
"Udin! Ngapain kamu ada di sini? Bukannya pulang?" ucap seorang pria yang baru saja datang dengan menunggangi sepeda motor. Dia adalah Sugiono, namun dia bersama temannya dan dia membonceng di belakang.
Udin menoleh. "Eh, Papa. Ini, ada orang yang tiba-tiba pingsan. Nggak tahu siapa. Tapi mereka sempat mau nyamperin aku." Udin menunjuk kedua pria yang terkapar di jalan.
Sugiono turun dari motor, namun bukannya menghampiri Ali dan Aldi, dia justru menatap mobil hitam milik Ali. Matanya berbinar dan sunggingan senyum tercetak jelas di wajahnya.
Kakinya melangkah mendekati kendaraan roda empat yang kebetulan salah satu pintunya terbuka. Segera dia pun masuk ke dalam sana dan menyalakan mesin mobil. Masih ada kunci menancap di dalam sana.
"Kita dapat rezeki nomplok. Ayok pergi dari sini," titah Sugiono dengan kepala yang menyembul keluar dari jendela. Melihat ke arah Udin dan temannya.
"Papa mau nyuri mobil?" tanya Udin.
"Iya, lumayan ini kalau dijual buat biaya kuliahmu. Cepat pergi dari sini, Din, sebelum mereka bangun." Bagi Sugiono, ini adalah kesempatan emas. Kapan lagi dia bisa mendapatkan sebuah mobil secara gratis. Apalagi suasana begitu sepi, hanya satu dua mobil yang lewat dan itu pun begitu kencang.
Dia yakin, sangat aman sekali kalau dirinya mencuri mobil. Segera dia pun menancapkan gas, kemudian berlalu pergi.
Temannya langsung menyusul. Udin juga sama, dia memakai helm dan jaket, lalu menyalakan mesin motor dan mengendarainya.
*
*
Seusai menjenguk Bejo dan sholat Magrib di rumah sakit, Angga memutuskan pulang naik taksi bersama Kevin.
Kondisi pria kurus itu masih belum sadar, mengalami koma. Efek racun burung ternyata sangat kuat di tubuhnya.
Dalam perjalanan, Angga menatap ke arah jendela. Memperhatikan kendaraan yang lalu lalang.
Namun, keningnya seketika mengerenyit kala melihat dua orang yang terlihat dia kenal terkapar di pinggir jalan.
"Pak! Minggir dulu!" titah Angga cepat.
Sang sopir langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian Angga bergegas turun dari mobil dan menghampiri mereka.
Matanya terbelalak ketika baru sadar jika dua orang itu adalah Ali dan Aldi. Rupanya kedua pria itu pingsan sampai Magrib dan tak ada yang menolong sama sekali. Kasihan sekali.
"Lho, si kembar kenapa tidur di sini?" Angga langsung berjongkok. Kemudian menggoyangkan bahu Aldi dengan kuat. "Heh! Bangun! Kenapa tidur di jalan!"
Kevin ikut membantu. Dia membangunkan Ali dengan cara mematuk paruhnya pada rambut kepala.
Tak lama kemudian mereka berdua mengerjapkan matanya secara bersamaan, kemudian menarik tubuhnya hingga duduk.
"Kok saya bisa tidur di jalan sih, Pak?" Aldi bertanya seraya menatap sekeliling. Dia perlahan berdiri, begitu pun dengan Ali.
__ADS_1
"Mana kutahu. Ya kalian kenapa tidur di sini? Kalau ngantuk pulang dong! Kayak nggak punya rumah saja!" celoteh Angga.
Dou Al langsung saling memandang, mereka terdiam dan tak lama kemudian langsung membelalakkan mata. Kala mengingat atas apa yang sudah dilalui.
Keduanya pingsan karena bau ketek Udin.
"Kemana si Udin, Al?" tanya Aldi seraya menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Udin. Ali juga sama, hanya saja dia baru sadar jika mobilnya tak ada.
"Ya ampun, di mana mobilku, Di?" tanya Ali panik seraya berlari pada tempat di mana mobil itu parkir. Kemudian dia pun menatap Angga yang sejak tadi tampak bingung. "Apa Bapak melihat mobil saya? Mobil saya nggak ada, Pak."
Angga menggeleng cepat. "Aku nggak lihat, aku datang cuma ada kalian doang tidur dijalan."
"Sepertinya mobilmu ada yang bawa kabur, Al," ucap Aldi. Dilihat bola mata temannya sudah berkaca-kaca, dia menjambak rambutnya sendiri.
"Duh, mana mobil itu baru lunas kemarin. Sayang banget kalau hilang, Di," keluh Ali sedih. Aldi pun mengusap bahu temannya, mencoba menenangkan.
"Mau lapor polisi? Ayok aku antar," tawar Angga.
"Tapi bagaimana dengan Udin, Pak?" tanya Ali bingung.
"Udin itu siapa?"
"Kami juga nggak tahu. Tapi Pak Steven yang meminta untuk menculik Udin. Dan Pak Steven juga minta malam ini semua beres," jelas Ali.
"Kita lanjutkan penculikan ini besok saja, Di, sekarang kita pulang. Aku mau lapor polisi." Ali tak mungkin menyuruh Aldi seorang diri untuk mencari. Sebab mereka satu paket, kecuali jika dipesan hanya perorang dan itu jarang sekali.
Aldi mengangguk. Ali pun segera masuk ke dalam mobil taksi, kemudian mobil telor asin itu berlalu pergi meninggalkan Aldi.
Tak lama terdengar suara deringan ponselnya di dalam kantong celana. Panggilan itu dari Steven, segera dia pun mengangkatnya.
"Bagaimana? Kenapa teleponku nggak kalian angkat-angkat?!" Steven langsung menggerutu. Suaranya terdengar begitu nyaring hingga membuat telinga kiri Aldi sakit.
"Rencana hari ini gagal, Pak. Mungkin besok kami akan beraksi lagi."
"Aku maunya sekarang!" tegas Steven.
"Masalahnya kami sedang mengalami musibah, Pak."
"Musibah apa?"
"Saat kami ingin membius Udin, kami justru pingsan. Terus pas bangun mobil Ali dicuri orang," jelas Aldi.
"Kenapa kalian pingsan? Dibius?"
__ADS_1
"Nggak, tapi kepala saya pusing dan langsung hilang kesadaran gara-gara mencium bau ketek. Ali juga sepertinya sama. Soalnya dia juga pingsan."
"Kalian pingsan gara-gara bau keteknya si Udin?"
"Iya, harusnya Bapak memberitahu saya kalau Udin itu bau ketek. Jadi kami bisa pakai masker."
"Kenapa kamu malah nyalahin aku?!" teriak Steven marah. "Salahmu sendiri kenapa tiba-tiba menutup telepon? Padahal aku belum selesai bicara!"
Benar, Steven sempat ingin memberitahu Udin bau ketek disaat Aldi bertanya tentang ciri-ciri Udin. Sayangnya, kalimat bau ketek itu diungkapkan dipenghujung, tidak diawal. Jadilah seperti ini.
"Lagian, kalian ini payah sekali! Masa karena ketek saja pingsan. Nggak malu sama badan?" tambahnya kesal.
"Bapak nggak tahu, sih, bagaimana baunya. Sesek banget, Pak, sampai ke ulu hati. Bikin mual lagi." Aldi langsung menutup bibirnya kala mengingat aroma terapi itu.
"Apa pun alasannya ... yang aku mau kalian menculiknya malam ini juga! Kalau besok ... aku akan membayar kalian setengah!" tegas Steven.
"Beritahu saya di mana rumah Udin, nanti saya ke sana, Pak."
"Aku nggak tahu rumah Udin."
"Kalau begini mah susah, saya jadi ...."
Tut ... tut ... tut.
Panggilan itu langsung terputus begitu saja, padahal Aldi belum selesai bicara. Pria itu pun langsung berdecak kesal.
"Bagaimana caranya aku menemukan Udin, sedangkan rumah dan fotonya nggak diinfokan?" Aldi menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi dan bingung untuk berbuat apa sekarang.
Sedangkan dia tak mau tarifnya dipotong. Dia butuh uang untuk perawatan wajah, supaya bisa tampan dan mendapatkan jodoh.
"Lagian ngapain, sih, nyulik bocah jelek dan bau ketek? Kayak nggak ada yang lain saja!" gerutunya kesal.
"Orang mah cewek kek kaya kemarin, atau setidaknya cowok juga ya jangan bau keteklah."
"Si Udin juga, kok bisa keteknya sebusuk itu? Dia 'kan anak kuliahan. Apa nggak mabok teman satu kelasnya? Kok dosennya juga nggak negur dia? Harusnya ditegur dong." Aldi jadi memikirkan ke arah sana.
"Minimal kalau jelek jangan bau keteklah, kan ribet kalau begini. Terus ngapain juga Pak Steven meminta dia dibawa ke dokter gigi? Yang bermasalah 'kan keteknya, bukan giginya. Ya meskipun tonggos juga, sih."
...Jadi ngoceh, ya, Om, bukannya mikirin cara bisa nyulik 🤣...
...Like, komen, hadiah dan votenya jangan lupa berikan ya, Guys. Biar semangat nulis 🙏...
...maaf juga baru up 🙏...
__ADS_1