Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
199. Apa jangan-jangan


__ADS_3

"Pakai paruh, kadang kaki, kadang bokong," jawab Juna jujur.


"Masa sih?" Belum melihat langsung, Steven belum percaya.


"Iya. Makanya nanti Kevin diajak, biar Om lihat sendiri."


"Papa dengar dari Bejo, si Kevin juga bisa buat kopi lho, Stev." Angga menyahut. Menceritakan kelebihan Kevin yang selama ini Steven tak tahu.


"Ah mustahil!" Steven sama sekali tak percaya. "Jun, sana kamu ke sangkar Kevin. Terus ke sini sama dia, ya," pinta Steven.


"Mau ngapain? Si Kevin suruh buat kopi? Apa main kelereng?"


"Panggil saja dulu."


"Iya, Om." Juna mengangguk. Dia pun lantas turun dari pangkuan Steven lalu berlari keluar dari rumah.


*


*


"Kevin! Sedang apa kamu?!" Juna berteriak di depan pos satpam. Menatap ke arah sangkar yang tidak ada Kevin di sana.


Burung Kakaktua itu ada di dalam rumah bertelur. Tengah bercinta dengan Janet, namun tingkah Juna yang bar-bar itu membuat aktivitas terhenti.


Lantaran bocah laki-laki itu membuat sangkarnya goyang-goyang.


"Ada apa, sih?" Kevin menyembulkan kepalanya dari pintu rumah tersebut. "Kamu menganggu saja, Jun!"


"Lagi apa? Kamu dipanggil Om Steven."


"Tidak mau." Kevin menggeleng, lalu kepalanya masuk kembali ke dalam rumah bertelur itu.


"Kenapa? Kamu nggak mau ikut aku, Om Steven sama Opa memangnya? Kita mau ke taman restoran Mamiku. Mau bakar jagung sambil main kelereng," ajak Juna sambil lompat-lompat.


"Nanti aku nyusul ke dalam rumah. Kamu duluan saja, Jun!"


"Memang sedang apa, sih?" Juna tampak penasaran. Matanya memandangi rumah burung tersebut. "Janet ke mana? Kalau kamu nggak mau, aku mau ngajak Janet saja main kelerengnya."


"Janet betina, dia tidak suka main kelereng. Kamu masuk rumah dulu, nanti aku nyusul." Kevin dalam keadaan nangung, tidak enak rasanya kalau birahinya tidak tuntas.


"Ya sudah deh." Juna menurut, dia lantas berlari masuk kembali ke dalam rumah. Lalu menuju ke arah dapur, ada Steven di sana tengah berkutat membuat bumbu untuk jagung bakarnya.


Sejak pagi, dia berkeinginan membuat jagung bakar, namun dengan hasil masakannya sendiri.

__ADS_1


"Mana Kevinnya, Jun?" tanya Steven saat melihat keponakannya itu naik ke atas kursi lalu menenggak air minum yang baru saja dia tuangkan.


"Kayaknya Kevin lagi sibuk tadi, Om. Tapi nanti mau ke sini," jawab Juna.


"Sibuk apa? Memang ada burung sibuk?"


Juna mengedikkan bahunya.


Tak lama, Sindi dan Citra datang menghampiri mereka.


"Mama mau ngajak Citra ke Mall, sama Nella, ya, Stev," ujar Sindi seraya merangkul bahu menantunya.


"Dih, Citra mau ngikut aku ke taman restoran, Ma."


"Katanya mau sama Papa, Juna dan Kevin? Jadi Citra sama Mama saja. Mama mau belikan dia baju hamil, perutnya sudah terlihat membuncit." Sindi mengelus perut menantunya.


"Ya sudah, tapi hati-hati. Mama sama Pak Jarwo saja perginya. Beli bajunya yang lucu dan pas dengan selera Citra, ya." Steven mendekat pada istrinya, lalu mengecup keningnya sebentar.


"Iya, tentu saja." Sindi mengangguk.


"Belikan baju seksi buat tidur juga, Ma. Tapi yang modelnya ada buntutnya gitu."


"Lingerie maksudmu? Tapi memangnya ada yang pakai buntut? Buntut apa? Kucing?" Kening Sindi mengerenyit.


"Ya sudah." Sindi mengecup kening Juna, lalu cucunya itu mencium punggung tangannya dan beralih ke punggung tangan Citra.


Setelah kepergian Citra dan Sindi, Kevin datang. Dia terbang dan mendarat ke atas meja dapur. Steven sedang memblender bumbunya, sudah hampir siap.


"Ada apa Kakak Steven?" tanya Kevin dengan sopan. Kepalanya mengangguk-ngangguk.


"Kata Papa kau bisa buat kopi, terus kata Juna kamu bisa main kelereng, aku mau menyuruhmu ngupas jagung. Bisa nggak kamu?" pinta Steven. Nada suaranya seperti memerintah. Dia ingin melihat sendiri bagaimana kemampuan Kevin.


"Mengupas bisa, tapi motong bagian pantaatnya tidak bisa." Mungkin yang Juna maksud adalah ujung jagungnya.


"Nggak masalah, nanti bagian itu biar Juna. Kamu mau 'kan bantuin Om, Jun?" Steven melirikkan matanya ke arah keponakannya. Sejak dulu, ketika keponakannya itu main, Steven sering mengajarinya memasak. Dan Juna juga menurut.


Namun anehnya, ketika di rumahnya sendiri dia tidak mau. Juna juga sangat manja kepada Nissa. Maklum, anak semata wayang.


"Mau, Om!" Juna mengangkat salah satu tangannya, memberi hormat.


"Ya sudah, Kevin yang mengupas jagung kamu yang motong ujungnya."


"Pakai apa? Pisau?"

__ADS_1


"Nggak perlu, pakai tangan saja. Nggak keras kok." Steven menunjuk ke arah kantong yang berada di bawah meja. Di sana ada 10 buah jagung.


Juna langsung turun dari kursi, begitu pun dengan Kevin. Mereka berdua lantas membuka kantong itu.


"Berapa yang dikupas?" tanya Kevin.


Steven menghitung orang dengan jarinya. Dia, Kevin, Juna, Angga. Tapi dilebihkan satu saja jadi lima.


"5," jawab Steven.


Juna mengambil plastik putih, dia hamparkan ke lantai di dekat kantong. Lalu mengambil satu jagung itu supaya Kevin mengupasnya lebih mudah.


"Jangan dimakan jagungnya, ya! Mau dibakar!" tegur Steven. Kevin mengangguk cepat.


Ujung kulit jagung bagian atas itu langsung Kevin cengkeraman dengan dua jari kakinya yang berkuku tajam, lalu menariknya hingga terbuka. Dia melakukannya berulang-ulang sampai semua kulit yang menyelimuti jagung itu terbuka. Bulu-bulu jagung yang ada di sana Kevin patuk dengan paruhnya, mencoba membersihkannya.


Steven memperhatikan gerak gerik yang Kevin lakukan, gerakannya juga terkesan tidak kaku sama sekali. Seperti sudah sering dia melakukannya.


"Selain jadi burung peliharaan, dulu kamu jadi pembantunya Om Tian, ya, Vin?" tanya Steven. Entah hanya sekedar bertanya, atau justru merendahkan. Namun pria tampan itu kini tengah terkekeh.


"Pembantu itu apa?" tanya Kevin bingung.


Juna yang sedang berjongkok itu lantas mendongakkan wajahnya ke arah Steven. "Om kenal Om Tian juga?" Juna gagal fokus mendengar nama pria itu.


"Kenal, dia itu Papanya si Kevin dulu," jawab Steven. "Memang, kamu kenal dia juga, Jun?" Berbalik tanya.


Bocah laki-laki itu mengangguk cepat. "Iya, dia teman SMAnya Mami, Om. Dan semalam ... Juna, Kevin, Janet dan Mami ... pergi nonton sama dia."


Mata Steven agak mendelik, antara kaget dan heran. "Nonton apa? Bioskop?"


"Iya."


"Kok bisa kalian pergi nonton? Dan kenapa harus sama Om Tian juga?" Steven mendadak penasaran. Apalagi pas tahu jika Tian adalah teman SMA dari Mbaknya. Menurutnya ini sangat berbahaya.


"Kata Mami, dia kepengen ikut Om."


'Kepengen ikut?' Steven terdiam beberapa saat. Namun, tiba-tiba dadanya terasa bergemuruh. 'Apa jangan-jangan pria kere itu ingin mengincar harta Mbakku?' Kedua tangannya juga ikut mengepal, pikiran negatif itu langsung menyelimuti isi otaknya. 'Ini nggak boleh terjadi, aku harus beritahu Mbak Nissa, supaya jangan dekat-dekat dengannya.'


"Ayok percepat ngupas jagungnya, habis ini kita langsung ke restoran." Steven langsung mempersiapkan segala sesuatu yang ingin dia bawa, menaruhnya ke dalam tas besar.


Setelah semuanya siap, mereka pun mengendari mobil. Steven lah yang mengemudi, di sampingnya Angga. Di belakang Kevin dan Juna.


...Makin sulit kayaknya nih Om Tian 🤣 dah, mundur teratur aja, Om....

__ADS_1


__ADS_2