Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
88. Belum goyang


__ADS_3

21+


"Kamu," jawab Steven cepat tanpa berpikir.


"Beneran apa bohongan?" tanyanya yang tak percaya. Dia menatap wajah merah Steven, matanya juga sayu. Tampak jelas jika Steven tengah menahan kabut gairah di dalam dadanya. Bahkan miliknya yang masih tegang itu tengah berkedut-kedut.


Steven mengangguk cepat. "Iya, aku memilihmu, Cit."


"Kalau benar memilihku, apa Om berani mengenalkanku kepada orang tua, Om?" tantang Citra.


"Iya, aku berani. Tapi kita bercinta dulu, ya? Habis ini kita pergi ke rumah Mama dan Papaku." Steven perlahan mendekat, bibirnya sudah monyong ingin mengecup bibir Citra, tetapi segera ditutupi dengan telapak tangan istrinya.


"Kita ke rumah orang tua Om dulu, baru bercinta."


"Nyusu sebentar deh, ya?" pinta Steven seraya menyentuh salah satu dada Citra. Baru saja hendak diremas, tetapi lagi-lagi Citra segera menepisnya.


"Nggak mau." Citra beranjak dari tempat tidur, lalu membereskan rambut yang terlihat berantakan. Mungkin baru selangkah dia menggerakkan kaki, tetapi dengan cepat Steven menarik lengannya hingga tubuh Citra terjatuh di atas kasur. Cepat-cepat Steven menghimpit tubuhnya dan mengunci pergerakan tubuh yang masih menolak itu.


"Aku mohon ... kita bercinta dulu, aku nggak tahan, Cit. Aku berjanji akan mengenalkanmu kepada orang tuaku," pinta Steven dengan memelas. Birahinya sudah menggebu-gebu. Dia merasa tak tahan ingin segera mengagahi istrinya itu.


"Tapi nanti Om pasti bo ... eeemmptt!" Bibir Citra dilahap dengan rakus dan penuh nafsu oleh Steven, lalu perlahan kedua tangan Steven meremmas dadanya dengan gerakan memutar.


Awalnya Citra masih berusaha untuk menolak, tetapi serangan Steven yang bertubi-tubi itu membuatnya seakan pasrah, bahkan saat ini dia tak sadar jika suaminya itu sudah melepaskan seluruh pakaiannya hingga membuatnya polos.

__ADS_1


Permainan tangan dan lidah Steven begitu lincah menyentuh semua lekukan di tubuhnya, sampai dia tak kuasa menahan desahhan di bibir dan memejamkan mata karena sangking enaknya.


Steven sudah melahap salah satu dadanya, mengulum dan menghisapnya penuh nafsu. Jemari satunya memilin puncaknya.


"Ah, geli Om," desah Citra sambil merem melek.


Steven melepaskan benda kenyal itu lalu mendongakkan wajahnya dan menatap mata Citra dengan lekat. "Geli-geli enak, kan?"


Citra mengangguk.


"Bilang iya dong," pinta Steven dengan bibir manyun.


"Iya, enak." Citra mengangguk cepat.


"Aku nggak mau," tolak Citra seraya menggeleng.


"Lho, kenapa? Katanya enak," tanya Steven dengan sedih. Senyuman itu sirna seketika.


"Nggak mau nolak maksudnya. He he he." Citra menyahut sambil cengengesan. Wajahnya terlihat makin manis dan imut dalam penglihatan Steven.


"Nakal kamu, ya, Cit!" Steven mencubit kedua puncak dada itu dengan gemas dan seketika membuat Citra merintih.


"Aaww! Sakit, Om. Tapi enak," kata Citra yang kembali cengengesan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku mau nyusu sepuasnya." Steven langsung mendekat ke arah agar-agar itu, kemudian melahap salah satu puncaknya dengan rakus.


Citra refleks meremmas rambut Steven. "Ayok nyusu yang banyak, biar Om cepat gede."


Mendengar itu semua, Steven makin bersemangat. Dia terus melakukannya bagai bayi yang kehausan dan membuat Citra terus mendessah menikmati sentuhannya.


Sekarang, tiba saatnya Steven memulai permainan yang sebenarnya. Perlahan dia pun membuka kedua paha Citra lebar-lebar dan membelai inti tubuh yang begitu indah itu. Miliknya yang perkasa Steven dekatkan, dia melambaikannya terlebih dahulu diambang pintu dan setelah itu, dia mendorongnya sekuat tenaga hingga masuk dengan sempurna.


Mata Steven seketika berbinar, dia tersenyum manis kala merasakan miliknya sesak dan seakan terjepit di dalam sana.


"Baru masuk saja sudah enak, Cit. Apa lagi sudah goyang, ya?"


Baru saja Steven hendak menghentakkan bokongnya, memulai permainan, tetapi tiba-tiba dia merasakan bahunya ditepuk-tepuk oleh seseorang.


"Pak! Bangun, Pak! Kita sudah sampai!" katanya yang mana membuat Steven membuka matanya dengan lebar. Napasnya terdengar tersenggal-senggal seperti habis lari maraton.


Perlahan dia pun mengerjap-ngerjapkan matanya dan seketika terbelalak kala di depan wajahnya itu adalah Jorwo. Steven langsung menatap sekeliling dan ternyata dia berada di dalam mobil.


Sehabis melaksanakan sholat dan berdo'a, Steven memang langsung masuk ke dalam mobil dan meminta Jarwo untuk pergi berkeliling lagi mencari keberadaan Citra, tetapi sepertinya dia ketiduran di dalam mobil.


Terlepas dari apa yang telah terjadi, nyatanya Steven merasa jengkel dengan tindakan Jarwo yang membangunkannya secara tiba-tiba itu. Sebab momennya dialam mimpi sangat tanggung sekali dan miliknya di dalam celana terasa tegang.


"Kenapa Bapak malah membangunkanku!" berang Steven marah, dia pun langsung turun dari mobil lalu menendang ban dengan gemas.

__ADS_1


...Waduh ngamuk 🙈🤣 kasihan ... padahal lagi enak-enaknya, ya, Om 🤭...


__ADS_2