
"Habis dari sini bagaimana kalau kita ke makam Ayah, Cit? Kita kirim do'a, ya?" saran Steven sambil mengelus lembut punggung Citra.
"Iya, A, aku juga kangen sama Ayah." Citra mengangguk cepat.
"Ngomong-ngomong jenis kelaminnya apa, Dok?" tanya Angga.
"Jenis kelaminnya belum kelihatan, Pak. Nanti coba sebulan atau dua bulan lagi dicek lagi saja. Biar kalian bisa tahu," jelas Dokter itu.
*
Seusai periksa kandungan dan mengambil obat di apotek, mereka pun lantas bersama-sama keluar dari rumah sakit.
Namun, saat berada di parkiran, bahu Angga tiba-tiba ada yang menepuk dari belakang. Pria tua itu lantas berbalik, lalu menatap seorang pria yang umurnya tak jauh dengannya.
Hanya saja dia berjenggot dan berkumis, warnanya putih juga dengan rambutnya. Sedangkan Angga, rambutnya masih hitam sebab dia sering memakai henna rambut. Supaya rambut kepalanya itu masih terlihat hitam pekat.
Umur boleh tua, tapi tampang dan penampilan harus tetap oke menurutnya.
"Maaf, Bapak siapa?" tanya Angga yang sepertinya tak mengenali pria di depannya.
"Ya ampun, kamu lupa sama aku, Ga? Kita 'kan teman lama," ucap pria tersebut sambil terkekeh. Citra, Steven dan Sindi menatap ke arah pria tersebut.
"Eh, Bapak ini Yahya bukan?" tanya Sindi yang terlihat mengenali, dia pun menyenggol lengan Angga. "Ini Kak Yahya, Pa, teman kuliah Papa, masa lupa?" Dia tahu, suaminya kadang pikun. Jadi wajar.
"Oh, Yahya? Ya Allah, maaf maaf, aku nggak ingat." Angga langsung memeluk tubuh pria itu. Dan Yahya ini tidak lain adalah Mbah Yahya, seorang dukun.
Steven menatap pria itu dari ujung kaki hingga kepala. Dia memakai celana jeans berwarna hitam, jaket kulit hitam dan kaos merah. Dia juga memakai topi hitam.
"Oh ya, kenalkan ...." Angga melepaskan pelukan, lalu menatap ke arah Steven dan Citra. "Ini anak bungsuku, namanya Steven dan ini istrinya bernama Citra."
Mbah Yahya mengulurkan tangannya ke arah sepasang suami istri itu, lalu mereka menyambutnya. Berjabat tangan silih berganti.
"Menantumu cantik sekali, wajahnya imut-imut," ucap Yahya pelan, berbisik di telinga kiri Angga.
"Iya, dia dulunya mantan gebetanku," sahut Angga pelan.
"Serius? Mana mau dia sama aki-aki sepertimu, Ga." Mbah Yahya bergelak tawa tak percaya.
"Bener, kamu nggak percaya memangnya?"
"Nggak."
"Papa sama Om Yahya masih lama nggak ngobrolnya?" tanya Steven. Dia merasa pegal ingin segera masuk ke dalam mobil bersama Citra.
"Kita ngopi dulu, Ga." Mbah Yahya merangkul bahu Angga. "Kita juga baru ketemu, ngobrollah dulu," ajaknya.
"Papa nggak ikut ke makam Ayahnya Citra dulu, ya, Stev. Nanti saja kapan-kapan," kata Angga.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Berarti Papa aku tinggal di sini, ya?" tanya Steven. Angga mengangguk pelan.
Mereka pun lantas masuk ke dalam mobil, kecuali Angga. Kemudian mobil putih itu melaju pergi.
Mbah Yahya mengajak Angga ke sebuah restoran yang berada di depan rumah sakit. Mereka duduk di salah satu meja.
"Kamu mau pesan apa, Ga?" tanya Mbah Yahya seraya menatap buku menu.
__ADS_1
"Kopi luwak, seperti biasa."
"Ah minumanmu dari dulu luwak mulu, padahal udah jadi orang kaya, Ga," cibir Mbah Yahya sambil terkekeh.
"Masalahnya di mana? Kan itu kopi kesukaanku, Ya."
"Luwak satu sama coffe latte satu, ya, Nona," ucap Mbah Yahya pada seorang pelayan perempuan yang sejak tadi berdiri menunggu.
"Baik, Pak, mohon tunggu sebentar." Pelayan itu mengangguk, setelah mencatat dia pun melangkah pergi.
"Oh ya, sibuk apa kamu sekarang? Masih pegang kantor apa sudah pensiun?" tanya Mbah Yahya memulai obrolan santai sebelum kopi mereka datang.
"Aku sudah pensiun, lagi ngurus burung saja sekarang. Sebentar lagi aku punya cucu dari mereka, Ya."
"Kamu menganggap burungmu anak? Burung yang mana dulu nih? Peliharaan atau di dalam celanamu?"
"Ya peliharaan dong, masa burung dicelana." Angga terkekeh.
"Tapi masih aktif dia?"
"Apanya?"
"Burung dicelanamu. Masih aktif tiap malam?"
"Masih dong, walau kadang durasinya cepat."
"Minum jamu, aku punya, mau kamu?"
Angga menggeleng. "Aku punya obat kuat, waktu itu dikasih Sofyan. Oh ya, kamu masih jualan batu akik, nggak? Mau beli dong aku. Batu akik darimu dulu sudah hilang."
Angga tak pernah tahu, jika temannya itu menjadi seorang dukun. Mbah Yahya pun tak pernah bercerita, mungkin hanya keluarga terdekatnya saja yang tahu.
Memang, Mbak Yahya sendiri sengaja menurup rapat. Dia tak mau mengumbar kesaktiannya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal rumah ... kamu tinggal di mana sekarang? Sudah lama banget kita nggak ketemu dan kamu nggak pernah main," tanya Angga.
"Aku baru seminggu yang lalu tinggal di Jakarta sekeluarga, Ga. Aku beli rumah."
"Jakartanya di mana?"
"Lumayan dekat sama rumahmu. Nanti deh aku kasih tahu kalau mengantarmu pulang."
"Kita berarti tetanggaan dong, ya?" tanya Angga.
"Nggak juga, jaraknya sekitar 4 kilometer, Ga."
"Oh, kirain tetanggaan sebelahan. Tapi nggak apa-apa deh. Yang penting masih di Jakarta, biar kita masih bisa bertemu."
"Iya." Mbah Yahya mengangguk. Kemudian tak lama pesanan mereka pun datang. "Oh, ya, kamu punya anak berapa sekarang, Ga? Cucu berapa?" tanya Mbah Yahya penasaran.
Terakhir bertemu, saat Nissa menikah dan Mbah Yahya menjadi tamu undangan.
"Anak tiga. Cucu mau enam dan cicit dua."
"Wah, banyak juga keturunanmu ya, Ga. Sampai sudah punya cicit segala."
__ADS_1
"Iya." Angga tersenyum. "Kamu bagaimana? Berapa anak sekarang?"
"Anakku juga tiga, cucu baru dua kembar perempuan. Aku mau deh, Ga, punya cucu laki-laki. Kamu mah enak, ya, cucu laki-laki sama perempuan sudah punya."
"Iya, alhamdulillah. Cicit juga sudah punya cewek cowok." Angga meraih secangkir kopi yang masih beruap itu, lalu menyeruputnya secara perlahan. "Oh ya, anakmu tiga-tiganya sudah menikah semua?"
Seingat Angga, anak Mbah Yahya yang sudah menikah hanya yang perempuan nomor 1. Yang lainnya tidak tahu.
"Hanya yang pertama, tapi sayangnya dia nggak bisa hamil lagi, Ga."
"Lho kenapa?"
"Rahimnya diangkat. Soalnya ada kistanya."
"Oh, terus anakmu yang cowok itu sudah menikah belum? Udah dewasa 'kan itu. Berapa umurnya?"
"Dia Rama namanya, umurnya 38. Dia duda perjaka, Ga."
"Duda perjaka?" Kening Angga mengerenyit. "Maksudnya duda perjaka itu apa?" tanyanya yang tampak tak mengerti.
"Dia sudah menikah, tapi baru selesai ijab kabul ... istrinya meninggal."
Mata Angga sontak terbelalak. "Innalilahi. Sakit atau apa itu, Ya?"
Mbah Yahya menggeleng. "Nggak sakit, cuma dia tiba-tiba kena serangan jantung. Terus sampai nggak tertolong."
"Umur orang nggak ada yang tahu, ya, Ya." Angga menepuk pundak temannya, dilihat raut wajah Mbah Yahya begitu sendu. "Terus sekarang, sudah menikah lagi belum si Rama?"
"Belum, katanya belum ada yang cocok."
"Dia menikah sudah lama? Pas istrinya meninggal?"
"Sebulan yang lalu."
"Oh, belum lama berarti."
"Iya. Tapi aku mau dia cepat-cepat menikah lagi, soalnya dia kayak terpuruk gitu, Ga. Aku kasihan lihatnya."
"Coba lihat wajahnya Rama sekarang, aku sudah agak lupa."
Mbah Yahya merogoh kantong celananya, lalu mengambil ponsel dan membuka galeri. Setelah itu, dia tunjukkan kepada Angga. Seorang pria berkemeja putih.
Wajahnya cukup tampan dan kalem, tidak mirip dengan Mbah Yahya yang sangar. Dan memang, ketiga anak Mbah Yahya tidak ada yang mirip dengannya. Miripnya dengan istrinya yang cantik.
"Kerja di mana dia?"
"Dia pemilik toko perhiasan yang ada di Mall, Ga. Alhamdulillah ... dia punya dua cabang di Jakarta dan satu di Tangerang."
"Alhamdulillah." Angga mengangguk-ngangguk.
"Iya, dia juga yang mendesain sendiri lho. Kalau istri, anak atau menantumu ingin membeli perhiasan ... di tokonya Rama saja, nanti bilang kamu temanku biar dikasih diskon," saran Mbah Yahya.
"Iya, nanti aku ke sana." Angga tersenyum sambil mengangguk kecil. "Oh ya, kebetulan anakku juga janda, itu si Nissa. Kamu tahu dia, kan? Bagaimana kalau Rama dan Nissa berkenalan. Siapa tahu mereka cocok."
...calon saingan Om Tian akan muncul 🤣...
__ADS_1