Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
296. Pelanggan pertama


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, Fira dan Tantri keluar dari kamar kost-annya.


Sama halnya seperti Tantri, Fira juga sekarang sudah mandi dan berdandan cantik dengan dress mini ketat panjang sepaha di tubuhnya. Warnanya merah menyala dengan bentuk V pada lehernya. Sehingga buah dadanya yang montok itu tampak menyembul keluar.


"Nah. Kalau kayak gini 'kan bagus, cantik. Ayok kita berangkat sekarang," ajak salah seorang pria berbadan besar, dia mencekal lengan Fira dan menariknya kasar untuk ikut melangkah bersamanya. Sedangkan Tantri di belakang, tetapi dia juga dicekal oleh pria di sampingnya.


"Kata Mami kita akan dijemput sama Kimmy, siapa yang namanya Kimmy?" tanya Fira sembari mengusap air matanya yang baru saja jatuh membasahi pipi.


"Dia ada di mobil," jawab pria di samping Fira.


Langkah mereka pun berhenti di halaman kost-an. Di sana ada sebuah mobil hitam merk Peugeot Traveller yang memiliki kursi penumpang berjumlah 9.


Tak lama, turunlah seseorang yang duduk di kursi depan di samping kursi kemudi. Dia adalah seorang pria dengan tampilan wanita.


Usianya seperti masih 25 tahunan, dia memakai tanktop putih dan rok pendek kotak-kotak. Terlihat jelas buah dadanya begitu montok. Sepertinya dia memakai silikon.


"Perkenalkan, namaku Kimmy. Asisten Mami. Kalian cepat masuk, teman-teman yang lain sudah menunggu," titahnya dengan dagu yang terangkat ke arah mobil.


Pria berbadan besar di samping Fira langsung menggeser pintu tengah mobil itu, kemudian mendorong Fira untuk cepat masuk. Tantri juga ikut dan duduk di sampingnya.


Di belakang meraka sudah ada lima wanita, teman-teman mereka yang datang berbarengan di Samarinda.


Setelah menutup pintu dan melihat Kimmy masuk, sang sopir yang duduk di kursi kemudi langsung melajukan kendaraannya.


Fira memutar kepalanya ke belakang, lalu memperhatikan wajah satu persatu temannya di sana. Semua wajah itu cantik, tetapi tampak sendu, tidak ada yang ceria sama sekali.


Dia yakin, pasti mereka sama halnya seperti dirinya. Yang tidak mau dijual.


"Kita mau ke mana, Mas Kimmy?" tanya Fira yang baru saja membenarkan kembali posisi duduknya. Lalu menatap kursi depan.


"Kamu panggil apa tadi? Mas?" Kimmy menoleh dengan wajah keki. "Aku secantik ini kamu bilang Mas? Buta kamu?!" sentaknya marah.


"Maaf, Mbak Kimmy maksudku."


"Panggil Kimmy nggak usah pakai Mbak!" tekannya sambil melotot. "Kita akan ke club malam, kalian akan mendapatkan pelanggan pertama."

__ADS_1


"Apa aku boleh memilih siapa yang menjadi pelangganku?" tanya Fira. Mungkin menurutnya, melayani pria tampan jauh lebih baik daripada yang jelek. Itu akan meringankan penderitaannya.


"Mana bisa seperti itu. Yang kalian lakukan hanya menuruti permintaan pelanggan. Entah siapa pun pelanggannya nanti," ketus Kimmy lalu memalingkan wajahnya.


*


*


Setelah sampai di sebuah club malam terbesar yang ada di kota Samarinda, Fira dan enam orang temannya masuk ke dalam sebuah ruang karaoke yang begitu luas.


Mereka semua duduk berjejer pada kursi merah.


Tak lama, Mami masuk ke dalam sana dengan tujuh orang pria berjas. Bentuk tubuh, wajah dan warna kulit mereka berbeda-beda. Bahkan umurnya juga. Dari mulai 30 sampai 50.


Ada yang hitam tinggi besar, ada yang pendek putih dan berperut buncit. Ada yang hitam pendek. Tampan, jelek, bergigi tonggos, brewok, Botak, cepmek dan bahkan gondrong pun ada. Pokoknya bermacam-macam pria di depan mereka.


"Silahkan kalian pandangi siapa yang kalian inginkan," ucap Mami sambil tersenyum. Ketujuh pria itu sudah membayar masing-masing 15 juta untuk wanita di depannya, jadi tinggal memilih saja siapa yang mereka inginkan. "Kalau suka dan ingin menyewa, kalian bisa langsung membawanya."


Wanita-wanita itu saling menatap pria di depannya, sebab sebelum pria-pria itu datang mereka diperintahkan seperti itu.


Sungguh, dia sangat membenci wanita itu karena sudah berani menipunya.


'Dasar wanita peot. Bisa-bisanya dia menjualku, kenapa nggak dia saja yang jual diri?' batin Fira jengkel.


"Kalau sudah dipilih, kalian harus menuruti permintaan mereka, ya?" pinta Mami pada beberapa wanitanya. "Puaskan pelanggan kalian selama seminggu full bersama. Jangan membuatnya kecewa apalagi berniat kabur. Kalau sampai itu terjadi ... taruhan kalian adalah nyawa!" ancamnya sambil melototi Fira. Gadis itu langsung memutar bola matanya dengan malas.


"Aku mau sama Fira saja, Mi," ucap salah seorang yang mendekati Fira dan melihat papan nama pada dressnya. Fira mendongakkan wajahnya, menatap pria itu.


Dia tidak terlalu tinggi, gendut dan berkulit hitam legam. Brewok namun berkepala plontos. Wajahnya pun pas-pasan. Usianya sekitar 40 tahun.


Fira langsung menggerutu dalam hati. 'Pelanggan pertamaku jelek banget, masih ganteng Mas Tian kemana-mana. Ah ... aku jadi rindu sama Mas Tian.' Bola mata Fira berkaca-kaca, air matanya pun langsung berlinang membasahi pipi. 'Sedang apa kamu sekarang, Mas? Apa kamu sudah melupakan aku karena telah bersama istri barumu? Kenapa kamu tega sekali. Kamu jahat!'


***


"Namaku Aril, panggil aku Sayang selama kita bersama, ya?" pinta pria yang membeli Fira. Dia mengajak wanita itu masuk ke dalam sebuah kamar hotel dan langsung mengunci pintu.

__ADS_1


Fira tak menanggapi, wajahnya terus merengut. Dia duduk di bibir kasur.


"Kamu dengar aku atau nggak, sih?!" tanya Aril dengan sedikit berteriak.


"Iya. Dengar," jawab Fira malas.


"Kamu harus benar-benar memuaskanku! Kalau nggak, kamu aku lempar dari dari jendela!" ancamnya dengan jari telunjuk yang mengarah ke arah jendela. Fira langsung mengangguk cepat sembari menelan ludahnya dengan kasar. "Kamu sudah mandi belum?" tanyanya seraya duduk di samping Fira dan merangkul bahunya. Satu kecupan langsung mendarat ke arah pipi, tetapi Fira segera mengusapnya.


"Sudah," jawab Fira singkat.


"Bagus. Sekarang buka seluruh pakaianmu. Aku ingin melihatmu bugil."


"Sekarang?" tanya Fira dengan ragu.


"Iyalah."


Dengan penuh keterpaksaan, Fira pun langsung menarik dressnya ke atas, lalu melucuti seluruh pakannya hingga tertinggal.


'Mas Tian, aku nggak mau melayaninya. Lebih baik aku bercinta denganmu saja,' batin Fira.


Aril menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh polos di depannya yang tampak montok itu. Bukan hanya dadanya yang besar, tetapi bokongnya juga. Tak diragukan memang, tubuh Fira begitu sempurna.


"Kamu aduhai sekali, Fir. Sekarang menarilah di depanku!" titahnya.


"Menari bagaimana?" Kening Fira mengerenyit. Kedua tangannya menutupi inti tubuh dan puncak dada.


"Ya menari, masa nggak tahu?! Joget gitu kayak goyang ngebor atau apa. Ayok cepat gerakan pinggulmu!" titahnya yang tak sabaran. Dia lantas mengambil ponselnya dan memutar lagu DJ yang tengah viral baru-baru ini.


Fira pun mulai mengerakkan tubuh dan pinggulnya, tetapi gerakannya itu mirip dengan goyang Bang Jali.


"Yang serius dong, Fir, goyangnya. Cepat!" protes Aril. Dia lantas menyibak selimut, lalu mengambil sebuah alat pecut.


Fira terbelalak, dia mempercepat goyangannya dengan asal. "Kenapa kau memegang alat itu? Untuk apa?" tanyanya dengan wajah ketakutan.


...Vote dan hadiahnya ditunggu 😔...

__ADS_1


__ADS_2