Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
277. Ada kecoa


__ADS_3

21+


Tian cepat-cepat menghamparkan karpet itu di lantai, lalu menaruh bantal di sana.


Sebenarnya, bisa saja Tian bercinta tanpa karpet. Tentu dengan berbagai gaya yang pernah dia coba.


Hanya saja, Tian takut Nissa tak mau. Dan momen yang dia katakan unboxing itu memang lebih bagus jika dilakukan dengan Nissa yang berbaring terlentang. Sebab dengan begitu, Tian bisa leluasa melihat tubuh istrinya tanpa busana.


Nissa yang tengah mengunci pintu kamar mandi itu langsung diangkat tubuhnya oleh Tian, lalu membawanya menuju tikar seraya merebahkannya pelan-pelan.


"Sudah dikunci?" tanya Tian yang tengah melepaskan kaos putihnya.


"Sudah." Nissa mengangguk. "Mau langsung tusuk apa gimana?"


"Kamu pengen langsung aku tusuk memangnya?" Tian berbalik tanya, wajahnya langsung merah padam dan dia kini tengah melucuti seluruh pakaiannya hingga polos sempurna.


"Maksudnya, nggak pakai pemanasan?" Nissa menelan ludahnya. Saat melihat benda panjang yang menggelantung milik Tian berdiri di hadapannya. Seketika, dia pun mengingat ucapan Juna, yang mengatakan burung itu panjang dan besar. 'Juna memang anak yang jujur,' batinnya.


Selain itu, jika dibandingkan dengan milik mantan suaminya, jelas sangat jauh. Tian lebih unggul. Dari besar dan panjangnya.


'Pasti enak banget. Duh, nggak sabar kayaknya,' batin Nissa. Otaknya langsung travelling.


"Pakai dong, masa bercinta nggak pakai pemanasan." Tian tersenyum, lalu segera menindih tubuh Nissa dan mendekatkan wajah. Birahinya sudah menggebu-gebu.


Cup~


Sebuah kecupan bibir itu mendarat, kemudian tak lama mereka pun berciuman. Saling bertukar saliva dan membelitkan lidah.


Tian langsung meremmas dada istrinya, terasa kenyal dan lembut. Baru memakai tangan saja rasanya enak, apalagi dengan bibir? Nissa juga tak memakai bra.


"Bibirmu manis, Yang," ucap Tian disela-sela ciumannya. Mereka pun saling beradu.


Setelah cukup lama berciuman, Tian langsung mengecupi seluruh wajah Nissa, kemudian turun ke leher.


"Aku buka, ya?" pinta Tian saat menyentuh ujung dress tidur yang Nissa kenakan. Dress itu sudah menyingkap sebenarnya, dan cellana dalam berwarna putih yang Nissa pakai terekspos dengan jelas.


"Boleh." Nissa mengangguk. Wajahnya tampak merah, dia merasa tak sabar sekali ingin merasakan milik Tian masuk. "Ayok cepat, Yang. Takut Juna bangun."


"Iya, Sayang. Sabar, Juna nggak bakal bangun kok," ucap Tian yakin.


Dress putih itu Tian lepaskan, berikut dengan kemben putih dan terakhir CD. Bentuknya lucu sekali, pinggangnya hanya memakai tali.


"Seksi banget kamu, Yang. Ternyata memang sudah mempersiapkan untuk malam pertama kita, ya?" Tian merona, lalu melepaskan dua tali pada pinggang istrinya dan melepaskan kain itu.


"Apanya, Yang?" tanya Nissa bingung. Yang sebenarnya, CD itu memanglah satu stel dengan dress tidurnya.

__ADS_1


"Kamu seksi, dan milikmu sangat indah, Yang." Tian membuka kedua paha istrinya lebar-lebar, lalu memperhatikan bentuknya.


Tangannya meraba, membelai bulu-bulu halus di sana. Setelah itu dia pun membungkuk, lalu menghirup aromanya sebentar dan langsung melahapnya.


"Aahh!" desah Nissa dengan mata yang membelalak. Cepat-cepat dia pun menutup bibirnya, sebab takut jika suaranya terdengar dari luar.


Mata Nissa mulai sayu dan mengerjap beberapa kali. Sensasi bibir dan lidah suaminya membuat birahinya memuncak, seluruh tubuhnya meremang tak karuan. Dan dengan refleks dia pun meremmas rambut Tian.


Sedikit lagi Nissa hampir sampai, tetapi justru Tian menghentikan aktivitasnya. Dia langsung berdiri tegak dan berancang-ancang ingin melakukan penyatuan. Sudah menegang senjata.


"Aku masukin ya, Yang?" tanya Tian. Nissa mengangguk cepat.


Perlahan tapi pasti, Tian mulai masuk. Tetapi rasanya sempit sekali dan membuat Nissa memekik. Padahal, sudah basah.


"Aaww!" Nissa menelan ludahnya dengan kasar. Miliknya terasa sesak. Dan Tian menekannya lebih dalam hingga masuk sempurna.


"Aahh!" Mereka mendeesah bersama. Bola mata Tian langsung berbinar. Kala merasakan miliknya terjepit di dalam sana. "Luar biasa sekali, Yang. Aku mencintaimu!" serunya, lalu menghentakkan bokong.


Nissa kembali mendeesah. Kedua tangannya lagi-lagi terlepas dari bibir hingga suaranya keluar. Mau ditahan pun rasanya sulit.


Tian membungkuk, lalu menautkan bibir sembari meremmas dada. Pinggulnya kembali bergoyang dengan ritmen yang cukup kencang.


'Apa mungkin karena sudah lama nggak disentuh, jadi rasanya senikmat ini milik Nissa? Sempit banget, jos pokoknya,' batin Tian dengan gairah yang mendidih. Keringat pada wajah dan tubuhnya mulai bercucuran.


Walau agak linu, tetapi itu justru membuat sensasi baru untuk Nissa yang sudah lama tidak disentuh.


"Papi! Mami!"


Nissa membuka matanya dengan lebar saat dia tadi terpejam karena menikmati. Dia dan Tian sama-sama terkejut, kala mendengar panggilan itu.


'Ah si Juna. Kenapa bangun? Padahal Papi lagi enak-enaknya mau kencingin Mami,' batin Tian.


"Papi! Mami! Kalian di mana?!" Teriakkan kembali terdengar. Suara Juna diluar sana.


"Yang, bagaimana ini?" tanya Nissa yang tampak panik seraya melepaskan ciuman. Tetapi Tian tidak menghentikan aktivitasnya, dia masih menguncang tubuh Nissa dan malah makin kencang.


Tidak lucu rasanya, jika mereka berhenti ditengah jalan. Harus tuntas, meskipun dengan jalur singkat. Supaya kepalanya tidak pusing.


Dessahan dibibir keduanya langsung lolos begitu saja, tak tertahan.


"Ah! Ah!"


"Yes!"


Sudah memanggil tadi, sekarang suara ketukan pintu yang terdengar dari luar kamar mandi.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok.


"Papi dan Mami ada di kamar mandi?!" tanyanya berteriak.


"Yaa ...," jawab Tian. Dia lantas menarik tubuh Nissa untuk duduk di pangkuannya, lalu mulai mengguncangnya lagi dari bawah. Keduanya langsung berciuman, supaya menghindari suara aneh.


"Lagi apa? Kok kayak teriak-teriak gitu?!"


"Ada kecoa, ah!" jawab Tian seraya melepaskan ciuman. Lalu mulai menyusu salah satu puncak dada istrinya.


"Masa sih ada kecoa di kamar mandi?"


"Adaaa!" jawab Nissa sambil menahan desaahan.


"Terus ngapain di kamar mandi berduaan sama Mami?" tanya Juna.


Hening sesaat, lalu Nissa menjawab, "Buang kecoa, Sayang ... Aaahhh!" desahnya keras.


Walaupun darurat dan terburu-buru, akhirnya Nissa berhasil mencapai pelepasan berbarengan dengan Tian.


"Ayok tidur lagi dong, Juna masih ngantuk, Mi, Pi!" teriak Juna.


Hening lagi sebentar....


"Iya, sebentar!" sahut Tian dengan napas yang terengah-engah. Lantas mengusap keringat di wajah istrinya dan mengecup bibirnya. "Kamu udah keluar belum tadi?" tanyanya lirih.


"Udah," jawab Nissa pelan sambil mengangguk. "Kamu gimana?"


"Aku juga udah. Tapi kayaknya masih kurang." Tian membelai kedua pipi istrinya. Ingin beranjak rasanya belum rela.


"Lanjut besok saja, Yang."


"Tapi aku maunya yang lama dan nggak ketahuan Juna, Yang."


"Nanti kita cari waktu lagi, yang penting 'kan malam ini kita berhasil unboxing."


Tian mengangguk, lalu memeluk tubuh Nissa dan menciumi rambut kepala. "Iya deh. Terima kasih untuk malam ini, Yang. Kamu luar biasa, enak sekali. Aku mencintaimu."


"Aku juga—"


"Papi sama Mami dengar Juna nggak?!" teriak Juna lagi sambil mengetuk pintu. Ucapan Nissa terpotong begitu saja. "Buang kecoanya besok saja. Kayak nggak ada kerjaan deh, malam-malam buang kecoa!" omelnya marah.


Juna berdiri sambil bersedekap di depan pintu kamar mandi. Wajahnya merah dan cemberut. Dia tampak kesal sekali, tadi terbangun tidak ada Nissa dan Tian di sampingnya. 'Malem itu enaknya tidur. Eh ini malah buang kecoa, aneh deh Papi sama Mami. Nggak jelas banget!' gerutunya dalam hati.


...Kasihan ya, Juna, dibohongi Papi sama Maminya 🤣 lagian bocil tidur ribet banget, tinggal merem doang juga 🤭...

__ADS_1


__ADS_2