Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
338. Habis masuk angin


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Papi!!" seru Juna seraya menghamburkan pelukan, ketika baru saja melihat Tian datang dan mengucapkan salam.


"Walaikum salam," jawab Nissa, Sindi, Angga, Baim dan Atta.


"Papi ke mana saja? Juna kangen," tanyanya dengan manja.


"Papi ada urusan sebentar. Kamu harusnya jawab salam Papi dulu, dong, Sayang." Tian menarik kedua lengan anaknya yang melingkar diperut, lantas membungkuk untuk menggendongnya.


"Walaikum salam," sahut Juna, lalu mengecup singkat pipi kanan Tian. Sang Papi melangkah menghampiri Nissa, lalu meletakkan plastik putih di atas nakas yang berisi dua buah naga berukuran besar.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Udah baikan?" Tian mendekat ke arah Nissa, lalu mengecup pipi kanannya dengan lembut.


"Udah, tapi Dokter belum mengizinkanku pulang. Katanya suruh besok, Yang," jawab Nissa pelan. Wajahnya langsung bersemu merah.


"Ya sudah nggak apa-apa. Biar kamu pulih dulu." Tian mengelus puncak rambut Nissa, lalu menatap ke arah Sindi. Keningnya seketika mengernyit sebab wajah wanita tua itu tampak pucat tak seperti biasanya. "Mama kenapa? Kok wajahnya kayak pucat gitu?"

__ADS_1


"Mama lagi ha—"


"Mama memang habis masuk angin, Ti," sergah Sindi cepat. Sedikit lagi hampir saja Angga jujur. Tampaknya pria itu lupa tentang dirinya yang meminta untuk merahasiakan kehamilan.


"Oh. Sudah periksa belum, Ma? Mau aku antar?" tawar Tian.


"Sudah diperiksa kok tadi, bareng Papa." Angga yang menyahut. "Oh ya, Ti, bagaimana tentang Silvi? Sudah tes DNA kamu?" Dia langsung mengalihkan pembicaraan, supaya Nissa atau Tian tak curiga.


"Sudah, Pa, alhamdulilah ... Pak Dono dan Bu Della mengizinkan," sahut Tian.


"Syukurlah." Nissa menghela napasnya dengan lega. "Kalau sudah terbukti Silvi anakmu, berarti dia bisa tinggal di rumah bareng kita dong, Yang?"


"Silvi yang Mami maksud, Silvi Dedek Silvi bukan?" tanya Juna penasaran.


Nissa mengangguk. "Iya, Jun. Ternyata ... Tina itu belum meninggal, dan bisa jadi dia adalah Silvi."


"Dih, kok begitu, sih?!" Raut wajah Juna seketika kecewa, dia pun menatap ke arah Tian. "Masa Dedek Silvi anaknya Papi?"

__ADS_1


"Kita tunggu hasil tes DNA-nya. Kalau sudah keluar dan terbukti ... baru benar, Dedek Silvi adalah anak Papi. Yang berarti adikmu, Jun." Tian menyentuh dada Juna dan sontak dada kecil itu terasa sakit. Sakitnya bukan lantaran disentuh Tian, akan tetapi mendengar kalau Silvi adalah adiknya.


"Tes DNA itu seperti apa sih, Om?" tanya Baim kepo.


"Bisa dilihat dari darah, rambut dan air liur, Im. Punya anak dan Papinya, lalu dicocokkan oleh dokter. Kalau misalkan hasilnya cocok ... itu berarti si anak adalah anak kandung Papinya," jelas Tian memberitahu sembari menatap ke arah Baim yang sibuk makan ciki.


"Oh, nanti Baim mau coba melakukan tes DNA deh sama Papa Baim. Siapa tau aja Baim bukan anak Papa," sahut Baim.


"Lho, kok pengen tes DNA? Memangnya kamu sendiri nggak yakin ... kalau kamu anaknya Papamu?" tanya Angga sambil terkekeh.


"Yakin sih, Opa. Tapi kepengen coba saja," kekeh Baim.


"Juna nggak mau Dedek Silvi jadi adiknya Juna, Pi!" tegas Juna dengan gelengan kepala. Wajahnya merengut bercampur sedih.


"Lho, kenapa?" Tian menoleh ke arah Juna lalu meraih dagu kecil anaknya. "Kamu bukannya suka sama Silvi, kan? Katanya dia manis kayak buah apel."


"Kamu jangan begitu, Jun," tegur Nissa menatap serius ke anaknya. "Kalau benar Silvi adalah Tina, kamu juga harus sayang sama dia, seperti Papi yang sudah sayang sama kamu."

__ADS_1


...Nggak tau nih Juna, aneh banget dah 🙈...


__ADS_2