
"Cucu Papa yang mana? Kok netes?" tanya Citra bingung.
"Si Kevin anaknya, Dek."
"Oh. Alhamdulillah. Aku juga mau lihat, Pa."
"Iya, mangkanya kita pulang dulu."
"Iya." Citra mengangguk.
Setelah sampai rumah, Angga dan Citra langsung menuju sangkar burung. Dilihat Janet dan Kevin tengah berkicau di dalam sana. Mereka tampak riang gembira sekali.
"Papa lama sekali! Kasihan anak saya!" seru Kevin.
"Kasihan kenapa memangnya?" tanya Angga. Dia pun mengambil sangkar burung itu, lalu meletakkan di atas meja. Bejo langsung membantu membongkar sangkar, sebab susah untuk mengambil glodok.
Saat glodok itu dibuka, ada dua ekor burung Kakaktua bayi. Keduanya masih terlihat merah dan tanpa bulu.
"Waduh, waduh. Lucu amat, ini anakmu, Vin? Wah hebat juga. Kok imut banget, sih?" Angga tampak begitu gemas. Lantas mengambil salah satu dari mereka, kemudian meletakkannya ke telapak tangan. Burung itu pun berkicau dengan nyaring, tetapi suara begitu kecil. "Ambilkan suntikkan, Jo. Sepertinya dia haus," titah Angga.
"Suntikan apaan, Pak?" Bejo tampak bingung. "Memang, Bapak punya suntikan?"
"Yang kemarin aku beli pas si Steven ngidam kelapa. Itu 'kan kata yang jual buat ngasih minum dan makan bayi burung. Masih kecil 'kan musti disuapi, Jo."
"Oh itu. Namanya bukan suntikan. Tapi spuit lolohan, Pak," kata Bejo memberitahu. Dia lantas masuk ke dalam pos satpam kemudian balik lagi dan memberikan benda itu kepada Angga. Memang, bentuknya mirip seperti suntikan. Hanya saja tidak pakai jarum, tetapi selang kecil.
"Apa saja terserah, intinya mirip suntikan. Udah dicuci belum ini?"
"Udah kok, pas awal beli juga."
Angga langsung memasukkan air ke dalam benda itu, kemudian menyuapi kedua anak Kevin. Burung yang baru lahir itu tampak benar-benar haus.
"Kamu jangan lihat, Cit. Geli banget tahu." Sindi yang baru saja keluar rumah, lantas menghampiri mereka semua. Lalu menarik lengan Citra, mengajaknya pergi. Padahal sejak tadi menantunya itu begitu serius memperhatikan Angga yang menyuapi air minum kepada cucu barunya.
"Mama jangan begitu dong, walau bagaimanapun mereka 'kan cucu kita," ucap Angga.
"Mereka nggak ada bulunya. Kaya bayi tikus, geli Mama, Pa." Sindi menggeleng. Dia juga tidak mau jika nanti Citra merasa geli, dia sedang hamil.
"Mama Sindi kok tega sama saya dan Janet?" tanya Kevin sendu.
"Bukan tega. Namanya geli bagaimana, Vin?" ucap Sindi jujur. "Ayok, Cit. Lihatnya udahan. Nanti saja kalau sudah sehari dua hari. Kalau nggak berbulu geli." Sindi menarik kembali lengan menantunya supaya ikut masuk ke dalam rumah. Citra yang semula tidak mau akhirnya nurut. Mereka berdua pun meninggalkan beberapa orang di depan pos satpam itu.
__ADS_1
"Papa, Mama Sindi sama Nona Cantik jahat," keluh Kevin sedih. Bola matanya tampak berkaca-kaca. "Masa hanya karena anak saya tak berbulu mereka pergi."
"Mereka tuh biasa lihat burung berbulu, Vin. Jadi kaget dan bilang geli, pas ada burung tanpa bulu," jawab Angga seraya mengelus jambul Kevin.
Dia mengerti perasaan Kevin. Burung itu sebenarnya senang, tetapi sekarang justru tampak sedih lantaran melihat sikap Sindi yang kegelian melihat kedua anaknya yang mungil itu. Sindi juga orang pertama yang melihat kedua anak Kevin.
"Ah ketahuan, nih, pasti burung Pak Angga banyak bulunya," tebak Bejo sambil terkekeh.
"Bukan banyak lagi. Tapi lebat sih, Jo." Dono yang baru saja menghampiri langsung menimpali.
"Enak saja, nggaklah. Aku sering dicukur. Tapi nggak sampai botak."
"Pak Angga," panggil Jarwo yang baru saja turun dari mobil lalu menghampiri. "Jadi nggak ke dokter hewannya?"
"Jadi." Angga mengangguk. "Tapi ini bawa ke dokternya gimana ya, Wo, apa dipegangin kayak gini? Pegel dong," tanya Angga seraya menatap Jarwo. Dia bingung cara untuk membawa kedua bayi Kakatua itu. Takut jika nantinya terjatuh malah mati pas dalam perjalanan.
"Setahu saya sih keduanya dipisah, Pak. Taruh di dalam mangkuk masing-masing lalu diatasnya dilapisi tissue," jawab Jarwo.
"Kamu tahu dari mana?"
"Saya pernah melihat tetangga saya yang punya burung Kakatua, dia begitu cara bawa bayi burungnya ke dalam mobil, Pak," jelas Jarwo.
"Oh begitu. Ya sudah, sana masuk ke dalam. Suruh Bibi untuk mengambil mangkuk dan dilapisi tissue," titahnya.
*
*
Mereka pun akhirnya berada di dalam mobil. Jarwo mengemudi. Angga di depan bersama Janet, sedangkan di belakang Kevin dan Bejo. Pria kurus itu yang memegang kedua mangkuk yang berisi bayi Kakatua.
"Bawa mobilnya pelan-pelan saja, Wo. Takut si Bejo susah pegang mangkuk," tegur Angga seraya memutar kepalanya ke belakang. Menatap Bejo.
"Baik, Pak." Jarwo mengemudi dengan pelan dan hati-hati.
"Papa sudah kasih nama untuk anak saya?" tanya Janet.
"Belum. Nanti kasih namanya kalau sudah diperiksa. Papa juga belum tahu jenis kelamin mereka."
Janet hanya mengangguk-angguk kepala. Tanda mengerti.
Selang 30 menit, akhirnya mereka sampai pada dokter hewan. Dia dokter yang sama saat memeriksa Janet hamil.
__ADS_1
"Sore, Dok. Ini Janet anaknya sudah menetas," ucap Angga saat melangkah masuk ke dalam ruangan dokter, bersama rombongannya. Bejo langsung menaruh kedua mangkuk di tangannya di atas tempat tidur.
"Sore juga. Silahkan Janet ikut berbaring," titah Dokter seraya mendekati tempat tidur. Janet mengangguk, dia langsung terbang ke sana lalu berbaring di samping kedua anaknya.
"Yang lain boleh keluar, kecuali Pak Angga dan burung jantannya," ucap Dokter itu lagi. Bejo dan Jarwo mengangguk, keduanya pun lantas keluar lalu menutup pintu.
Dokter itu mulai memeriksa, pertama Janet dulu. Kemudian kedua burung bayi. Dia juga mengambil dua botol vitamin, lalu meneteskan ke paruh Janet. Lalu botol yang berbeda untuk kedua anaknya.
"Kondisinya sehat semua, Pak. Bagus," ucap Dokter itu sambil mengelus jambul Janet. "Nanti Bapak jangan lupa beli bubur lolohan untuk bayi Kakatuanya. Soalnya mereka belum bisa makan yang keras-keras."
"Bubur lolohan itu bubur apa?" tanya Angga yang tampak bingung.
"Bubur khusus untuk bayi burung. Bapak bisa cari ditempat khusus penjual kebutuhan burung. Bilang saja bubur lolohan. Nanti dikasih kok," terang Dokter itu.
Angga mengangguk paham. "Terus, Dok. Itu anaknya Janet jantan atau—"
"Anak saya juga, Pa!" sela Kevin cepat. Dia tampak tak suka mendengar Angga hanya menyebutkan itu anak Janet. Tentunya Kevin ikut serta membuat, meskipun awalnya karena obat.
"Iya, maksudnya anak Kevin dan Janet. Mereka jantan atau betina?"
"Kalau burung bayi belum bisa terlihat jenis kelaminnya, Pak," jawab Dokter.
"Masa, sih? Coba Dokter cek. Pasti ada alat kel*minnya. Berlubang atau berbuntut," saran Angga.
"Burung berbeda dengan manusia, Pak. Kalau burung itu bisa dapat kita kenali kalau bulu mereka sudah banyak. Juga dengan tubuh mereka. Kalau ada yang lebih besar ukurannya ... tandanya dia jantan. Yang jantan juga lebih terang dan matanya lebih hitam pekat," jelas Dokter itu memberitahu. "Bapak 'kan ada Kevin dan Janet. Nanti kalau mereka sudah berbulu lebat, pasti Bapak sendiri bisa membedakannya."
"Terus, Dok, kira-kira kapan burung Kakatua bisa bicara?"
"Kalau tentang itu saya juga kurang tahu." Dokter itu menggaruk kepalanya. "Soalnya saya sendiri adalah dokter semua hewan peliharaan, bukan khusus burung. Ada baiknya Bapak tanya saja dengan orang yang mempunyai burung lagi, biar tambah ilmu," saran Dokter itu. "Dan burung Kakatua juga harus sering dilatih, supaya bisa berbicara dengan benar, Pak. Tapi ... nggak semua burung Kakaktua bisa bicara seperti manusia. Seperti Janet dan Kevin ini. Rata-rata paling hanya bisa berkicau saja."
Angga mengangguk-ngangguk. Mencoba memahami perkataan dokter itu.
"Berarti, Papa sekarang tanya saja sama Om Hidung Belang," saran Kevin yang sejak tadi diam. Ia yang berada di pundak kiri Angga ikut mencerna perkataan dokter.
"Ngapain tanya Tian? Memang penting?" ketus Angga merengut.
"Om Tian 'kan merawat saya dari bayi, Pa. Pasti dia lebih ahli masalah burung."
...Bener, Vin. Biar calon mertua deket sama calon mantunya 🤣...
...Tadinya, mau Author kasih nama langsung, saran dari kalian ada yang Author pakai namanya. Eh, pas lihat digoogle, ternyata burung Kakatua nggak bisa langsung kelihatan jenis kelaminnya 🥲 Haluku terlalu berlebihan kayaknya 🤣...
__ADS_1
...Jadi ditunda dulu, ngikutin informasi. Takutnya dikira aku aneh 🤭...