
"Ah Papa kayak kuat saja nangkap aku. Yang ada encok!" tukas Steven dengan bibir yang menggeriting. Dia terlihat benar-benar tak mempercayai Angga, jika pria yang menurutnya sudah tua itu pasti tidak akan bisa dan tidak akan mampu menopang tubuhnya dari atas.
"Sembarangan kamu kalau ngomong!" Angga menggerutu sambil berkacak pinggang. Tentunya, dia paling tidak suka diremehkan. "Papa nggak akan encok, Stev! Kan Papa sering minum obat dari Kakakmu. Itu obat mujarab banget."
"Kalau begini, kapan kita dapat mangganya? Kok ngobrol mulu?" tegur Juna yang sejak tadi memerhatikan perdebatan di antara anak dan ayah itu. Dia juga merasa sudah tak sabar ingin membawa beberapa buah mangga ditangannya untuk sang Oma dan Maminya.
"Bawel kamu, Jun! Diem kenapa sih?!" sentak Steven sambil melotot. Angga yang melihatnya langsung menepuk pundak kirinya.
"Udah! Sana manjat, Stev! Kita sudah cukup lama di sini dan ini sudah sore tau!" tegur Angga yang masih berusaha menyuruh anaknya.
Memang, mereka sudah menghabiskan waktu satu jam lebih. Hanya untuk sekedar berdiskusi mengambil buah mangga.
Angga yakin—jika Sindi, Citra dan Nissa di rumah pasti sangat menunggu mereka pulang dengan membawa mangga muda.
Steven membuang napasnya dengan kasar, kemudian perlahan melepaskan jas yang dia kenakan lalu memberikannya kepada Angga. "Janji awas, ya! Pokoknya aku nggak mau tau ... Papa harus nangkep aku kalau jatuh!"
"Iya. Bawel ah kamu! Manjat juga belum." Angga mendengkus.
Steven melepaskan kancing pada lengan kemeja panjangnya, lalu dia gulung sampai siku. Setelah itu barulah dia menuju badan pohon, lalu mulai naik pada batangnya sambil memegang beberapa dahan yang mencuat ke samping.
Dengan penuh hati-hati dan konsentrasi penuh, akhirnya beberapa menit kemudian Steven telah berhasil mencapai puncak pohon mangga tersebut. Keringat diwajah sudah bercucuran, kemeja yang dia kenakan juga terlihat sudah basah sekarang.
"Hole!! Om Even hebat!" Jordan menyeru sambil melompat-lompat dan bertepuk tangan, dia terlihat senang. Juna pun melakukan hal yang sama sembari mendongakkan kepalanya menatap Steven dari bawah.
"Tuh 'kan bisa kamu. Tinggal ambil saja, Stev," titah Angga sambil tersenyum.
__ADS_1
"Berapa mangga yang dipetik, Pa?" tanya Steven. Matanya berkelana menatap beberapa ranting di sana. Dia mencari-cari buah mangga yang jaraknya cukup dekat pada posisinya sekarang.
"Tiga mungkin cukup, Stev. Buat Mama, Nissa dan Citra," jawab Angga sambil memamerkan jarinya ke atas.
"Oke." Steven menarik ujung kemejanya yang terselip pada celana bahan. Nantinya kemejanya itu akan dijadikan tempat untuk menaruh buah mangga hasil dipetik. Dengan perlahan, dia pun menuju dahan pohon sebelah kanan, di sana rantingnya banyak sekali beberapa mangga muda yang bergelayut manja.
"Jangan tiga dong, Juna juga pengen, Opa!" pinta Juna merengek.
"Empat, Stev, sama buat Juna!" teriak Angga, saat anak bungsunya itu telah berhasil mengambil 3 mangga.
Tangan Steven perlahan terulur mengambil satu lagi, untuk Juna. Akan tetapi, Jordan justru ikut-ikutan kepengen juga.
"Joldan juga pengen, Om!" seru Jordan sambil menunjuk buah mangga yang paling besar di antara semua yang ada di pohon. Tapi semuanya masih muda.
"Kenapa? Olang Joldan kepengen."
"Nanti sakit perut. Kamu mau memangnya sakit perut? Mantan Papiku saja sakit perut sampai dirawat di rumah sakit tau!" seru Juna sambil menakut-nakuti. Matanya melotot tajam ke arah Jordan.
"Jadi apa nggak, nih, mangganya?" Steven yang masih di atas terlihat ragu untuk mengambil. Padahal sejak tadi tangannya sudah terulur untuk dapat meraih buah mangga yang Jordan inginkan.
"Jangan, Om!" teriak Juna dengan gelengan kepala.
"Bialin, Jun! Joldan pengen!" teriak Jordan.
"Jangan!" tekan Juna.
__ADS_1
"Bialin!" Jordan pun ikut bersikukuh menginginkan buah mangga itu.
"Jangan!"
"Bialin!"
Kedua bocah itu ujung-ujungnya saling berteriak dan suaranya membuat telinga Steven sakit. Wajah pria tampan itu juga terlihat merah, karena kesal pada tingkah kedua keponakannya yang menurutnya sangat rese itu.
"Udah ambilkan saja buat Jordan sekalian, Stev! Daripada nanti—" Ucapan Angga seketika terhenti, saat tiba-tiba saja terdengar suara Steven yang berteriak kencang.
"Astaghfirullah! Papa!"
Angga langsung menengadah ke atas, seketika bola matanya membulat kala melihat tubuh anak bungsunya itu oleng. Segera, dia pun membuka kedua tangannya, saat di mana Steven akan menjatuhkan tubuhnya.
Sayangnya, posisi dimana Angga hendak menangkap dan posisi Steven hendak jatuh itu berbeda arah. Steven ke arah kanan dan Angga ke arah kiri.
Alhasil, tubuh pria beranak kembar itu terhentak ke tanah. Dan seketika dia pun jatuh pingsan lantaran kepala belakangnya terbentur batu besar yang ada di sana.
Bruk!
Untungnya, buah mangga hasil dia petik tadi berhasil selamat, karena sejak tadi Steven memegangnya dengan erat.
"Astaghfirullah! Steven!" teriak Angga dengan membelalakkan mata. Dia yang merasa terkejut itu langsung menghampiri Steven dan berjongkok untuk meraih tubuhnya.
...Kasihan, Om Steven jadi korban 🤣 kalau begini siapa yang salah coba?...
__ADS_1