Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
348. Maaf untuk apa?


__ADS_3

"Bicara apa? Kalau nggak penting mah mending nggak usah," sahut Nissa dengan judes.


"Ini penting, Nis. Tentang hidupku."


"Katakan."


Abi memberanikan diri untuk menyentuh tangan Nissa, tapi wanita itu langsung menepisnya. Selain kaget dia juga merasa heran dengan apa yang Abi lakukan.


"Mas jangan kurang ajar, ya! Ini di rumah sakit!" tegur Nissa sambil melotot.


"Maaf, bukan maksudku kurang ajar. Tapi aku ingin minta maaf sama kamu, Nis," ucap Abi lirih. Raut wajahnya seketika berubah menjadi sendu.


"Maaf untuk apa?"


"Untuk semua yang telah aku lakukan padamu dan Juna. Aku menyesal sekali, Nis. Aku minta maaf." Abi mengusap wajahnya dengan tangan kanan, lalu menatap Nissa dengan serius.


"Kalau Mas datang ingin membahas itu, lebih baik pergi saja deh. Aku malas." Nissa mengibaskan tangannya ke udara, seolah mengusirnya.


Meskipun itu sudah berlalu dan Nissa sudah menikah serta memiliki pasangan yang jauh lebih baik, tapi nyatanya luka itu masih membekas. Dan tidak bisa semudah itu memaafkan.


Jauh lebih baik untuk mengabaikan saja, karena dengan terus diingat akan memperparah kelukaan. Dilupakan pun pastinya tidak akan bisa.


"Kok males sih, Nis? Aku 'kan datang karena niat baik yaitu meminta maaf. Aku mengakui semua yang aku lakukan dimasa lalu benar-benar salah, dan bukan hanya menyakitimu ... tapi menyakiti Juna juga," ucap Abi. Sekarang bola matanya tampak berkaca-kaca.


"Kenapa Mas baru sadar sekarang? Setelah semuanya sudah terlambat? Maaf doang mah nggak cukup buat mengobati luka, Mas!" geram Nissa. Kedua tangannya mengepal di atas paha.


"Aku tau. Tapi aku sekarang harus bagaimana supaya bisa menebus semua dosaku, Nis? Sedangkan aku ingin mencurahkan kasih sayangku kepada Juna tapi dia seperti nggak menganggapku. Dia malah lebih menyayangi Tian yang hanya sebagai Papi tiri. Kan aku Papi kandungnya, walau segimana pun buruknya aku." Abi menepuk dadanya. Sekarang sebuah air mata mengalir membasahi kedua pipinya.


"Lha, ngapain Mas tanya aku? Ya pikir sendirilah. Juna juga punya alasan kali, kalau dia lebih menyayangi Tian." Bukannya ikut terhanyut dengan kesedihan yang Abi keluarkan, Nissa justru merasa jengkel kepadanya, juga dengan air mata yang dia anggap sebagai air mata buaya.

__ADS_1


Sebuah penghianatan yang ditorehkan membuatnya menyadari, jika Abi bukanlah pria baik-baik.


"Tapi kamu nggak pernah 'kan bilang sama dia, kalau aku orang jahat? Atau kamu mencoba memisahkan aku sama dia, Nis?"


"Nggaklah," bantah Nissa." Tapi nggak perlu aku cerita pun sepertinya Juna memang sudah tau, bagaimana sikap dan sifat asli Papinya."


Abi menyeka air mata dipipi. Lalu menghela napasnya. "Kalau misalkan Juna tinggal di rumahku bagaimana, Nis? Tinggal denganku dan Aulia. Boleh, kan?" pintanya memohon.


Nissa mengerutkan keningnya, kemudian tak lama dia tertawa.


"Lho, kenapa kamu ketawa, Nis? Memangnya ada yang lucu?" Abi terheran-heran.


"Ya jelas lucu lah. Mas Abi ini seperti nggak punya urat malu ngomong kayak gitu," cibirnya sambil tersenyum miring. "Ngapain juga sih, minta Juna tinggal di rumahmu, sedangkan dari dulu saja Mas nggak pernah mau menghabiskan waktu dengannya." Nissa bersedekap sambil mengangkat dagunya.


"Itu 'kan dulu, Nis. Mangkanya aku minta maaf, jadi mulai sekarang aku mencoba untuk berubah. Aku akan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya dan si Aulia juga katanya kepengen banget tidur bareng Juna."


"Ngarang aja kalau kepengen tidur bareng segala," kekehnya sambil geleng-geleng kepala. Tentu Nissa merasa sangat tidak percaya.


Sebelum Nissa memberikan jawaban berikutnya, tiba-tiba datanglah Tian yang membuka pintu lalu masuk dengan mengendong Juna. Dan rupanya mereka bukan hanya berdua, tapi berempat dengan Steven dan Citra yang tadi sempat bertemu di lobby.


"Ada apa ini?" tanya Tian yang merasa terkejut dengan adanya Abi di sana. Apalagi posisi Nissa dan pria itu cukup dekat meskipun berbeda tempat yang diduduki. Cepat-cepat dia menarik lengan Nissa hingga membuatnya berdiri, lalu merangkul bahunya.


"Apa nggak salah aku lihat? Ada pria br*ngsek ke sini?" tanya Steven dengan mata melotot. Kedua tangannya terlihat mengepal kuat. Baginya, Abi adalah seorang musuh. Dan itu berlaku hingga selamanya.


Abi menelan ludahnya dengan kasar ketika bertatapan dengan Steven. Dia langsung berdiri dan menundukkan wajah. Mendadak ada rasa takut di dalam hati. "Maaf, tapi kedatanganku hanya ingin menjenguk Nissa, tapi sekaligus meminta maaf padanya," ucapnya memberitahu. 'Kalau kayak begini mah rencanaku fiks gagal. Ngapain juga sih, si Steven pakai acara ke sini? Ganggu saja.' Abi membatin dengan penuh kekesalan.


"Bener, Yang?" tanya Tian seraya mengangkat dagu Nissa. Lalu menatapnya dengan penuh curiga. "Tapi ... apa ada hal yang dilakukan Pak Abi padamu?"


Nissa menggeleng. "Benar kok, dia datang cuma mau jenguk dan minta maaf."

__ADS_1


"Minta maaf untuk hal apa memangnya?" tanya Tian.


"Untuk hal yang sudah terjadi dimasa lalu, Ti." Yang menyahut adalah Abi. Pria itu perlahan melangkah maju, lalu menjulurkan kedua tangannya ke arah Juna. Niat hati ingin menggendongnya, tapi sayangnya bocah laki-laki itu justru menggelengkan kepala. Tanda menolak. "Kamu ikut Papi, yuk, Jun. Kita jalan-jalan ke Mall mumpung sekarang hari libur."


"Juna nggak mau," tolak Juna.


"Kenapa? Jangan begitu dong, Sayang. Papi minta maaf kalau Papi selama ini punya salah. Tapi Papi 'kan Papi kandungmu." Abi mengusap puncak rambut Juna. Berusaha untuk merayunya.


"Juna hari ini banyak acara, jadi Juna nggak mau ikut Papi."


"Acara ke mana? Bareng Papi saja. Biar Papi yang antar kamu."


"Nggak mau, orang Juna mau perginya sama Papi Tian kok." Juna menggeleng lalu mengeratkan rangkulan tangannya ke leher Tian.


"Ya perginya ke mana dulu? Kalau begitu Papi ikut deh, ya?" bujuk Abi.


"Nggak mau, orang—"


"Bapak yakin mau ikut?" sergah Tian memastikan. Ucapan Juna tadi dia hentikan.


"Memangnya mau ke mana sih kalian? Jalan-jalan?" tebak Abi penasaran.


"Dih, Pi! Juna nggak mau ngajak Papi Abi!" tolak Juna. Dia menatap Tian dengan wajah memohon sambil menggelengkan kepala.


"Jun, kok kamu tega sama Papi?" Abi sudah merasa kesal. Rahang di wajahnya pun tampak mengeras, begitu pun dengan matanya yang memerah. Tapi dia berusaha untuk mengendalikan emosi, karena sudah bertekad supaya bisa membujuk Juna supaya bisa tinggal bersamanya.


Kemarin-kemarin, dia sudah menemui seorang pengacara, untuk mengurus semua supaya hak asuh Juna bisa berada di tangannya.


Sayangnya sang pengacara tidak mampu membantu, karena selain Juna masih dibawah umur—Nissa juga tidak memiliki kesalahan yang bisa membuatnya mengambil alih hak asuh.

__ADS_1


Jalan satu-satunya ya meminta persetujuan dari Nissa dan Juna sendiri, barulah dia bisa mengambil hak asuh itu.


...Maaf Guys baru update, Author akhir-akhir ini lagi males nulis 🙈 ditambah patah hati karena lihat level novel sendiri 🤧...


__ADS_2