Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
106. Kamu kok berubah sekarang?


__ADS_3

"Citra. Alhamdulillah kamu sudah sadar," ucap Steven dengan mata berbinar dan mengulum senyum menatap Citra yang sudah bangun dari pingsannya. Gadis itu terlihat tengah memperhatikan sekeliling yang menurutnya tampak asing.


"Aku ada di mana? Dan kenapa kita bisa ...." Pandangan mata Citra berhenti tepat kepada Steven. Dan sontak—matanya membulat sempurna kala melihat tubuh sang suami yang polos sempurna. Cepat-cepat dia pun menutupi wajahnya, rasanya malu melihat kejantanan Steven yang sempat dia lirik tadi. "Kenapa Om bugil? Dan kenapa aku dan Om ada di sini? Ini di mana?"


Steven mengulurkan tangannya ke bawah untuk meraih selimut, lalu menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Ini di rumah orang tuaku, Cit," jawab Steven dengan lembut. Bokongnya menggeser mendekati Citra, tetapi gadis itu malah ikut menggeserkan bokongnya. Dia seolah tak mau berdekatan dengan Steven.


"Rumah orang tua, Om?" Kening Citra mengerenyit. Dia terdiam beberapa saat untuk mengingat kejadian yang mungkin terlupakan. Dan setelah itu, lantas berkata, "Oh ... apa ini berarti Om yang sudah menyuruh Om berbadan besar untuk membawaku ke sini?" tebak Citra, lalu dia pun membuka wajahnya dan menatap sekeliling kasur mencari-cari sesuatu yang entah apa.


"Kamu cari apa? Dan aku nggak menyuruh orang untuk membawamu ke sini." Steven kembali mendekati gadis itu, lalu merangkul bahunya. Namun, Citra segera menepisnya lalu turun dari kasur dan kini berdiri.


"Di mana tasku, Om?" tanya Citra tanpa memandang Steven. Matanya sibuk berkeliling mencari tas.


"Aku nggak tahu." Steven menggeleng cepat, lengannya terulur ke arah Citra, kemudian segera menarik lengan gadis itu hingga bokongnya duduk di atas pangkuannya. Setelah itu, kedua lengan Steven melingkar di perut Citra. "Citra, tolong maafkan aku, Cit. Maafkan atas semua kesalahanku," pintanya dengan lembut.


Citra menarik lengan Steven untuk melepaskan tubuhnya. Dia juga berusaha untuk bangkit tetapi terlihat kesusahan.


"Lepasin aku, Om! Dan di mana tasku? Aku mau pulang!" tekan Citra marah. Tampak jelas kalau dia tak menyukai pertemuan itu, apa lagi saat di mana dirinya bangun dan dikejutkan dengan apa yang hendak Steven lakukan.


Luka di dalam hati Citra masih ada, tergores dan rasanya masih sakit.


"Kamu nggak boleh pulang ke mana-mana! Kamu hanya boleh pulang bersamaku!" tegas Steven. Dagunya menempel ke bahu kiri Citra, lalu perlahan dia pun mengendus rambut panjangnya yang agak berantakan itu. Tercium semerbak aroma mawar yang terasa memabukkan. "Kamu selama ini salah paham, Cit. Kita harus meluruskan semuanya."


"Salah paham?" Kening Citra mengerenyit, dadanya mendadak terasa bergemuruh. "Apanya yang salah paham, Om?"


"Tentang hubunganku sama Fira. Aku pernah menjelaskan dari dulu kalau aku dan dia hanya sebatas bos dan sekertaris, tapi kamu malah mengira aku menyukainya. Padahal itu sama sekali nggak benar, Cit!" jelas Steven seraya menggeleng cepat. Dia makin mempererat pelukannya dari belakang sebab tubuh Citra sejak tadi tak bisa diam, terus memberontak dan berusaha untuk melepaskan diri.

__ADS_1


"Om nggak perlu berbohong!" seru Citra yang mendadak emosi. "Aku sudah tahu semuanya kalau Om itu serakah!"


"Serakah? Serakah apanya?"


"Om nggak mau kita bercerai, tapi Om mau menikahi Safira. Apa itu bukan serakah namanya?" Citra seolah mengulang ucapan yang Gugun ucapkan waktu itu.


"Aku nggak mau menikahi Fira, Cit! Nggak sama sekali! Aku hanya mau menikah denganmu, hanya denganmu saja."


"Aku nggak percaya." Citra menggeleng cepat. "Semua yang keluar dari mulut Om itu dusta, aku mau pulang! Lepaskan aku!" teriak Citra marah. Sekuat tenaga akhirnya dia berhasil melepaskan diri. Baru saja dia berdiri, tetapi dengan cepat Steven menarik pinggangnya hingga tubuh Citra terjatuh di atas kasur.


Bruk!!


Steven langsung naik ke atas tubuh Citra, menjepit kedua pahanya dan mengenggam kedua tangannya dengan sedikit menekan. Mungkin dengan begitu Citra tak akan bisa menghindar sebab tubuhnya sudah dia kunci.


"Iya, iya, Cit. Aku mengakui kalau aku pernah berniat ingin menikahi Fira tanpa kita bercerai!" tegas Steven. Ya, akhirnya dia jujur sebab memang dulu pernah mempunyai niat seperti itu di dalam hatinya. "Tapi itu dulu, sekarang nggak! Sekarang semuanya berubah! Aku hanya mau bersamamu saja, nggak ada yang lain!" Bola mata Steven tampak berkaca-kaca menatap mata Citra. Hatinya terenyuh melihat Citra yang seolah begitu acuh padanya. Bahkan sejak tadi mata cantik istrinya itu tak memandangnya sama sekali.


"Karena aku mencintaimu, Cit. Aku sangat mencintaimu. Kamu sudah menjerat hatiku dan membuatku tergila-gila padamu!" tegas Steven dengan napas yang memburu. Jantungnya langsung berdebar kencang. Begitu pun dengan jantung Citra, bahkan mata gadis itu sedikit melebar kala merasa terkejut dengan apa yang Steven katakan.


Itu sebuah pernyataan cinta, bukan?


Akan tetapi, ada sebuah keraguan di dalam hati Citra. Dia tahu bagaimana Steven, pria itu kerap kali membohonginya dan kali ini Citra tidak bisa semudah itu percaya dengan mulut manisnya. Citra tentu masih ingat bagaimana ekspresi wajah Steven saat pipinya dikecup oleh Fira, semuanya seolah menggambarkan bagaimana hati Steven saat itu.


'Aku nggak boleh meleleh duluan. Aku nggak mau Om Ganteng terus menyakitiku. Sekarang waktunya dia menentukan apa maunya dan keputusannya,' batin Citra sambil menggeleng samar.


"Kenapa kamu diam saja, Cit? Apa kamu nggak senang pas tahu aku sudah mencintaimu?" tanya Steven. Wajahnya tampak sendu, tetapi pipinya terlihat merona. "Bukannya kamu mau aku mencintaimu, kan? Sekarang aku sudah mencintaimu, Cit. Bahkan sangat," tambahnya meyakinkan.


"Aku nggak percaya." Citra menggeleng cepat.

__ADS_1


"Kenapa nggak percaya? Aku bisa membuktikannya."


"Coba buktikan," tantang Citra.


Steven pun langsung meremmas kasar dada Citra dan seketika membuat mata gadis itu terbelalak. Kemudian, tangannya hendak menarik bajunya ke atas, mungkin niatnya ingin melepaskannya, tetapi dengan cepat Citra menahannya.


"Om mau ngapain?" tanya Citra dengan kening yang mengerenyit menatap wajah Steven. Wajah pria itu tampak merah padam dan berkeringat.


"Mau lepas bajumu."


"Untuk apa? Jangan!" Citra masih berusaha menahannya kala Steven hendak menariknya kembali.


"Katanya tadi kamu memintaku untuk membuktikan? Aku akan membuktikannya sekarang. Ayok bercinta denganku, Cit," pinta Steven memelas.


Citra menggeleng cepat. "Aku nggak mau."


"Kenapa nggak mau? Bukannya kamu dari dulu pengen kita bercinta?"


"Iya, tapi itu dulu dan itu juga sudah pernah. Dan sekarang aku nggak mau," tolak Citra.


"Dih, kok kamu jahat sih sama aku, Cit. Kamu menolakku?" Dada Steven seketika ngilu. Dan perlahan air matanya luruh membasahi pipi. Rasanya sakit sekali mendengar Citra menolaknya. "Padahal aku pengen banget bercinta denganmu. Aku rindu padamu, Cit," imbuhnya sambil menangis tersedu-sedu.


"Burungku sakit banget, bangun terus semenjak kamu pergi. Kamu kok tega sama aku, Cit ...?" lirih Steven. Air matanya sampai berjatuhan menimpa wajah Citra, tetapi tampak jelas gadis itu seperti keheranan dengan sikap Steven.


Tidak biasanya Steven bersikap seperti itu, terlihat cengeng sekali. Padahal dari dulu dia yang selalu menolak saat Citra mengajaknya bercinta.


"Tuh, kan. Kamu diam saja. Kamu kok berubah sekarang? Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku, ya?" Isakan tangis Steven makin pecah, bahkan sampai sesenggukan.

__ADS_1


...Jawab Citra cepetan🤭. Nggak kasihan sama burungnya tuh. Eh, maksudnya nggak kasihan sama Om Ganteng 🤣...


__ADS_2