
Steven menggeleng cepat. "Aku nggak benci padamu, Cit. Tapi aku nggak suka. Ah ... maksudku mungkin cinta. Ya ... aku belum mencintaimu."
Mungkin kata tidak suka bisa diartikan sebagai perumpamaan lain, jadi akan lebih baik Steven menjabarkan saja ke intinya. Supaya Citra tidak salah paham.
"Oh ...." Ya, Citra tahu Steven memang belum mencintainya, tetapi rasanya pertanyaannya barusan membuat dia kembali bingung atas jawaban Steven. "Memangnya malam pertama harus dilakukan sama orang yang dicintai?"
"Bagiku sih iya."
"Tapi aku 'kan mencintai Om."
"Kamu mencintaiku?" Steven mengerutkan keningnya. Kata cinta dan suka rasanya sudah sering dia dengar dari bibir Citra, tetapi sampai sekarang dia menganggapnya itu semua hanya gurauan semata. "Kenapa kamu bisa mencintaiku? Bukannya kata almarhum Ayah ... kamu belum pernah pacaran, ya? Memangnya kamu pernah suka sama laki-laki?"
"Kalau pacaran memang belum pernah. Tapi aku 'kan normal, pasti pernah cinta dan suka sama laki-laki."
"Terus alasan mencintaiku kenapa? Apa karena aku ganteng?" Baru kali ini, secara tidak langsung Steven seperti begitu percaya diri bahwa dia pria tampan alias ganteng. Jika diingatāsemenjak bertemu saja Citra selalu memanggilnya dengan sebutan itu. Bukan dengan nama.
"Iya, yang pertama itu. Tapi bukan ganteng saja. Om juga pria yang baik. Pokoknya Om begitu sempurna di mataku, hingga tak ada celah yang membuat aku nggak bisa untuk tidak mencintai, Om."
Jawaban Citra sangatlah jujur, tetapi entah mengapa terkesan begitu lebay dan seolah tengah mengombal. Itu membuat Steven terkekeh geli.
"Kok Om ketawa? Memang ada yang lucu?"
"Kata-katamu terlalu berlebihan, Cit. Aku manusia biasa dan banyak kekurangan. Nggak sesempurna yang kamu katakan barusan dan ... aku sih berharap kamu hanya menganggapku sebagai Ommu saja, nggak lebih dari itu."
"Maksudnya aku nggak boleh mencintai, Om?"
"Bukan nggak boleh, tapi aku hanya nggak mau kamu nantinya sakit hati." Kata-kata Steven terdengar ambigu.
"Kenapa aku bisa sakit hati? Apa Om akan menyakitiku?"
Steven tersenyum tipis. "Aku akan berusaha supaya nggak menyakitimu. Tapi kalau kita mencintai seseorang ... kita juga harus ikhlas melepaskannya kalau orang itu bukan jodoh kita," ungkapnya dengan serius. Tampaknya apa yang diucapkan Steven seperti dari dalam hati.
"Maksudnya bagaimana?" Citra terlihat kebingungan, jawaban Steven tak berhasil dia cerna. "Kita 'kan memang berjodoh, Om."
"Memang kamu tahu dari mana kita berjodoh? Jodohkan rahasia Allah."
"Tapi kita 'kan sudah menikah, itu tandanya kita berjodoh, kan?"
__ADS_1
Steven menggeleng, sorotan matanya terlihat begitu serius dan menatap dalam Citra. "Menikah bukan berarti kita berjodoh. Kalau jodoh segampang itu ... orang nggak bakal ada yang bercerai sampai dia jadi janda atau duda."
"Jadi Om nggak mau kita berjodoh?"
Steven membuang napasnnya dengan kasar, lalu mengusap wajahnya. Meski sedikit menjelaskan nyatanya gadis itu terlihat tak paham. Sepertinya Steven harus mengakhiri saja. "Bukan nggak mau, tapi 'kan aku sudah bilang tadi kalau itu rahasia Allah."
"Tapi kita juga boleh 'kan kalau berharap?" tanya Citra, wajahnya entah mengapa menjadi sedih, matanya berkaca-kaca. Tetapi dengan cepat dia mengusapnya. "Aku ingin hanya aku yang menjadi jodoh, Om."
"Kalau misalkan bukan kamu bagaimana?" Sebelah alis mata Steven terangkat.
"Ya Om nggak boleh berjodoh sama orang lain."
"Jadi misalkan kita cerai ... terus maksudmu aku nggak boleh menikah lagi?"
"Ngapain kita bercerai?"
"Misalkan."
"Ya itu nggak akan terjadi. Om harus menjadi jodohku sampai aku mati. Begitu pun sebaliknya. Aku akan menjadi jodoh Om sampai Om mati. Intinya kita berjodoh sampai mati."
"Biarkan saja. Terus ... jadi intinya bagaimana?"
"Inti apa? Tentang jodoh?"
Citra menggeleng. "Bukan, tentang malam pertama dan bulan madu."
"Kan sudah kubilang ... aku nggak bisa melakukannya."
"Karena Om belum mencintaiku?"
"Ya."
"Berarti kalau sudah cinta ... bisa?"
"Aku sendiri ragu kalau aku bisa mencintaimu, Cit."
"Memang kenapa? Aku 'kan cantik." Citra langsung membereskan rambutnya, dan seketika Steven baru tersadar jika rambut gadis itu sudah berubah menjadi hitam.
__ADS_1
"Karena aku menganggapmu keponakanku, nggak lebih dari itu." Steven berdiri, kemudian membereskan piringnya dan piring Citra. Lalu membawanya menuju dapur.
Citra duduk termenung dengan bola mata yang berkaca-kaca, kedua tangannya perlahan meremmas baju tidurnya dan tak lama air matanya lolos membasahi pipi.
Kata-kata yang Steven ucapkan terasa begitu menyakitkan. Bagaimana tidak, Citra adalah istrinya. Tetapi Steven menganggapnya sebagai keponakan. Apakah ini adil untuknya?
Cepat-cepat Citra berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Dengan langkah tertatih-tatih dia berjalan menuju kasur dan segera mendudukkan bokongnya di atas sana.
Sebuah bingkai foto yang berada di bawah bantal segera Citra ambil, jari jemarinya perlahan meraba kaca bingkai itu. Itu adalah foto dia dan Danu.
"Ayah ... kenapa Ayah tega sekali padaku? Kenapa Ayah berbohong kalau Om Ganteng suka padaku?" Citra menangis tersedu-sedu, ini bukan kali pertama dia mengeluh karena telah dibohongi oleh Danu.
Namun, kali ini rasanya jauh menyakitkan ketimbang kemarin saat Steven memintanya untuk merahasiakan pernikahan.
Sebab tadi Steven seperti mengungkapkan isi hatinya pada Citra, yang hanya menganggapnya sebagai keponakan. Padahal, cinta yang tumbuh di hati Citra begitu dalam dan makin bertambah setiap harinya.
"Kenapa Om Ganteng malah menganggapku keponakannya, Ayah? Aku 'kan istrinya. Kenapa?" Citra makin terisak dia lantas menyeka air mata pada kedua pipinya. "Aku ... aku mencintai Om Ganteng, sangat sangat mencintainya. Tapi kenapa dia nggak? Kenapa dia nggak suka padaku dan nggak mau bercinta denganku?"
"Ayah ... kenapa Ayah memintaku untuk menikah dengan pria yang sama sekali nggak mencintaiku? Kenapa? Kenapa Ayah begitu tega!" Citra membanting bingkai itu ke kasur dengan emosi, lalu menaikkan kedua kakinya seraya memeluk lutut. Kembali Citra menangis tersedu-sedu. Sedih, kecewa dan sakit hati itu menjadi satu. "Ayah ... aku mencintai Om Ganteng. Aku mau dia juga mencintaiku. Tapi apa yang harus aku lakukan Ayah? Apa yang harus aku lakukan supaya Om Ganteng bisa mencintaiku?"
***
Ting ... Tong.
Ting ... Tong.
Terdengar bunyi bel pada pintu apartemennya, Stevan yang sudah selesai mencuci piring itu lantas membuka pintu.
"Selamat malam Pak Steven," sapa seorang gadis yang tengah berdiri dengan memakai dress berwarna merah, dia tampak begitu cantik dengan polesan full make up yang melekat di wajahnya.
Kedatangannya sontak membuat Steven kaget serta membelalakkan matanya. Cepat-cepat dia pun keluar dan menutup pintu apartemen, takut jika nanti Citra tahu.
"Kamu ngapain ke sini dan tahu dari mana apartemenku?" tanya Steven dengan wajah kesal, matanya mendelik keheranan.
"Aku tahu dari Tante Sindi, katanya aku suruh datang ke sini karena mungkin Bapak lupa. Kan kita mau pergi nonton."
...si Citra nangis noh di kamar, Om Stev. kok tega ya kamuš„²...
__ADS_1