saja dia hendak melemparkan burung itu lewat jendela, tetapi dengan cepat dicegah oleh Citra.
"Jangan, Om. Kasihan dia. Dia kelaparan itu." Citra menatap burung Kakatua, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Burung itu sepertinya sedih karena lapar menurut Citra.
"Nona, beri saya makan," pintanya lemas. Kepalanya langsung menyender pada punggung tangan Citra.
Perlahan Citra melepaskan burung yang berada dalam cengkraman tangan Steven, lalu membawanya untuk berdiri di atas paha. Tetapi dia tak berdiri, melainkan berbaring.
Jarwo memutar tubuhnya, lalu memberikan buah apel merah kepada Citra.
"Berikan dia ini, Nona. Dia pasti suka buah," kata Jarwo. Citra segera mengambil buah tersebut.
"Terima kasih, Om." Segera Citra sodorkan buah itu ke paruh sang burung. Dia sempat mengendusnya terlebih dahulu, kemudian mematuk buah itu dengan paruh lancipnya.
Tak lama dia pun makan dengan lahap. Ternyata memang benar kata Jarwo, dia suka buah.
"Apa rasanya enak?" tanya Citra seraya mengelus jambul kuning sang burung. Tiba-tiba burung itu pun melebarkan sayapnya, kemudian menekan tubuhnya di perut Citra. Seolah tengah memeluknya.
"Nona cantik! Nona baik! I love you!"
"Berhenti merayunya bodoh!" sentak Steven marah. Sejak tadi dia melihat tingkah binatang itu, dan apa yang ia lakukan barusan seketika membuat darahnya mendidih. Steven juga merasakan telurnya begitu panas di dalam celana. Jangan lupakan burung Elangnya, dia sejak tadi berkedut-kedut seolah iri minta dielus.
...Ternyata selain sama Udin, Arya, Om Gugun dan Opa Angga ... Om juga cemburu sama seekor burung Kakatua, ya? 😆...
__ADS_1
...Aduh kasihan burung Elangnya dianggurin 🤣...