Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
80. Wangi banget


__ADS_3

Tetes demi tetes itu kian berjatuhan dari mata Steven secara tiba-tiba. Semua kata demi kata yang Citra tulis itu terasa menusuk hati Steven dan membuatnya sedih. Entahlah, semuanya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Tetapi yang jelas, saat ini yang Steven mau adalah bertemu dengan Citra.


Perlahan Steven meraba kertas itu, lalu dia dekatkan ke arah wajah seraya menciumnya.


*


*


Sore hari, setelah kantong infusan terakhir itu habis, Steven sudah diizinkan pulang oleh pihak rumah sakit.


Keadaannya juga sudah lebih baik, hanya tunggu jahitan pada dadanya kering.


Sekarang, pria tampan itu bahkan sudah membersihkan tubuhnya dengan dibantu oleh dua perawat pria dan kini tubuhnya yang kekar itu memakai stelan jas berwarna abu-abu.


"Ma, aku pulang naik taksi saja, ya? Aku ada urusan," kata Steven saat langkahnya tiba di parkiran. Dia bersama Angga, Sindi dan Bejo. Di belakang mereka ada Jarwo dan temannya.


"Urusan apa? Ayok pulang. Kamu mulai sekarang harus tinggal dengan Mama dan Papa, Stev!" tegas Sindi seraya menarik lengan anaknya, tetapi pria tampan itu justru menahan kakinya.


"Mungkin Steven mau pergi ke tempat pacarnya, Ma," tebak Angga. Dia masuk ke dalam mobil yang pintunya baru saja dibuka oleh Bejo. "Biarkan saja dia pergi, nanti sama Jarwo saja biar aman," usulnya kemudian.


"Bener kamu mau menemui pacarmu?" tanya Sindi dengan tatapan serius.


Steven mengangguk cepat.

__ADS_1


"Kalau sudah baikan ajak main ke rumah ya, Stev." Angga kembali berucap di dalam mobil. "Papa mau mengajaknya karaokean."


"Iya," jawab Steven.


"Ya sudah, kamu naik mobil saja sama Jarwo. Hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi Mama, ya?" Sindi menarik kepala Steven lalu mengecup keningnya.


"Iya, Ma." Steven mengangguk. Dia pun langsung pergi bersama Jarwo. Sedangkan temannya itu mengalah dan memilih naik ojek.


*


*


"Kita ke mana, Pak?" tanya Jarwo seraya mengemudi.


Beberapa menit akhirnya mereka tiba, hanya Steven saja yang masuk ke dalam gedung apartemen itu. Terlihat, Ajis sedang merokok sambil duduk di depan apartemennya.


"Eh, Pak Steven. Bapak sudah sembuh? Alhamdulillah," katanya sambil tersenyum lebar. Dia segera berdiri saat melihat kedatangan pria itu.


"Di mana Citra? Kok dari kemarin-kemarin nomornya nggak aktif?" tanyanya sambil membuka kunci apartemen, lalu masuk ke dalam seraya berteriak, "Citra!"


Steven langsung menurunkan handle pintu kamar Citra, kemudian melebarkan pintu itu dan masuk.


Seketika matanya membulat kala kamar itu kosong tak ada penghuni. Yang lebih mengejutkannya lagi, bukan hanya tak ada Citra saja, tetapi barang-barangnya pun tidak ada.

__ADS_1


Steven berlari menuju lemari kayu, kemudian membuka pintu dan kembali dia merasa kaget sebab tak ada pakaian Citra di sana. Semua isi lemari itu kosong dan apa pun di dalam kamar itu yang memang barang milik Citra tidak ada.


"Kok barang-barang Citra nggak ada?"


Steven berbalik badan, langkahnya yang hendak keluar kamar itu seketika terhenti lantaran kakinya yang memakai sepatu menginjak sesuatu.


Steven segera menurunkan pandangan ke lantai dan ternyata itu ada sebuah kain yang mirip kacamata, warnanya merah terang dengan model brukat.


Perlahan Steven membungkukkan badannya untuk memungut kacamata kain itu, lalu entah mengapa dia pun langsung mendekatkan hidungnya ke arah cup bra tersebut dan perlahan mengendusnya.


Sepertinya bra itu sudah pernah dipakai sebelumnya, atau mungkin memang kotor?


Namun, yang tercium pada hidung Steven justru aroma wangi mawar dan tentunya itu aroma tubuh milik Citra.


Ingatannya seketika berputar kala membayangkan sebuah momen di mana wajahnya itu dijepit oleh dua bongkahan yang amat kenyal bagaikan agar-agar itu. Susah payah Steven pun menelan ludah dan tiba-tiba dia merasakan miliknya mengeras di dalam celana.


"Duh, kok tiba-tiba aku jadi kepengen agar-agarnya Citra, ya? Pasti enak, sudah lama aku nggak melihat dan merasakannya." Steven memperhatikan lagi bentuk kain itu dan melihat nomornya. Benar kata Citra waktu itu, nomornya 36 dan setelah diperhatikan lebih jauhโ€”bra itu sepertinya sama dengan bra yang Citra lemparkan di dapur. Saat momen mereka akan melakukan malam pertama.


Steven lebih mendekatkan lagi kain itu ke wajahnya, bahkan kali ini sudah menempel. Perlahan dia pun memejamkan mata dan berkali-kali mengendusnya.


"Wangi banget. Aku pengen nyusu," ujarnya dengan frontal.


...Dih, ngapain kali Om Steven ๐Ÿ˜ณ kayaknya sebentar lagi akan ada orang gila baru ๐Ÿ˜…...

__ADS_1


__ADS_2