
"Ah, nanti dia marah kalau nggak dituruti, Pa."
"Ya kamu marahin balik. Nggak usah takut sama suami, apalagi suaminya mesum kaya Steven. Terus, kamu juga jangan mau diajakin bercinta setiap hari. Kasihan sama cucu Papa." Angga perlahan mengusap perut Citra dengan lembut. "Setiap malam dia pasti nggak bisa tidur, gara-gara Steven beratraksi."
"Aku nggak enak nolaknya, Pa, kan dosa juga katanya kalau nolak untuk bercinta."
"Iya, tapi 'kan kamu lagi hamil. Memangnya kamu mau anak kamu kenapa-kenapa?"
Citra menggeleng. "Nggak, tapi coba Papa saja yang bilang sama Aa Ganteng. Biar dia nurut."
"Panggil Abah, jangan Aa."
"Iya, maksudku Abah."
"Steven kalau sama Papa nggak nurut. Malah galakan dia."
"Kalau sama Mama gimana? Nurut nggak dia, Pa?"
"Sama. Tapi nanti deh, Papa coba nasehati." Angga tersenyum, lalu mengelus rambut kepala Citra dengan penuh kasih sayang.
***
Angga membawa Janet pada klinik hewan terdekat, dan sampainya di sana—Janet langsung di periksa, sedangkan Angga dan Citra menunggu diluar.
Selang beberapa menit, pintu ruangan itu pun dibuka. Keluarlah seorang Dokter pria yang memakai jas putih.
"Kenapa dengan Janet, Dok? Sakit apa dia?" tanya Angga seraya berdiri. Mimik wajahnya terlihat cemas.
"Dia salah makan sepertinya, Pak. Jadi perutnya mual. Ditambah dia juga sedang bunting," jelas Dokter itu.
"Apa?!" Mata Angga terbelalak. Kaget sekaligus tak menyangka. "Kok bisa Janet bunting?"
"Memangnya Janet tidak punya pasangan selama ini, Pak?" Dokter itu bertanya kembali. Menurutnya, hewan hamil adalah hal yang wajar. Namun ekspresi wajah Angga yang kaget itu terkesan berlebihan menurutnya.
"Punya, tapi mereka belum kawin katanya, Dok."
"Oh, berarti mungkin Janet bunting dengan burung lain, Pak."
"Boleh aku dan istri mudaku masuk?" tanya Angga seraya merangkul bahu Citra, saat gadis itu baru saja berdiri.
"Papa, aku 'kan menantu Papa," protes Citra.
"Nggak apa-apa, di sini 'kan nggak ada yang tahu."
"Boleh, Pak. Silahkan masuk." Dokter itu melebarkan pintu untuk Citra dan Angga.
Lantas keduanya pun melangkah masuk, lalu menghampiri Janet yang tengah berbaring dengan lemah.
"Janet, kamu hamil anak siapa?"
Pertanyaan konyol dari Angga itu membuat Janet dan Citra tampak bingung. Tapi tak salah juga, sebab dia sendiri tidak tahu kalau Kevin dan Janet sudah kawin.
__ADS_1
"Anak Kevin. Kan saya kawin sama Kevin, Pa," jawab Janet.
"Papa kok ngaco? Kan pasangan Janet memang Kevin, Pa," balas Citra yang tak habis pikir. "Masa dia hamil anak Om Bejo? Kan aneh."
"Masalahnya Kevin bilang sendiri kalau dia belum pernah kawin sama Janet, Dek," jawab Angga yang tak tahu apa-apa.
"Kevin berbohong Papa," jawab Janet jujur. "Kan kemarin-kemarin saya sudah bilang, kalau kami sudah kawin."
"Tapi untuk apa Kevin berbohong? Setahu Papa ... dia burung yang jujur." Angga masih belum percaya.
"Mungkin malu, Pa." Citra menimpali. Tak tega rasanya melihat Janet dimarahi.
"Memang burung punya rasa malu?" Kening Angga mengerenyit tak percaya.
"Kevin kalau mengajak bercinta suka minta di tempat yang sepi, Pa." Janet kembali menyahut.
"Nanti kalau pulang Papa tanya deh sama Kevin. Tapi awas saja kalau kamu berbohong dan berani berselingkuh dari Kevin, Papa usir kamu dari rumah!" ancam Angga sambil menunjuk. Burung Kakatua itu langsung berdiri, kemudian terbang untuk memeluk Angga.
"Jangan. Saya jujur, Pa!" jawab Janet dengan sedih. Bola matanya tampak berkaca-kaca.
Citra mengelus jambul Janet. "Nggak mungkinlah, Pa, Janet bohong. Dia cinta banget sama Kevin." Citra adalah saksi, saat dimana burung itu rela hujan-hujanan demi bisa kawin dengan Kevin.
"Untuk sementara waktu, biarkan Janet tinggal di rumah burungnya, Pak. Bapak punya tempat untuk dia bertelur, kan?" Dokter tadi melangkah menghampiri mereka.
"Punya, Dok." Angga mengangguk. "Berapa hari dia melahirkan telurnya? Dan kapan menetasnya kira-kira?"
"Melahirkan telur sekitar 5 sampai 10 hari. Kalau untuk telurnya menetas ... biasanya sebulan, Pak," jelas Dokter itu.
"Kira-kira, pas dia sudah bertelur ... perlu dibawa ke dokter nggak telurnya? Diperiksa gitu." Angga sendiri tak paham, dia mengira kalau hamilnya burung dengan manusia itu sama, dan baiknya sering kontrol ke dokter.
"Baik, Dok." Angga mengangguk dan menerimanya dengan senang hati.
"Oh ya, satu lagi. Selama Janet melahirkan telur dan mengerami telurnya ... burung jantan tidak boleh dekat-dekat dengannya dulu, ya, Pak. Apalagi sampai melakukan kawin."
"Kenapa memangnya, Dok?"
"Tidak baik untuk kesehatan Janet. Tunggu sampai anaknya menetas dulu."
"Oke deh. Ya sudah, kalau begitu saya permisi. Terima kasih, Dok."
"Sama-sama." Dokter itu tersenyum lalu mengelus kepala Janet. "Jangan setres ya, kamu, Net, dan jangan makan sembarangan. Biar selalu sehat."
"Iya," jawab Janet sembari menganggukkan kepalanya.
*
*
*
Sampainya di rumah, Citra melihat Steven tengah berdiri sambil berkacak pinggang di halaman rumah. Gegas dia pun turun dari mobil, lalu menghamburkan pelukan.
__ADS_1
"Abah ... kok tumben masih siang udah pulang?" tanya Citra sambil mendongakkan wajahnya seraya menatap Steven.
"Kamu panggil aku apa tadi?" Seperti salah dengar rasanya Steven, sang istri memanggil panggilan itu.
"Abah."
"Lho, kok Abah? Jangan diganti dong, kan aku maunya dipanggil Aa."
"Alah, udahlah, Stev. Lagian kamu ini lebay, udah tua segala mau dipanggil Aa." Angga yang baru saja menghampiri mereka langsung menyahut.
"Lha, emang kenapa? Masalah?"
"Ya masalah, nggak cocok. Udah biasa Om, udah Om saja."
"Dih, suka-suka aku dong. Citra 'kan istriku. Mau dipanggil Aa kek, Abang kek, Kakak kek, terserah aku." Steven merangkul bahu Citra lalu mengecup pipinya. "Lagian, Papa juga ganjen banget sih, kenapa ajak Citra segala? Mencuri kesempatan dibalik kesempitan, ya?"
Steven sengaja pulang cepat saat mendapatkan chat dari Citra. Dia merasa khawatir, takut jika Angga melakukan hal senonoh kepada istrinya.
Meskipun Citra sedang hamil, nyatanya rasa khawatir itu akan tetap ada. Apalagi jika bepergian bersama Angga.
"Enak saja, ya nggaklah. Tanya Citra kalau nggak percaya," balas Angga sembari mengerakkan dagunya ke arah Citra. "Oh ya, kamu tolong dong, Stev. Kalau bercinta itu jangan tiap hari."
"Lha, kenapa? Papa iri?"
Angga membuang napasnya, lalu berdecak. "Bukan iri, tapi nggak baik. Kasihan Citra sama cucu Papa." Tangannya terulur menyentuh perut Citra, namun segera ditepis oleh Steven. "Kamu nggak sayang anak sama istri nih."
"Malah kalau bercinta setiap hari namanya sayang. Itu 'kan tandanya aku memuaskan Citra dan nengokin anakku, Pa."
"Ah kamu ini, setiap dinasehati nggak pernah didengar," kesal Angga.
"Ada apa, sih? Sore-sore ribut?" Sindi yang baru saja keluar langsung menghampiri mereka bertiga.
"Itu si Steven, masa disuruh jangan bercinta setiap hari saja nggak mau, Ma. Kan nggak baik buat kandungan Citra. Iya, kan?" tanya Angga seraya menatap istrinya. Dia juga seolah meminta Sindi supaya ikut menasehati Steven.
"Apa yang Papa omongin bener, Stev. Coba deh kamu tanya ke dokter, pasti jawabannya sama."
"Tapi aku nggak kuat kalau nggak bercinta sehari saja, bawaannya kangen dan pengen." Steven langsung memeluk tubuh Citra lalu menciumi rambutnya. Baru saja dia bicara seperti itu, sekarang sang Elang sudah berdiri saja di dalam celana.
"Ih, malu, Abah." Citra melepaskan pelukannya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Steven hendak mengejar, namun dicekal lengannya oleh Angga.
"Papa belum selesai bicara!" tegasnya.
"Apa lagi?" tanya Steven malas. "Papa sama Mama maunya aku bercinta dua hari sekali gitu?"
"Iya. Itu lebih bagus." Sindi menimpali dan mengangguk. "Mama takut cucu Mama kenapa-kenapa, apalagi perut si Citra udah lumayan gede. Musti sering kontrol juga itu ke rumah sakit, Stev."
"Iya, aku akan usahakan. Tapi nggak janji, ya?"
"Kalau nggak kuat bisa pakai cara lain, Stev," ujar Angga memberitahu.
"Cara lain apa?" Kening Steven mengerenyit.
__ADS_1
Angga mendekat ke telinga kanan Steven, seraya berbisik, "Suruh Citra ngemut burungmu."
...Ya ampun Opa 🙈 jadi di sini yg mesum Opa atau Om Steven?🤣...