Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
274. Joinan


__ADS_3

"Memangnya kamu mules juga?" tanya Tian.


"Nggak." Juna menggeleng.


"Kalau nggak ya nggak usah bareng, Jun." Tian melepaskan tangan anaknya. Kemudian melangkah cepat. Tetapi bocah itu malah berlari mengejarnya.


"Meskipun nggak mules juga Juna mau bareng. Nanti kalau pas sudah duduk pasti ikutan mules, Pi," pinta Juna.


"Tapi memangnya di sini klosetnya ada dua?"


Tian baru ingat, kalau toilet itu pasti hanya memiliki satu kloset. Lantas, bagaimana cara mereka berak bareng? Seja dulu dia mengiyakan sebuah janji tapi dia sama sekali tak berpikir ke arah sana.


"Coba cari saja, Pi," saran Juna. Mereka pun sampai di toilet pria. Ada lima tempat untuk kencing di depan wastafel dan lima ruang tertutup, yang mungkin di dalamnya terdapat kloset.


"Pak, apa ada toilet yang isinya 2 kloset?" Dengan masih menahan pisang goreng yang berada diujung tanduk, Tian bertanya pada seorang cleaning servise yang tengah membersihkan kaca di depan wastafel.


"Nggak ada, Pak. Semua kamar hanya ada satu kloset," jawab pria berseragam biru awan itu.


"Gimana ini, Jun?" tanya Tian dengan wajah yang sudah merah padam. Perutnya begitu sakit dan susah payah dia menahan ingin mengejan. Takut jika nanti keluar di celana.


"Satu kloset berdua saja, Pi. Joinan." Juna menarik turunkan alis matanya sambil tersenyum. Dia tampak senang sekali, lain halnya dengan Tian yang seperti tertekan.


"Ya sudah ayok, Papi nggak tahan banget ini mau keluar!" Tian cepat-cepat membuka salah satu pintu itu, lantas masuk ke dalam sana.


Segera, dia membuka kancing dan resleting celana, menurunkan sampai lutut lalu duduk pada kloset yang sudah dibuka.


Juna langsung menutup pintu. Namun saat dirinya hendak membuka celana, kedua bola matanya sontak membulat kala dia mengendus aroma tidak sedap berasal dari pisang goreng yang baru saja Tian keluarkan.


"Uuueekk!" Juna langsung menutup mulut dan hidungnya kala merasakan perutnya bergejolak. Begitu mual seperti ingin muntah. "Papi kok udah berak duluan? Juna 'kan belum buka celana, Pi," gumamnya kesal.


"Ayok cepat buka celananya, Jun. Terus duduk bareng di ...." Tian menggantung ucapannya kala dia mulai mengejan lagi. Rasa mules itu masih ada.


Wajah Juna seketika memerah. Bagaimana bisa dia melepaskan celananya sedangkan kedua tangannya saja digunakan untuk menutup hidung dan mulut. Ketika hendak meraih celana lagi, dia pun langsung muntah-muntah.


"Ueekk! Uueekk!"


Tian yang melihatnya sontak membulat mata. Ingin bertanya tapi keadaan tak memungkinkan, sebab dia diharusnya untuk berkonsentrasi.


"Uuekk! Uueekk!" Kembali, bocah itu muntah-muntah. Sakit sekali perutnya dan kepalanya pun mendadak kunang-kunang.

__ADS_1


Merasa tak kuat, dia pun berupaya untuk keluar dari sana. Tetapi belum sempat kakinya melangkah menuju pintu, dia malah sudah pingsan duluan lantaran kepalanya sakit ditambah tubuhnya seperti lemas tak berdaya.


Bruk!!


"Astaghfirullah! Juna!" teriak Tian panik. Sesi buang hajatnya belum usai sebenarnya. Dia juga masih mulas sekali. Tetapi melihat apa yang terjadi, mau tidak mau dia pun mengakhirinya. Sebab keselamatan Juna jauh lebih penting.


Setelah membersihkan dirinya dan menyalakan air pada kloset itu, Tian cepat-cepat berlari menghampiri anaknya. Lalu meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya keluar dari toilet.


"Tian, kenapa dengan Juna?" tanya Sindi yang baru saja keluar dari toilet wanita. Keluarnya dia bertepatan dengan Tian yang menggendong cucunya.


"Juna pingsan di toilet, Bu, aku mau bawa dia ke rumah sakit," jawab Tian sambil berlari. Sindi pun langsung menyusulnya.


"Bawa ke kamar hotel saja. Kebetulan Dokter keluarga jadi tamu undangan di sini, Ti," saran Sindi.


"Ya sudah, aku bawa Juna ke kamar hotel."


Sedikit lagi mereka hampir menuju kursi pelaminan, tetapi mendengar usulan dari Sindi Tian pun memutuskan untuk berbalik badan lalu berlari menuju lift. Dia memang sebelumnya sudah memesan kamar hotel untuk ritualnya malam pertama dengan Nissa.


Entah itu akan terlaksana atau tidak, tetapi tak ada salahnya Tian berharap dan menyiapkannya.


"Bu Dokter, tolong periksa cucuku, dia pingsan!" seru Sindi dengan napas yang tersengal-sengal. Dia tadi berlari menghampiri dokter wanita berambut pendek yang tengah makan sup buah.


"Juna pingsan?!" seru Angga kaget.


Kebetulan, Angga berada di dekat mereka. Dia tengah berdiri sambil mengobrol dengan Steven. Kedua pria beda generasi itu lantas menghampiri Sindi.


"Kok bisa Juna pingsan? Kenapa?" tanya Steven yang tampak panik.


"Mama nggak tahu. Sekarang dia di bawa di kamar hotel sama Tian, Stev," jawab Sindi.


"Antarkan saya ke kamar hotelnya, Bu," pinta Dokter wanita seraya berdiri, lalu menenteng tas jinjingnya.


"Ayok," ajak Sindi lalu melangkah cepat lebih dulu.


"Kamu di sini saja, Stev, kasihan Citra dan Nissa." Angga mencegah Steven yang hendak ikut. Pria itu pun mengangguk, lalu membiarkan sang Papa pergi.


*


*

__ADS_1


Ketiganya tiba di kamar hotel, lalu masuk ke dalam sana.


Juna tengah berbaring di atas kasur dengan selimut dibatas dada. Tian ada di sana juga, duduk di sampingnya sambil mengelus-elus dahi bocah itu.


"Kenapa Juna bisa pingsan, Ti? Apa yang kamu lakukan padanya?!" cecar Angga dengan wajah yang tampak tegang. Tatapannya tajam pada menantunya.


Tian langsung berdiri, kala dokter wanita itu duduk dan mulai memeriksa keadaan Juna dengan stetoskop yang sudah terpasang pada kedua telinganya.


"Aku nggak melakukan apa-apa, Pa," jawab Tian.


"Tapi Mama lihat kamu keluar dari toilet bareng Juna, Ti," kata Sindi.


"Apa kamu menganiayanya?!" tuduh Angga curiga. Pria itu pun langsung menggeleng cepat.


"Demi Allah nggak, Pa. Aku di toilet sama Juna karena aku mau berak. Juna bilang mau berak bareng sama aku," jelas Tian jujur.


"Terus?" tanya Angga.


"Juna malah mual dan terus muntah-muntah. Nggak lama kemudian dia langsung jatuh pingsan, Pa."


"Kok bisa, dia mual sampai muntah? Kenapa?"


"Aku nggak tahu. Padahal aku sudah duduk lebih dulu dikloset dan nunggu Juna buka celana."


"Kamu udah berak duluan?" tebak Angga. Tian mengangguk cepat.


"Pasti Juna mual karena bau pisang gorengmu! Kamu kenapa berak duluan?! Kenapa nggak bareng sama Juna?!" teriak Angga marah.


"Akunya mules, Pa."


"Memang nggak bisa ditahan dulu?! Harusnya kamu bantu Juna buka celana dong!" geramnya emosi.


"Maafin aku, Pa. Keadaan darurat banget. Sudah diujung banget dan kalau nggak cepat-cepat aku duduk ... bisa keluar di celana," jelas Tian dengan wajah bersalah.


Sindi beserta dokter wanita itu hanya bisa berdecak dan geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dan terdengar konyol, tentang alasan bocah itu pingsan.


...Maaf baru up, Guys. biasa ... idenya lagi kabur. nanti kalau muncul lagi aku up lagi hari ini. Tapi sambil nunggu ... boleh dong kalian kasih vote, bunga sama kopinya. biar aku semangat ☺️...


...Btw kira-kira si Juna kapok nggak, ya 🤣...

__ADS_1


__ADS_2