
Nissa masih membeku dalam diam, sampai akhirnya pandangan matanya jatuh pada sebuah amplop di atas meja. Rupanya, amplop itu belum diambil oleh Tian.
Gegas Nissa menyambarnya, lalu berlari keluar ruangan. Mungkin saja Tian belum pergi.
Namun saat sampai di parkiran, dia tidak melihat sosoknya. Mobilnya pun sudah tak ada.
"Mami cari siapa?" tanya Juna yang baru saja melangkah menghampiri, lalu segera memeluk tubuh Nissa. "Mami, Juna laper pengen makan siang bareng sama Mami. Tapi pengennya disuapi," rengeknya dengan manja.
Nissa masih menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Tian. Kemudian setelah itu mengajak Juna masuk dan duduk pada salah satu meja.
"Makan yang dimenu saja, ya? Jangan minta Mami yang masakin," ucap Nissa seraya menyodorkan buku menu. Bocah laki-laki itu mengangguk, lalu membaca dan memilih menunya.
"Mau ikan bandeng bakar tapi nggak sama sambel, terus minumnya es mangga," kata Juna berbicara pada pelayan yang langsung mencatat.
"Sama nasinya juga nggak, Dek?" tanya pelayan itu.
"Iyalah. Mana kenyang makan siang nggak sama nasi," jawab Juna.
"Bu Nissa mau apa?"
"Aku mau kamu bilang ke koki untuk buatkan aku jus tomat tanpa gula. Itu saja," jawab Nissa.
"Baik, Bu." Pelayan itu membungkuk sopan. Dan setelah mencatat dia pun lantas melangkah pergi.
"Ini apa, Mi?" Juna meraih sebuah amplop putih yang Nissa letakkan di atas meja. Tapi tidak dia buka, hanya memperhatikan dari luar sana. "Apa isinya? Duit?"
"Iya, itu duitnya Om Tian yang tertinggal."
"Oh. Kok bisa tertinggal?" Meletakkan kembali amplop itu. "Dan ke mana Om Tiannya emang?" Kepala Juna kini menoleh ke kanan dan kiri, mencari pria itu.
"Dia pulang."
"Kok pulang? Kan ini masih siang, Mi."
"Iya. Tapi Mami sudah pecat dia, Jun. Mulai hari ini dan seterusnya ... dia nggak kerja lagi di sini."
"Lho, kok dipecat? Kenapa, Mi? Apa Om Tian mencuri?" tanya Juna penasaran.
"Nggak." Nissa menggeleng. "Sudah ada yang menggantikan dia, jadi Mami pecat."
"Oh, siapa?"
"Mami belum tahu orangnya, mungkin besok ke sini."
__ADS_1
"Om Tian nangis nggak waktu dipecat? Apa Mami nggak terlalu jahat, ya, memecat orang yang nggak salah?" Juna menatap serius Nissa yang tengah mengetik ponselnya. Membaca pesan dari temannya yang baru saja masuk.
"Mami sama dia ada masalah, jadi dia nggak bisa bekerja lagi."
"Masalah apa? Apa Om Tian menyakiti Mami?"
Nissa menggeleng. "Nggak, hanya masalah kecil. Kamu nggak perlu tahu, ini masalah orang dewasa."
"Kalau masalahnya kecil kok bisa sampai dipecat? Kenapa nggak dimaafkan saja?"
"Masalah kecilnya nggak bisa Mami maafkan, Jun."
"Apa sih itunya, Mi?" Wajah Juna mengerut. Sungguh, dia jadi makin penasaran.
Nissa berdecak kesal. "Kan Mami sudah bilang ini masalah orang dewasa, anak kecil nggak boleh tahu."
"Ah Mami jahat, padahal Juna udah gede. Masih saja dibilang anak kecil." Juna mengerucutkan bibirnya. 'Nanti besok kalau aku main, aku tanya langsung saja deh ke orangnya.'
Tak lama, pelayan restoran datang dengan membawa menu yang mereka pesan. Segera, dia siapkan di atas meja. Beserta dengan air kobokannya juga.
"Apa Mami tahu, kalau Om Tian itu suka sama Mami?" tanya Juna sembari mengunyah satu suapan yang diberikan oleh Nissa.
"Tahu." Nissa mengangguk. Lalu menyesap pipet jus tomatnya.
"Mami hanya menganggapnya teman, nggak lebih, Jun."
"Memangnya kalau teman nggak boleh suka?"
"Ya boleh."
"Terus, Mami suka sama dia nggak?"
"Nggak."
"Om Tian bukan pria idaman Mami, ya?"
"Ngerti apa kamu tentang pria idaman?" Nissa menaruh ponselnya di dalam kantong jas, lalu kembali menguapi Juna.
"Ya mungkin kayak orang yang Mami suka gitu. Terus dulu, Mami sama Om Tian 'kan teman SMA. Duduknya bareng?"
"Nggak." Nissa menggeleng. "Mami duduknya di depan, sama teman cewek Mami. Kalau Om Tian di belakang."
"Dulu, Om Tian ganteng nggak, Mi? Apa jelek?"
__ADS_1
Nissa menghela napasnya. "Sudah sih, kok jadi ngomongin Om Tian? Oh ya, ke mana Om Steven, Kevin dan Papa?" Mencari topik lain, supaya tak terus membahas pria itu.
"Mereka main ludo. Tapi Juna sudah izin kok ke sini, pas lihat Mami diparkiran tadi."
"Oh begitu. Bagus deh." Nissa memberikan suapannya lagi dan anaknya itu langsung melahapnya.
***
Tian berdiri di depan sebuah makam mendiang kakaknya. Dia tersenyum dan perlahan berjongkok di depan sana. Bunga dan air mawar yang dia bawa langsung dia tuangkan di atas tanah merah itu.
Lengan kanan Tian terulur ke arah batu nisan, lantas membelainya.
"Kak, Kakak apa kabar? Semoga Kakak baik-baik saja di sana, ya?" ucap Tian dengan bola mata yang tampak berkaca-kaca.
"Kak, rasanya sudah lama kita nggak berjumpa. Dan adikmu yang kecil ini rasanya rindu." Menjatuhkan bokongnya ke tanah, lalu tubuhnya membungkuk untuk memeluk batu nisan Danu. "Kak, aku minta maaf. Tolong maafkan aku."
"Selama ini, aku begitu jahat sama Kakak, sama Citra. Dan mungkin kematian Kakak bersumber dariku juga." Air mata Tian seketika luruh, mengalir membasahi pipinya. "Hidupku sekarang sudah berantakan Kak. Aku sudah nggak punya apa-apa. Jangankan harta, cinta pun aku nggak punya."
"Kantorku bangkrut, hutangku banyak dan istriku ...." Tian menangis terisak-isak. "Dia meminta cerai, dan mengatakan kalau aku pria nggak berguna."
"Kak Tegar ... dia juga sekarang sudah berubah padaku, dan seperti menjauhiku ...." Tian terdiam sembari membayangkan sikap dingin Tegar padanya.
Memang, pria itu terlihat jelas begitu menjaga jarak, apalagi saat Tian belum berhasil membayar hutang.
Uang memang bukan sumber kebahagiaan. Tapi semua yang ada di dunia ini dibeli oleh uang.
Dan alasan Tian belum membayar hutang karena hutangnya memang terlalu banyak. Menurutnya, kalau berhutang pada saudara sendiri itu jauh lebih ringan bebannya. Selain tidak berbunga, tidak pula terus ditagih.
Namun, malah sikap Tegarlah yang berubah sekarang. Malahan, setiap kali dia menelepon, selalu saja dia berpikir kalau Tian pasti ada maunya. Ingin berhutang lagi.
"Mungkin, semua yang terjadi adalah balasan tentang apa yang telah aku perbuat. Tapi rasanya ... apa yang aku rasakan saat ini tidak sebanding dengan penderitaan Kakak oleh perbuatanku." Tian menelan saliva sambil mengusap kasar wajahnya. "Kak, mulai sekarang aku akan mencoba berubah. Berubah untuk menjadi pria yang jauh lebih baik. Tidak akan berfoya-foya, bermain wanita dan haus akan harta orang lain."
"Aku juga akan berusaha untuk menyayangi Citra. Anggap saja ini sebuah janjiku kepada Kakak."
Tak lama, terdengar suara adzan Ashar berkumandang. Suaranya begitu nyaring dan berasal pada Masjid yang cukup besar yang letaknya di seberang jalan.
Pandangan mata Tian mengarah ke arah sana, hatinya seketika meleleh mendengar suara lantunan itu. Sejak dia lahir ke dunia sampai sekarang, dia belum pernah masuk ke dalam bangunan itu.
Jangankan untuk sholat, bacaannya pun dia tak bisa. Memang, sejak dulu, Danu, Tegar dan Tian tidak pernah belajar ilmu agama. Mereka hanya mengejar dunia saja.
Seolah ada sebuah dorongan, perlahan tubuh itu berdiri, kakinya mulai melangkah pergi. Menyebrang jalan hingga masuk ke dalam gerbang Masjid.
...Kalau memang ingin berubah, Om juga harus ingat pada sang pencipta. Karena harta, tahta dan wanita itu adalah titipan 🥺...
__ADS_1
...Ayok bersujudlah kepada-Nya. Jika manusia nggak bisa memaafkan kesalahan Om, tapi Allah pasti bisa memaafkan hambanya 🥰...