
Hai Guys 🤗 aku mau promo novel, soalnya masih banyak yang belum pada mampir.
Sinopsis~
Ihsan Maulana, pria sederhana yang memiliki wajah tampan keturunan bule.
Pernah merasakan patah hati, membuat Ihsan trauma untuk menjalin kasih kembali dalam waktu dekat, terutama kepada gadis yang memiliki latar belakang anak orang kaya.
Namun, suatu ketika dia tak sengaja menabrak seorang gadis yang tiba-tiba berlari di depan mobilnya dengan memakai gaun pengantin, hingga membuatnya langsung tak sadarkan diri.
Dokter mengatakan jika gadis itu amnesia.
Entah benar atau tidak, namun tingkah gadis itu begitu mencurigakan. Apalagi saat baru siuman dia malah mengatakan Ihsan adalah suaminya. Padahal, jangankan menikah, mengenal pun tidak.
Cuplikan bab~
Perlahan Ihsan duduk di sofa panjang, lalu merogoh ponselnya untuk menghubungi Irwan. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Halo, Om. Om bisa ke Rumah Sakit Harapan nggak? Aku nabrak seorang gadis, Om," ucap Ihsan saat panggilan telepon itu diangkat oleh seberang sana.
Suara Ihsan langsung membangunkan gadis itu dari ketidaksadarannnya. Namun, dia masih memejamkan mata. Seperti masih ingin mendengar percakapan Ihsan dari sambungan telepon itu.
"Nabrak?" pekik Irwan dengan keras. Dia tampaknya kaget. "Kok bisa? Kenapa ditabrak? Harusnya kamu tembak saja."
"Kejam amat. Aku menabraknya saja nggak sengaja, masa ditembak. Mati dong, Om."
"Bukan pakai pistol, tapi pakai cinta." Irwan terkekeh. Tampaknya dia malah mengajak Ihsan bercanda.
"Dih, Om. Aku serius. Cepat ke sini. Dokter juga malah mikir aku suaminya."
"Oke deh. Sebentar Om cebok dulu, ya, San."
Ihsan membelalakkan matanya. "Dih, Om lagi berak? Jorok amat, berak sambil ngangkat telepon."
__ADS_1
"Yang jorok itu kamu, sudah tahu orang lagi berak. Malah ditelepon."
"Mana kutahu Om lagi berak." Ihsan mendengkus kesal, lalu mematikan sambungan telepon.
Hampir sudah tiga puluh menit berlalu, tapi gadis itu tak kunjung membuka mata. Ihsan berjalan mondar mandir seperti setrikaan. Dia cemas dan gelisah, ditambah Irwan juga belum datang.
"Kemana sih si Om? Kok belum datang? Masa orang cebok sampai setengah jam," gumam Ihsan. Dia pun menghentikan langkahnya, lalu menatap gadis yang masih memejamkan mata itu. "Dia juga kenapa belum sadar?"
Kakinya melangkah maju, mendekati ranjang. Ihsan yang begitu penasaran itu pelan-pelan menyentuh tangannya. Niatnya bukan untuk berlaku kurang ajar, tapi untuk mengecek denyut nadi. Apakah masih ada atau tidak.
Gadis itu mencium aroma maskulin minyak wangi Ihsan. Jantungnya langsung berdebar dan perlahan dia pun membuka mata. Lalu mengerjap berulang kali menatap wajah tampan di depannya.
"Eh, kamu sudah sadar? Syukurlah." Ihsan mengulum senyum. Kemudian tak lama pintu kamar inap itu dibuka, dan masuklah Dokter berkacamata dengan Irwan. Namun di belakang mereka ada seorang perwira polisi.
"Lho, kok ada polisi? Om datang sama polisi?" tanya Ihsan bingung.
"Nggak." Irwan menggeleng cepat. "Om datang sendiri, tapi polisi ini memang kebetulan mau ke sini katanya."
Ihsan terbelalak, dia baru ingat dan segera dia pun melepaskannya. Lalu mundur beberapa langkah.
"Sayang, kok dilepas?" tanya gadis itu yang baru saja membuka suara. Dia menatap Ihsan dengan wajah bingung.
"Sayang?" Irwan sontak membulat matanya, mendengar nama itu. "Kamu kenal dengannya, San?"
"Nggak." Ihsan menggeleng cepat, lalu menatap gadis itu dengan kesal. "Kenapa kamu panggil sayang-sayang segala? Kita kenal juga nggak."
"Bukannya kita sudah menikah, ya? Kok kamu begitu sih, Sayang?" tanya gadis itu lagi.
"Apa yang kamu katakan? Gila kurasa!" berang Ihsan marah. Dokter itu pun mendekati gadis itu, lalu menatapnya.
"Nona kenal pria itu? Siapa Anda?"
"Dia suamiku, Dok. Kita baru saja menikah."
__ADS_1
"Tuh, Pak." Dokter itu menoleh ke arah Ihsan. "Dia bilang, Bapak suaminya. Berhenti untuk berpura-pura. Kalian pasti habis kawin lari."
"Kawin lari apanya, sih. Orang aku nggak kenal." Ihsan memegang lengan Irwan, lalu menariknya. Dia hendak keluar dari kamar itu namun dicegah oleh polisi.
"Bapak jangan pergi ke mana-mana, tetap di sini!" tekan polisi itu yang berdiri di depan pintu.
"Aku mau pulang, lagian aku juga sudah bertanggung jawab dan dia baik-baik saja."
"Aku ikut pulang, Sayang." Gadis itu lagi-lagi berucap dengan kata sayang. Sungguh menjengkelkan menurut Ihsan.
"Berhenti manggil sayang! Aku bukan sayangmu!" berang Ihsan, lalu menoleh kepada Irwan. "Om kok diam saja? Ayok bantu aku dong. Kita pulang saja dari sini."
Irwan mengangguk. "Pak, tolong biarkan keponakan saya pulang bersama saya. Dia nggak kenal dengan gadis itu, hanya korban tertabrak mobil dan dia sudah bertanggung jawab," jelasnya menatap perwira polisi.
"Nama Nona siapa?" tanya Dokter itu sambil memeriksa keadaan gadis itu. Dilihat dia menggelengkan kepala.
"Nggak tahu."
"Kok nggak tahu. Terus kalau nama pria itu? Siapa?" Jari telunjuknya Dokter menunjuk Ihsan. Bagaimana bisa dia mengakui istrinya kalau dia tidak tahu namanya sendiri.
"Aku juga nggak tahu namanya, nggak ingat. Tapi yang aku ingat ... kami baru saja menikah, Dok," jelas gadis itu.
"Kamu ini kenapa sih? Kok bohong?" Ihsan melangkah cepat menghampiri gadis itu, geram rasanya. "Buat apa mengaku-ngaku aku suamimu? Apa untungnya? Aku ini miskin, nggak punya apa-apa!"
"Pak! Jaga emosi Bapak!" tekan Dokter itu sambil menyentuh dada Ihsan. Jelas jika pria itu emosi sekali. Matanya saja sampai melotot menatap gadis itu. "Nona ini sepertinya mengalami amnesia, tapi yang dia ingat hanya Bapak suaminya. Tapi nama dia dan Bapak, dia nggak ingat."
Kedua tangan Ihsan mengepal kuat, dadanya terlihat naik turun. "Sudah kubilang berapa kali kalau aku bukan suaminya! Kenapa Dokter terus memojokkanku?"
"Kalau Bapak nggak mengakuinya, mari ikut saya ke kantor polisi!" pungkas perwira polisi.
...judulnya "Mendadak Jadi Suami" ada di aplikasi Fizzo, ya! gratis sampai tamat. kuy mampir~...
__ADS_1