
"Kamu mau lihat memangnya?" Angga berbalik tanya.
"Iya, Pa," jawab Tian.
"Ya sudah. Nanti Papa kirim, ya."
"Iya, Pa." Tian mengangguk. Dan panggilan itu pun diputuskan oleh Angga.
Hanya dalam kurun waktu dua menit, sebuah foto berhasil Angga kirim via chat. Foto Silvi yang tengah tertidur bersama Juna yang memeluknya dari samping.
Bukan hanya Tian saja yang tampak heran melihat foto itu, tetapi Nissa juga iya.
"Eh iya, Yang. Kok mirip kamu, ya?" ucap Nissa tak menyangka.
Tian meraih jasnya yang berada di atas nakas. Lalu merogoh saku dalamnya untuk mengambil dompet.
Dibukanya dompet itu, kemudian mengambil sebuah foto seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur dengan tubuh yang dibungkus kain bedong.
"Ini bayi siapa, Yang?" tanya Nissa seraya memegang selembar foto yang Tian pegang.
Wajah bayi laki-laki itu mirip sekali dengan Silvi, dan sepertinya pas foto itu diambil usianya sama dengan usia Silvi sekarang.
"Ini fotoku pas bayi, Yang. Tapi kok bisa mirip sama anaknya Pak Dono, ya?" tanya Tian heran. Keningnya tampak mengerenyit.
"Iya. Kok bisa? Atau mungkin si Silvi itu keponakan kamu?" tebak Nissa. Hanya itu yang ada dipikirannya. Sebab kalau anak, rasanya tidak mungkin. Karena Tian sendiri mengatakan anaknya sudah tiada.
"Kak Tegar perasaan nggak punya anak cewek." Tian menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. "Anaknya cuma cowok satu-satunya. Dan lagian, ngapain juga anak Kak Tegar ditaruh dipanti asuhan? Kan aneh, Yang."
"Iya, sih." Nissa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Eemm ... tapi mungkin ini hanya kebetulan saja kali, Yang."
"Iya kali. Hanya kebetulan." Tian mencubit layar ponselnya. Memperbesar wajah Silvi. Bahkan bentuk hidungnya saja begitu mirip dengannya. Sampai-sampai Tian menyentuh hidung mancungnya sendiri. 'Benarkah ini hanya kebetulan?' batinnya bertanya-tanya.
Krukuk-krukuk.
Tiba-tiba, terdengar suara cacing di perut Nissa. Lamunan Tian yang baru saja berlangsung itu seketika buyar. Dia tersentak.
"Kamu laper, Yang?" tanya Tian.
__ADS_1
"Iya. Banget." Nissa mengelus perut ratanya.
"Kita pesan makan saja, ya? Atau mau keluar makan di restoran dekat sini?" tawar Tian. Dia menaruh fotonya kembali ke dalam dompet lalu memasukkan ke dalam saku jas. Berikut dengan ponselnya.
"Kan aku tadi bawa makan siang buat kita, Yang. Sayang kalau ... aaww!" Nissa hendak beranjak dari kasur. Akan tetapi miliknya terasa begitu perih sekali.
"Kenapa kamu, Yang? Laper banget sampai nggak kuat, ya?" Tian langsung berdiri dan meraih tubuh istrinya. Dia mengira, Nissa merintih karena sangking laparnya. Padahal bukan.
"Perutku memang laper, tapi milikku perih banget kayaknya. Nggak tahu kenapa." Nissa menyentuh miliknya dari balik selimut yang dia tutupi.
"Kok bisa perih? Kenapa? Coba aku lihat." Tian menarik Nissa pelan lalu membantunya untuk rebahan. Tetapi wanita itu menggelengkan kepala.
"Nggak usah dilihat, Yang. Malu aku." Tangan Tian yang hendak menyibak selimut Nissa tahan.
"Ngapain malu? Kan aku sudah melihatnya." Perlahan Tian melepaskan cekalan pergelangan tangan yang dilakukan istrinya. Kemudian dia buka selimut itu secara pelan-pelan berikut dengan kedua paha Nissa yang dia lebarkan. Merah sekali permukaannya, seperti lecet akibat sisa percintaan mereka. "Punyamu lecet. Kayaknya gara-gara aku yang main terlalu kasar, ya? Maafin aku ya, Yang," pintanya seraya menelan saliva. Melihat itu, dia jadi kepengen lagi. Miliknya saja sudah kembali berdiri.
"Bukan salah kamu kok. Kan aku juga ikut mimpin tadi."
"Sebentar, aku kompres dulu pakai air hangat, ya?"
"Nggak usah!" Nissa menahan lengan suaminya ketika kakinya itu hendak melangkah. "Aku mau mandi pakai air hangat saja, Yang."
"Kamu nggak ikut berendam juga?" tanya Nissa sembari memperhatikan tubuh polos suaminya yang tengah berdiri di depannya.
"Kamu saja dulu. Aku mau pesan makan untuk kita. Takutnya makanan yang tadi siang sudah keburu basi, soalnya ini sudah malam. Aku juga sekalian ingin minta tolong belikan salep sama orang. Sebentar, ya?" pamitnya.
Nissa mengangguk, kemudian melihat punggung putih suaminya yang berlalu pergi dari pintu kamar mandi. Perlahan tangannya meraba inti tubuhnya, lalu meringis ngilu.
"Kenapa sampai perih begini, ya? Padahal dulu pas sama Mas Abi nggak nyampe perih," gumam Nissa. "Ah wajar juga. Dulu 'kan aku sama Mas Abi jarang bercinta. Itu pun sekalinya bercinta cuma satu ronde. Aku minta nambah juga dia nggak mau, dia mengeluh capek," gerutunya kesal.
Nissa pun seketika membayangkan pergulumun panasnya bersama Tian. Dan rasanya sekarang birahinya naik lagi. "Duh, jadi kepengen lagi aku. Sayangnya lecet dan sakit," keluhnya.
*
*
Seusai mandi, berpakaian dan makan malam, mereka kembali ke tempat tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00.
__ADS_1
Nissa mendekat ke arah Tian, pria itu tengah duduk selonjoran sembari menyandarkan punggungnya pada dipan ranjang dan menatap laptop. Mengecek beberapa email yang masuk.
"Kamu lihatin apa, Yang? Kerjaan?" tanya Nissa dengan suara mendayu-dayu. Kepalanya menyandar pada dada suaminya sembari memeluknya dengan erat. Sesekali dia menciuminya. Wangi sekali, Nissa suka aroma tubuh Tian.
Tian mendadak menjadi dejavu dan mengingat Juna. Sebab yang biasanya melakukan hal seperti itu adalah Juna.
"Iya. Aku disuruh periksa email sama Rizky." Tian mencium kening Nissa dan membelai pipinya dengan mesra. "Kamu nggak tidur? Ngantuk nggak?"
"Nggak." Nissa menggeleng lalu mengigit bibir bawahnya. "Eemm ... Yang." Tangan kanannya perlahan meraba perut Tian, sampai masuk ke dalam kaos putih yang dikenakan.
"Kenapa?"
"Setelah kamu selesai cek email, mau lagi nggak?" tawarnya dengan malu-malu. Wajah Nissa seketika merona.
"Mau lagi apa? Bercinta?"
"Iya." Nissa mengangguk.
"Kan milikmu lecet, Yang. Baru diolesi salep tadi."
"Terus kenapa memangnya?"
"Kok kenapa?" Kening Tian mengerenyit. Heran dengan pertanyaan sang istri. "Ya nanti pasti sakitlah. Memangnya kamu nggak perih sekarang?"
"Nggak kok. Udah nggak perih lagi," jawab Nissa berbohong. Aslinya masih, akan tetapi birahinya tidak mampu dia bendung rasanya. "Salepnya manjur banget."
"Serius?"
"Iya." Nissa mengangguk cepat.
"Nggak apa-apa memangnya kalau kita melakukan ronde berikutnya?"
"Nggak apa-apa. Malah nggak apa-apa banget," jawab Nissa dengan semangat. Tak ikhlas rasanya kalau malam ini mereka hanya tidur tanpa bercinta lagi. Pastinya momen ini sangat langka.
"Ya sudah sebentar, aku baca ini dulu." Tian mengklik salah satu email itu, lalu mulai membacanya dengan serius.
Namun, tangan Nissa yang terus meraba-raba perutnya kini sudah berpindah ke tempat lain. Dan sontak Tian merasa terkejut, kala tangan itu sudah sampai merogoh ke dalam celana. Cepat sekali pergerakannya dan tidak terasa.
__ADS_1
"Eh, Yang." Tian terperangah. Namun sesaat kemudian, dia lantas mendesaah. "Aahh, Yang ...." Itu disebabkan Nissa yang sudah memaju mundurkan miliknya di dalam sana. Kemudian dengan cepat, wanita itu pun menyembulkannya hingga keluar.
...Adooh Mbak Nissa ternyata Ommeess🙈. Kukira nggak🤣...