
"Aku ganteng nggak kalau lagi mandi, Cit?" tanya Steven sembari tersenyum.
"Ganteng."
"Kalau lagi makan?"
"Ganteng juga."
"Kalau lagi tidur?"
"Ganteng."
"Kalau lagi nyetir mobil?"
"Ganteng."
Pertanyaan dari Steven terus berlanjut sampai akhirnya dia menyelesaikan mandi. Akan tetapi jawaban Citra hanya kata itu saja.
Entah alasan apa pria itu terus bertanya pertanyaan tidak penting, namun tampak jelas jika dirinya suka sekali mendengar jawaban Citra.
"Pilihkan aku baju dong," pinta Steven seraya duduk di kasur. Pinggangnya sudah terlilit handuk.
"Baju seperti apa, Om? Nanti pilihanku jelek lagi." Citra sudah berdiri di depan lemari, lalu perlahan membuka pintunya.
"Apa saja, terserah kamu. Kamu juga ganti baju, ya? Pakai baju tidur dari Mama. Mama ngasih kamu baju tidur nggak, sih?"
"Perasaan Mama cuma ngasih baju ini doang deh, Om." Citra mengambil setelan piyama tidur berwarna hitam kotak-kotak. Kemudian memberikannya kepada Steven.
"Memang kamu belum buka lemari pakaianmu? Barang kali ada."
Citra menutup pintu lemari, kemudian beralih pada pintu satunya. Letak dimana semua pakaiannya.
Netranya memindai setiap pakaian, lalu pandangan terjatuh pada tumpukan kain tipis warna warni yang berada paling bawah. Citra mengambil salah satunya yang berwarna hitam. Keningnya mengerenyit.
"Nah, itu kayaknya, Cit," ujar Steven dengan girang. Apa yang dipegang Citra bukan mirip seperti baju tidur, tetapi bikiini. Hanya saja bedanya ini sangat tipis dan bolong-bolong di daerah tertentu.
"Ini kayak pakaian renang, Om." Citra menatapnya dengan nanar. Dia pernah melihat pakaian seperti itu di mall dan aplikasi belanja online, tetapi sedikit pun tak tertarik untuk membeli. Dan dia memang berpikir kalau itu adalah pakaian renang.
"Memang begitu modelnya. Tapi kayaknya cocok banget buat kamu. Ayok pakai cepat. Habis ini kita buka kado." Jari telunjuk Steven menuding tumpukan kado di dekat sofa.
"Tapi malu kayaknya, Om." Citra meringis geli. Masih menatap pakaian di tangannya.
"Ngapain malu? Kan kita sudah sering bercinta dan melihat tubuh masing-masing. Ayok dong pakai, menyenangkan suami itu ibadah tahu. Dapat pahala."
__ADS_1
"Ya sudah deh. Aku pakai." Citra menutup pintu lemari, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Setelah memakai piyama, Steven mengambil dua gunting di dalam nakas, lalu menghamparkan karpet berbulu lembut di dekat tumpukan kado itu.
Steven duduk bersila. Matanya menyorot tajam ke arah kamar mandi, menunggu Citra selesai berganti baju.
'Habis buka kado langsung bercinta ah,' batinnya.
Ceklek~
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi dibuka. Citra keluar dari sana. Melangkah sambil menutup dada dan inti tubuhnya. Akibat modelnya yang bolong-bolong, jadi beberapa daerah sensitif terlihat begitu jelas.
"Jangan ditutup dong. Aku mau lihat."
Citra duduk di dekat Steven. Suaminya itu langsung menarik kedua lengannya supaya tak menutupi kemolekan tubuhnya.
"Nah begini. Ini baru indah namanya. Kamu cantik dan seksi," puji Steven dengan tatapan lapar. Dia menelan ludahnya kasar sembari geleng-geleng kepala. Si Elang langsung berdiri tegak, memberikan isyarat kalau saat ini dia menginginkan sesuatu.
"Ayok buka kadonya. Kok bengong?" Citra menatap Steven dengan kening mengerenyit. Suaminya itu seperti patung. Bergeming dan terus menatap buah dadanya yang menantang tanpa berkedip. "Kita buka kado dulu, Om!" Citra menutup bibir Steven yang tiba-tiba saja monyong ke arah wajahnya. Dia seakan tahu jika suaminya itu menginginkan sesuatu.
Steven menarik tangan Citra. "Cium dikit doang. Nanti kita buka kadonya."
Citra mengangguk, kedua bibir itu pun perlahan bertaut. Namun tangan Steven langsung gencar meremmas dada dan cepat-cepat Citra mendorong dadanya.
"Udah Om. Aku penasaran sama kado-kadonya," ucap Citra sembari menatap beberapa kado di depannya.
"Iya." Citra mengangguk cepat.
Steven mengambil kado yang pertama. Berbentuk persegi empat. Bertuliskan dari Mama Sindi untuk Citra. Dia pun memberikan kepada istrinya.
"Ini, dari Mama."
Citra segera membukanya dengan girang. Jujur saja, dia memang paling suka diberi kado dan membukanya.
Setelah dibuka ternyata itu adalah satu set perhiasan. Mewah dan terlihat cantik sekali, ada beberapa berlian yang menempel.
"Wah, cantik banget, Om," kata Citra menatap takjub.
"Kamu mau pakai? Aku pakaikan." Steven mengambil sebuah kalung dengan liontin berlian. Berinisial huruf C.
"Mau Om." Citra mengangguk, lantas menguncir rambut panjangnya dengan tangan dan berbalik badan. Steven segera memakaikannya. Mengalungkan pada lehernya.
"Harusnya hurufnya itu S, ya, jangan C."
__ADS_1
"Memang kenapa? C mungkin Citra. Namaku, Om."
"Ya harusnya S, Steven. Biar semua tahu kamu itu istriku, Cit."
"Semua orang juga tahu aku istri Om."
"Antingnya sekalian nggak?"
"Iya."
Steven memakaikan anting berbentuk bunga mawar. Dan perhiasan yang lainnya tidak Citra pakai. Sebab dia memang tak terlalu suka memakai perhiasan dengan berlebihan.
Selanjutnya mereka membuka kado berukuran sedang. Bertuliskan dari Sofyan dan Maya. Setelah dibuka ternyata isinya adalah sebuah bantal. Namun Steven sendiri bingung bantal apa itu sebab bentuknya aneh.
"Bantal apa ini, Om? Kok bentuknya aneh?" tanya Citra penasaran seraya mengelus bantal berwarna merah maroon itu. Kemudian ada sesuatu yang tertinggal di dalam bungkus kado, selembar kertas dan Citra pun mengambil serta membacanya. "Bantal untuk berhubungan badan," katanya dengan kening yang mengerenyit. Disana juga tertera cara pemakaiannya.
"Ngapain Kakak Om ngasih bantal untuk bercinta? Kita bercinta nggak usah pakai bantal juga bisa ya, Om?"
"Tapi kayaknya enak juga, Cit, pakai bantal. Nanti kita coba ya?"
Jika Citra terlihat bingung dan biasa saja mendapatkan kado bantal seperti itu, Steven justru senang sekali. Tentunya dia pasti akan mencobanya.
Kado ketiga dari Nissa, yakni liburan ke bali. Selama seminggu untuk Minggu depan.
Kado keempat dari Guntur dan Gita, orang tua Rizky. Isinya adalah jam tangan couple dengan model rantai.
Kado kelima dari Nella dan Rizky, sebuah kunci mobil.
Sedangkan kado dari rekan bisnis Steven dan teman-teman kuliahnya adalah setelan jas, kemeja, sepatu, jam tangan, dasi dan minyak wangi. Semuanya yang digunakan untuk pergi bekerja.
Beberapa kado itu hampir separuhnya telah dibuka, hanya tinggal beberapa biji lagi. Namun anehnya Steven tak menemukan kado dari Angga.
"Om cari apa?" tanya Citra saat melihat suaminya itu sibuk mengambil satu persatu kado yang belum dibuka, lalu menatap nama-namanya.
"Aku cari kado dari Papa, tega banget dia. Masa nggak ngasih kita kado." Steven mendengkus kesal.
"Tapi Papa 'kan ngasih kita pesta, Om. Anggap saja itu kado darinya."
"Ah beda. Pesta ya, pesta, kado ya, kado." Steven berdiri dan masih mencari. Kemudian dia pun mengambil kado yang terakhir, yang belum diambil. Bungkusnya jelek sekali, bentuknya absrak dan warna kertasnya pun hitam. Setelah dilihat ternyata bertuliskan dari Angga untuk Perjaka Tua dan Dedek Gemes. "Nah, akhirnya ketemu. Kukira dia nggak ngasih kado."
Steven menghela napas lega sambil tersenyum, dia pun duduk bersila lagi kemudian membuka kado itu.
Namun saat dibuka, kening Steven seketika mengerenyit kala ternyata isinya sebuah kolor pendek. Dua buah kolor bewarna hijau dengan beda ukuran. Satunya XL satunya M.
__ADS_1
"Parah banget Papa, masa ngasih kado kolor? Mana kolor ijo lagi!" berang Steven marah.
...Nggak apa-apalah, Om. yang penting dikasih kado, daripada nggak sama sekali 🤣...