Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
377. Om Steven mati suri?


__ADS_3

"Astaghfirullah setan!!" teriak salah satu pria yang tadi menggotong keranda Steven, saat baru saja melihat pria itu membuka mata.


Atensi semua orang di sana langsung tertuju ke arah Steven. Dan sontak, kedua mata semuanya terbelalak.


"Setan!!" Dengan refleks semuanya berteriak, juga segera berlari terbirit-birit meninggalkan masjid besar itu. Merasa ketakutan.


Mungkin, yang masih ada di sana hanya kerabat dekat Steven. Juga dengan kedua bocil yakni Atta dan Juna. Seorang ustad pun ikut pergi, lari dengan ketakutan.


"Eemm ... Aa." Citra perlahan melepaskan ciumannya. Bola matanya itu tampak berbinar saat beradu pandangan. Pipi Steven pun terasa menghangat sekarang, dalam sentuhannya. "Aa sudah bangun? Ini bener, kan?"


"Stev! Seriusan kamu bangun?" Mata Angga melotot tak percaya. Dia pun langsung berjongkok menghampiri.


Sofyan, Tian, Rama, Rizky dan Juna pun ikut menghampiri. Semuanya berjongkok dan mengelilingi tubuh Steven.


"Om beneran nggak jadi meninggal? Alhamdulillah kalau begitu." Juna langsung memeluk tubuh Steven, kemudian menempelkan kepalanya ke arah dada. Terdengar suara detak jantung di dalam sana, hanya saja begitu lemah.


Steven perlahan membuka mulutnya, lalu bersuara. "Aaa ... Aakkhh ...." Suaranya terdengar tertahan dan sulit untuk dikeluarkan. Dia juga merasakan dadanya sesak dan berdenyut. Tak lama, napasnya pun terengah-engah.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Stev?" tanya Sofyan panik seraya menyentuh dada adiknya. Terlihat sekarang, tubuh Steven menegang dan bergerak-gerak. Dia mengalami kejang-kejang.


"Bawa ke mobil ambulan, Yan! Kita bawa Steven ke rumah sakit!" perintah Angga dengan lantang.


Sofyan, Tian, Rizky dan Rama langsung mengangkat tubuh Steven. Kemudian membawanya masuk ke dalam mobil ambulan.


Hanya Tian dan Rama yang turun, sedangkan Sofyan dan Rizky duduk di sana. Cepat-cepat mereka membuka lilitan kain kafan dan memasangkan Steven ventilator oksigen. Sepertinya, pria itu mengalami sesak napas juga.


Angga dan Juna juga ikut masuk, kemudian duduk pada kursi depan, di samping sopir ambulan.


"Aa!!" Citra langsung meraih tubuh si kembar untuk dia gendong. Dan sebelum mobil ambulan itu ditutup, dia pun masuk dan duduk. Kevin juga sudah ikut bersamanya.


"Kak, apa Aa akan baik-baik saja? Apa dia akan tidur lagi?" tanya Citra dengan tubuh yang bergetar. Dia menatap Sofyan di depan sambil menangis. Yang dia maksud tidur adalah Steven akan pergi meninggalkannya lagi.


"Berdo'a saja, Cit. Insya Allah Steven akan baik-baik saja." Sofyan mengganti posisi duduknya di samping Citra, lalu meraih tubuh Vano untuk dia gendong.


Tangan bayi tampan itu terus bergerak-gerak dan mengarah pada Steven. Segera, Sofyan mendekatkannya ke tubuh Steven dan Vano langsung memeluk lengan kanan ayahnya sambil tersenyum entah apa sebabnya.

__ADS_1


"Apa ini berarti Om Steven mati suri, Pa?" tanya Rizky menatap Sofyan.


"Kalau benar Steven hidup lagi ... bisa jadi mati suri," jawab Sofyan. "Ya mudah-mudahan," tambahnya penuh harap.


"Hebat, ya, burungnya Opa ... ta*inya bisa menghidupkan orang mati," ucap Rizky seraya menatap Kevin yang sejak tadi memeluk Citra. Bahkan, kotoran burung itu masih menempel pada jidat Steven.


"Bukannya Steven hidup lagi gara-gara dicium Citra ya, Riz?" tebak Sofyan.


"Tapi aku lihat Om Steven buka mata pas diberakin Kevin, Pa. Aku jadi ingin memelihara burung Kakaktua deh."


"Yang benar itu karena Allah, Riz, Yan," sahut Angga. "Udah, kalian jangan banyak mengobrol dulu. Kasihan Steven dan Citra." Angga menatap ke arah menantunya yang masih menangis, juga pada Steven yang masih kejang-kejang.


***


Satu jam kemudian, pintu ruang UGD itu dibuka oleh seorang dokter berkacamata. Beberapa menit sebelumnya, Steven sudah dimasukkan ke dalam sana untuk diperiksa.


Rumah sakit itu adalah rumah sakit yang sama, saat dimana Steven terjatuh dan dinyatakan meninggal. Dan dokter yang memeriksanya juga orang yang sama.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan suamiku, Dok? Dia baik-baik saja dan bernapas, kan?" tanya Citra cepat seraya menghampiri. Dia masih menggendong Varo, sedangkan Vano digendong oleh Angga.


...Kita gantung lagi 🤣 yang ngevote dikit soalnya 🤭 padahal yang baca banyak 😅...


__ADS_2